
Kafe sederhana bertuliskan Ak itu berdiri menyempil di antara gedung-gedung pencakar langit. Mungil sendirian terindimidasi oleh raksasa besi di kedua sisinya. Namun tak serta merta menjadikannya tak terlihat, sebaliknya itu sangat mencolok.
Dominasi merah gelap menghiasi kusen kayu yang menyanggah kaca-kaca mengkilap di tengahnya. Sementara cat utama temboknya berwarna beigde kalem. Sepasang pintu dorong yang sesekali membuka tertutup saat pelanggan berdatangan.
Di sala satu bangku kayu berpelitur emas tampak seorang pria berpakaian mewah. Setiap mata yang tak sengaja memandang akan terpesona dan tahu bahwa ia jelas dari keluarga terpandang. Pria itu, Adrian Admaja, tampak sedang menunggu seseorang. Terbukti dari banyaknya jumlah kepalanya menatap jam di dinding. Ekpresinya agak kusut yang mungkin akan meledak dalam beberapa menit, tergantung apakah seseorang yang ditunggu segera hadir atau tidak.
Ia melirik tajam karyawan malang yang hendak menanyakan menu pesanan. Mengusir tanpa kata agar tidak diganggu. Sekali lagi Adrian melirik jam yang tergantung di dinding, bersumpah akan angkat kaki dari sana jika menit berikutnya yang ditunggu tak datang.
Untungnya sosok yang memiliki temu janji dengannya muncul sepuluh detik kemudian. Ia tidak sendiri ada seorang gadis lain yang tidak Adrian kenal bersamanya.
Ekspresi Adrian mengelap saat menyambut keduanya yang memasang wajah tanpa dosa. Satu dari sekian banyak kebiasaan jelek orang Indonesia khususnya remaja. Suka menyeret waktu janji. Adrian pasti akan memberi setidaknya satu atau dua patah kata pedas pada orang itu jika saja tidak ingat kalau itu istrinya.
"Maaf, ya, mas. Tadi kita tersesat."
Neta tersenyum sungkan menatap Adrian yang seakan hendak melemparkan kursi padanya. Di sebelah Deandra masih memasang tampang tanpa dosa padahal gara-gara dirinyalah mereka terlambat.
Adrian tahu itu hanya sekedar alasan karena hanya orang yang tidak mengenal gadget yang bisa tersesat di zaman di mana pemandu elektronik tersedia sepanjang waktu. Namun mendebat hanya akan membuang waktu lebih lama, ia butuh penyelesaian cepat dari apapun yang hendak dilakukan sang istri.
"Aku hanya punya waktu dua puluh menit jad langsung saja ke intinya."
Adrian menutup semua basa-basi menghemat waktu. Istrinya bilang itu tak akan lama dan darurat jadi ia setuju menyisihkan waktu untuk menemuinya.
"Tapi kami lapar, boleh memesan dulu? Aku tidak yakin bisa berkonsentrasi saat perut kosong."
Deandra menyela tanpa membaca suasana hati Adrian atau mungkin memang di sengaja. Sejujurnya ia tidak benar-benar peduli soal tugas wawancara Deandra hanya penasaran mengenai sosok suami yang sahabat.
"Aku tidak punya banyak waktu."
Salah siapa datang terlambat? Adrian berusaha keras menahan diri agar tak merusak suasana walau sebenarnya ia dongkol setengah mati. Seorang Adrian yang super sibuk, yang harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin menemuinya, tapi malah di suruh menunggu lebih dari sepuluh menit oleh dua gadis bau kencur. Dante akan mengejeknya habis-habisan jika tahu masalah ini.
Deandra menyenggol Neta mengisyaratkan untuk bernegosiasi dengan Adrian. Namun Neta menggeleng pelan menolak. Jadilah kedua gadis itu saling melotot melempar tanggung jawab. Di hadapannya Adrian mendengus pelan, merasa bodoh menghabiskan waktu untuk menunggu kedua gadis yang bahkan bicara saja harus saling tunjuk.
"Kalian bisa makan setelah itu." Adrian mendecak tak sabaran. "Jadi, apa tujuan kalian meminta bertemu?"
__ADS_1
"Kami butuh narsisme dari orang berprestasi dan bisa jadi panutan untuk tugas sekolah. Berhubung anda memenuhi sarat untuk semuanya jadi kami memutuskan menemui anda."
Adrian mengerenyit mendengar penjelasan aneh bernada formal itu. Di depannya sang istri menggigit bibir menahan tawa. Adrian malang, pikirnya tak benar-benar prihatin. Deandra memang terkenal akan pemilihan katanya yang terlampau deskriptif hingga hanya orang tertentu yang bisa mencernanya. Ia akan memaklumi jika sekarang Adrian pasti pusing mencernanya.
Neta memang sempat menolak keras permintaan Deandra mengenai wawancara dengan Adrian tapi setelah mengingat kejadian beberapa malam lalu. Ia tak memiliki pilihan kecuali setuju Deandra mengancam akan melakukan hal yang lebih ekstrim lagi jika menolak.
"Tidak perlu bertanya soal identitas, nona di sana sudah lebih dari sekedar tahu. Jadi langsung ke pertanyaan inti saja."
