Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
pengakuan


__ADS_3

Masih ada beberapa jam sebelum matahari terbit tapi Adrian sama sekali belum barang sedetikpun memejamkan mata. Asupan kafein berlebihan yang dikonsumsinya tadi siang sedikit banyak menjadi penyebab itu semua.


Tidak tidur bukan hal baru dalam hidupnya. Ia telah memulai rutinitas buruk ini sejak bertahun-tahun lalu, kapan tepatnya Adrian tidak benar-benar ingat. Dibandingkan itu pertanyaan lebih mendasar adalah kapan tepatnya ia tidur yang benar-benar tidur? Seperti para bayi? Sudah sangat lama.


Bangun dari posisi berbaring setelah aktivitas panas dengan perempuan baru lainnya. Adrian menarik asal pakaian yang bertebaran melirik tak berminat sekilas pada perempuan yang berantakan itu.


Pada bidang yang mampu dilihat matanya. Rumah besar keluarga Baskoro bediri gagah seperti singa yang mengintimidasi rumah kecilnya. Sudut bibirnya tertarik sejenak dan menjadi satu garis lurus saat pikirannya melayang pada pembicaraan beberapa hari lalu.


Peraturan konyol yang dibuat keluarga istrinya. Adrian tanpa sadar melepas napas kasar saat memikirkan istrinya. Ada perasaaan tajam yang menusuk harga dirinya begitu wajah gadis itu terbayang dalam benaknya. Istri, pikirannya mencemooh kasar. Baskoro dan cucu perempuan bungsunya telah menggores harga dirinya sebagai laki-laki. Bahkan jika pernikahan itu tidak benar-benar sebuah pernikahan. Kedua orang itu telah menghinanya dengan peraturan itu. Mereka telah bertindak seolah Adrian sangat tidak layak untuk keluarga mereka yang terhormat.


Adrian berjalan mendekati jendela memandang jauh ke rumah seberang tepatnya ke bangunan sayap bagian kiri. Pikirannya tak mau berhenti menggambarkan wajah sang istri. Tidak peduli bagaimanapun ia mengusirnya.


Rasanya seperti gadis itu adalah maghnet dan dirinya besi malang yang ditarik tanpa bisa melawan. Dante sempat mengejeknya gara-gara itu, membuat asumsi absurd tentang bagaimana kemungkinan dirinya sudah jatuh cinta. Namun Adrian paham betul perasaanya. Ia boleh jadi tertarik karena gadis itu berbeda tapi jatuh cinta rasanya masih sangat jauh.


Dibandingkan dengan terpesona perasaan yang menggelegak dalam dirinya sekarang adalah kemarahan yang ia tahu apa penyebabnya. Namun enggan ia akui. Adrian terlahir sebagai pendominasi dalam hal apapun. Ia tidak akan merasa terintimidasi oleh hal-hal sepeleh seperti gagal menundukkan seorang gadis kecil dan kakek-kakek tua, seharusnya, tapi mengapa sekarang ia merasa kacau?


Berhari-hari ia merenung mencari pencerahan tapi tak pernah ada jawaban logis. Mengapa keinginan kuat untuk melihat sang istri, berbicara padanya, tak tertahankan. Saking frustasinya ia tentang perasaannya sekarang, Adrian bahkan sedang berhalusinasi bahwa istrinya ada di taman rumahnya. Duduk manis dengan baju piyama polkadot kebesaran di tubuhnya. Angin malam memainkan rambutnya yang panjang lurus miliknya dan ...


Sejenak Adrian mengerjap, kafein tidak menimbulkan efek halusinasi dan ia tidak sedang dalam pengaruh alkohol. Kekurangan tidur juga sepertinya tak ada hubungannya. Jadi satu-satunya penjelasan mengenai sosok di hadapannya itu adalah gadis itu memang di sana.


Apa yang sedang ia lakukan? Dini hari begini?