Mengabaikan segala hal merepotkan tak penting itu. Adrian duduk angkuh enggan membuang waktu lebih lama lagi.
Di tempatnya Deandra merengut masam, tidak sekalian suruh cari di google saja, pikirnya. Mengeluarkan kertas dan pena secara kasar. Matanya menatap Adrian garang diam-diam mencibir, memaklumi mengapa Neta sahabatnya benar-benar tidak menyukai pria ini. Keduanya kemudian berbagi tugas Deandra sebagai penanya sedangkan Neta sebagai pencatat.
"Mengapa anda memilih menjadi seorang arsitek dibanding profesi lainnya? Apa keistimewaan seorang Arsitek?"
"Karena saya genius dan Arsitek diciptakan untuk orang-orang dengan kapasitas otak seperti saya."
Deandra melongo sementara Neta berhenti menulis. Ekpresi keduanya yang seperti orang bodoh itu membuat Adrian menyeringai senang. Kedua gadis ini bilang butuh orang narsis bukan? Nah Adrian akan senang hati melakoni peran itu.
"Oke next." Deandra mengkerut masam, cacing diperutnya sudah berdisko dan sikap songong pria di depannya ini kian memperburuk keadaan. "Apa kendala terbesar yang anda hadapi selama menjadi arsitek?"
Jawaban pendek itu membuat Neta mencengkram erat penanya. Sebagai penanya Deandra sendiri tak kalah kesal dibuatnya, ia bahkan sampai harus menarik napas berkali-kali. Tenang, bisiknya pada diri sendiri.
"Bagaimana dengan inspirasi? Dari apa saja anda biasanya mendapatkan inspirasi?"
"Dari apapun."
Adrian terkekeh geli mendapati wajah keduanya yang memerah gara-gara emosi. Ia sengaja menjawab pendek-pendek guna membuat keduanya kesal. Hukuman memang selalu manis bukan?
"Sejauh ini adakah pengalaman paling berharga yang tak akan anda lupakan seumur hidup selama menjalani profesi sebagai arsitek?"
"Semuanya berharga."
Oke, Deandra tak tahan lagi. Pria ini benar-benar menyebalkan. "Permisi, perut saya sudah tidak mau berkompromi lagi."
__ADS_1
Deandra berdiri kasar menghentakkan kaki di sepanjang dalam menuju toilet. Bibirnya sendiri mengumpatkan berbagai makian membuat beberapa orang yang tak sengaja berpapasan dengannya menciut kecil. Ia tampak seperti ibu rumah tangga yang baru selesai masak dan ikannya dicuri kucing.
Lain hal dengan Deandra yang sukses melepaskan emosinya. Neta yang terlambat dalam bergerak harus diam pasrah terjebak bersama Adrian. Tak mungkin baginya mengambil alasan yang sama. Ia duduk dengan tangan mengepal kuat. Tak perlu dipertanyakan apa isi kepalanya karena ekpresinya sudah menunjukkan semuanya.
"Kau tidak ingin menanyakan hal lain, nona? Kehidupan pribadi, nama istriku misalnya?"
Adrian masih mempertahankan seringai, menggoda istrinya yang sudah seperti anak anjing yang ekornya tak sengaja diinjak. Ia melotot garang mengancam dengan tampang yang malah membuatnya sangat lucu.
"Tidak perlu. Kami sudah mendapat point' utamanya. Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu berharga anda."
Neta menyibukkan diri dengan berbagai hal guna mengusir rasa ingin meledak di dalam dirinya. Ia memanggil seorang pelayan meminta jus buah dingin selagi membereskan meja.
"Anda sudah bisa pulang."
Adrian bergeming diam-diam menikmati tingkah sang istri yang menolak menatapnya. "Kau yakin nona? Ini kesempatan langkah, tidak setiap hari bisa mewawancarai seorang Adrian Admaja."
Rasanya Neta ingin sekali mengukir sebuah maha karya pada wajah songong suaminya itu. Ia tahu pria itu sengaja mempermainkan dirinya. Apakah ia sedang coba membalas dendam gara-gara acara ulang tahunnya di rusak? Kalau ia sungguh kekanakan.
"Saya sangat menghargai niat baik anda, tapi tidak perlu."
Susah payah Neta menampilkan senyum sopan, dalam benak mengutuk Deandra yang terlalu lama di toilet.
"Sayang sekali. Baiklah kalau begitu saya pamit."
Adrian berdiri melirik jam di dinding sesaat lalu memusatkan pandangan pada istrinya yang tampak menghela napas lega. Rengutan di bibirnya sudah hilang sepenuhnya.
"Oh, benar. Mengenai masalah pembayaran. Saya akan menghubungi anda lagi berapa biayanya."
"Apa maksudmu?" Neta memotong cepat, memicingkan mata. Tidak ada pembicaraan mengenai itu sebelum ini. Ia juga tidak pernah mendengar bahwa mewawancarai seseorang itu harus membayar.
Adrian tersenyum kecil mendekatkan wajah pada gadis di depannya. "Bayaran, kau tidak berpikir ini akan jadi gratis, kan? Nyonya Admaja."
Ia sengaja menekankan kata 'nyonya Admaja' lalu mengecup pipi putih istrinya.
__ADS_1
TBC.