Langkah kaki Adrian tampak setengah hati menghampiri sang istri yang belum menyadari keberadaanya. Gadis itu masih fokus pada entah apa yang dipandanginya.


"Sedang apa kau di sini?"


Neta tersentak, menoleh perlahan, menatap tamu tak diundang yang baru saja bergabung. Pandangannya menilai, mempertanyakan sense pakaian tak biasa Adrian. Kaos oblong abu-bau dan celana panjang hitam longgar, setelan yang biasa digunakan orang-orang saat joging.


Di sisi lain, Adrian yang mendapat respon dingin itu mengartikannya sebagai pengusiran halus. Mata gadis itu menunjukkan sorot terganggu.


Lihat itu? Pikiran Adrian mencibir sinis pada diri sendiri. Gadis itu tidak menginginkan keberadaannya. Ia berbalik memutar haluan seharusnya ia tidak perlu merepotkan diri dengan menyapanya.


"Adrian!"


Panggilan itu bernada biasa tapi entah bagaimana memberi efek luar biasa padanya. Adrian mengerang frustasi menyadari reaksi menyedihkan saraf-saraf tubuhnya saat mendengar suara gadis itu menyebut namanya. Seolah kata-katanya adalah perintah mutlak, Adrian meringis masam menyaksikan tubuhnya dengan patuh berbalik hanya gara-gara satu panggilan.


"Papa bertanya soal dirimu ..." Jedah oleh helaan napas berat. "Ia mengatakan akan memberimu pelajaran kalau kau berbuat jahat."

__ADS_1


Adrian mengerenyit sesaat, mengabaikan hawa tak nyaman yang ia rasakan dari sorot mata mengawasi Neta saat ia duduk di sebelahnya. Adrian mengetatkan rahang saat merasakan hangat samar dari tubuh di sebelahnya.


"Itu bagus, sudah seharusnya bagi seorang ayah melakukan itu."


"Tidak ..." Angin dingin menggigit kulit lengan Neta yang telanjang di sisi satunya. "Tidak biasa untuk seorang Hazar Baskoro."


Nada suaranya tenang tapi entah bagaimana Adrian bisa mencecap secercah kepedihan di dalamnya.


"Kamu tidak akrab dengan papamu?"


Lebih dari itu, pikir Neta muram. Pria itu tidak mengakuinya pada awalnya dan mengabaikan dirinya di sepanjang prosesnya, tapi kemarin.


"Dia tidak melihatku sebagai putrinya selama ini dan tiba-tiba saja bertingkah sebagai papa yang perhatian."


Membuat perasaanya campur aduk. Hal yang sama juga pernah terjadi beberapa tahun lalu saat identitasnya di pertanyakan dan ketika hasil ilmiah itu membuktikan apa yang diragukan. Neta menangis oleh rasa lega dan marah disaat bersamaan. Ia lega bisa membungkam mata-mata merendahkan dari orang-orang, mulut-mulut pedas anggota keluarga Baskoro. Namun di sisi lain ia ingin marah pada Tuhan karena telah menjadikan Hazar Baskoro sebagai sumber utama daranya.


"Nah, mulailah belajar untuk menerima dirinya. Kamu mungkin akan sangat membutuhkannya nanti.


Neta mengulas senyum, menyaksikan sala satu kamar di rumahnya menjadi gelap. Seseorang baru saja tidur, pikirnya muram, tapi aku tidak bisa.


"Hmm!"


"Kenapa tidak kembali tidur saja? Besok kamu sekolah kan."


Neta menggeleng kecil. Rasa ngantuk telah memutuskan menyerah menghampiri dirinya semenjak percakapan dengan sang ayah. Ia terus terjaga dengan perasaan sentimentil yang membanjiri dirinya mengalahkan logika yang selama ini bertakhta.


Neta melirik Adrian dalam, sekali lagi mengulas senyum saat melihat sesuatu yang menempel di leher Adrian.


"Mate," bisiknya kecil.


Adrian mengangkat alis tidak mengerti ke mana kata-kata itu ditujukan.


"Perempuan itu memakai lipstik tipe mate."


Sentuhan lembut di lehernya atau kata-kata tak terduga itu, Adrian tidak tahu mana yang lebih menyengat. Dalam pantulan mata jernih Neta Adrian bisa melihat bagaimana ekpresinya yang mengeras dan Ia tanpa sadar mengepalkan tangan erat.


"Aku penasaran mengenai sesuatu. Bisa jawab jujur?"

__ADS_1


Bahu Adrian praktis menegang mewaspadai kemungkinan pertanyaan yang akan datang yang mana tak dilewatkan oleh Neta. Ah, lihatnya pria yang dipuja-puja kakaknya ini sampai saling mencelakai. Betapa lucunya pikir Neta.


"Tergantung."


Adrian bersumpah ia melihat kilatan yang sama dengan saat di kafe waktu itu dalam sorot mata Neta. Gadis itu akan memukulinya dengan kata-kata lagi sekarang.


"Apa yang menyenangkan dari meniduri para perempuan, berbeda-beda di setiap waktunya?" Neta memiringkan wajah menaruh perhatian sepenuhnya. "Maksudku, bukankah itu sama saja? Kau menusuk, mengigit, dan memegang di tempat yang sama?"


Adrian meringis mendengar pilihan kata-kata yang begitu frontal. Apakah kebetulan gadis imi sadar dengan kata-katanya sendiri?


"Tidak ..." Adrian menarik napas berat, pertanyaan itu membuat kepalanya sakit. Mengapa ia harus lupa kalau urusan memojokkan orang lain gadis itu sangat ahli.


"Itu sama seperti kebutuhan makan dan minum." Adrian berhenti sejenak, berhati-hati dalam memilih kata. Topik pembicaraan mereka agak tabu dan ia tidak ingin dianggap sebagai penjahat kelamin yang sedang mengajarkan cara praktek hubungan dewasa pada korbannya. Terlebih dalam situasi mereka yang masuk kategori pedofil.


"Itu datang dengan sendirinya. Hal yang membuat perempuan satu dan yang lainnya berbeda itu proses racikannya."


Oke, Adrian benar-benar kehilangan wajah sekarang dan perutnya melilit memikirkan dengan siapa ia membahas hal memalukan itu.


"Seperti makanan, mereka dibuat dari bahan dasar yang sama dan yang membuatnya berbeda itu bagaimana kemampuan para koki dalam mengolahnya, begitu kan?"


Analogi sederhana yang sangat sempurna. Adrian bertepuk tangan mendapati pikiran cepat tanggap sang istri.


"Yah, tempat di mana makanan itu dihidangkan menunjukkan kelasnya."


Kata-kata Adrian mengacu pada pengertian yang berbeda tapi Neta menangkap maknanya dengan baik. Ia mengulum senyum manis membiarkan Adrian mempermalukan diri lama-lama. Setelah ini Neta akan membuat daftar hukuman untuk suami macam Adrian dan akan meminta bantuan Deandra untuk menguploadnya di internet.


Tata cara menghukum suami yang ketahuan berselingkuh dengan cara memalukan. Neta mengigit pipi bagian dalam menahan kuat keinginan untuk tertawa.


"Lalu, di mana tempat yang paling istimewa?"


"Di rumah. Pria yang memiliki koki pribadi." Udara malam semakin dingin tapi entah bagaimana Adrian merasa gerah. Ia butuh mandi es sekarang. "Tapi tidak semua orang beruntung menemukannya."


"Jadi kau belum menemukan koki yang tepat?"


Dalam diam Neta mencibir, tentu saja pria itu tidak. Ia terlalu pemilih dan tidak akan ada perempuan cukup layak untuk mengisi dapurnya.


"Sudah, tapi dia memilih mengisi dapur yang lain."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2