Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Dalang utama.


__ADS_3

Sejak dulu Neta selalu merasakan sensasi tak nyaman setiap kali berhadapan dengan Vita satu lawan satu. Makanya ia sebisa mungkin menghindari moment itu. Di antara saudaranya yang lain Vita punya semacam aura menakutkan di balik penampilan anggunnya. Cara matanya menatap, kata-kata saat berbicara, rasanya seolah ia memaksa orang lain untuk tunduk. Ada kesan tidak menyenangkan dari kecantikannya yang serba memukau itu.


"Kak, Vita bilang penting, apa yang ingin dibicarakan?"


Neta sudah belajar mengendalikan ekpresi saat berhadapan berdua dengan Vita dan itu nyaris menarik fokusnya secara penuh. Salah sedikit perhitungan saja Vita akan membuat situasi dibawa kendalinya.


"Minum, dulu." Ia menggeser gelas teh harum yang uapnya masih mengepul ke depan Neta. Masih mempertahankan senyum. "Neta tidakkah sikapmu yang terlalu curiga sama kakak ini agak berlebihan?"


"Maaf, kebiasaan lama susah dihilangkan. Aku kadang masih sulit mengendali kan diri, kuharap mbak maklum."


Neta meraih cangkir teh meneguknya perlahan. Rasa manis dalam takaran yang seimbang itu seketika memenuhi pikirannya. Kurasa kak Vita benar, pikirnya sekali lagi meneguk teh. Memandang saudara sendiri sebagai orang yang patut di waspadai dan berbicara padanya seolah musuh sangat keterlaluan.


Vita bertopang dagu matanya mengunci pandangan pada wajah sang sepupu. Pipinya masih berisi mengikuti usianya dengan garis rahang tegas, berhiaskan sepasang bola mata besar. Rambutnya sendiri meluncur lembut di kedua sisinya dengan poni samping di atas alis, cantik, pikir Vita.


Wajar jika Adrian sampai tergelincir pada pesonanya. Namun apa yang paling membuat Vita tidak berani meremehkannya adalah kepribadiannya yang tenang, dan tabah, seolah betapapun dunia bersikap jahat padanya. Ia tetap akan menjadi manusia penjelmaan malaikat, menyebalkan.


"Sudah lihat berita pagi ini?" Vita menembak langsung ke poin utama.


Neta mengangkat pandangan, mengira-ngira apa rencana Vita lalu mengangguk. "Kania bebas, kakek dan ayah mendapat keuntungan bisnis, dan aku mendapat skors. Sangat tidak adil."


Neta tidak menyembunyikan kekecewaan dalam kata-katanya. Itu benar-benar murni dari hati dan matanya menyala oleh rasa jijik besar ketika menyebut walinya sendiri. Bagaimana bisa mereka menyebut diri keluarga sementara dirinya diperlakukan tidak lebih dari sekadar properti yang diabaikan jika tidak berguna.


Sentimen gelap dalam sorot mata Neta tak dilewatkan oleh Vita. Perempuan itu menarik sudut bibir memikirkan bagaimana membuat itu semakin besar agar ia bisa mendapat keuntungan dari itu juga. "Kau akan membiarkan ini begitu saja? Kakak rasa Kania pantas menerima sesuatu, ia sudah sangat keterlaluan bukan."

__ADS_1


Ekspresi Neta agak mendung dan kata-katanya terdengar tidak yakin saat berbicara. "Entah, apa yang menyenangkan dari membalas dendam? "


Neta sudah memikirkannya di sepanjang waktu kosong tentang sebuah pembalasan, bahkan beberapa kali mengimajinasikan adegan seperti di drama romansa. Untuk sesaat ia merasa itu keren tapi yang timbul setelahnya hanya perasaan hambar. Kesenangan sesaat, jika benar-benar ingin menghukum Neta berharap itu sesuatu yang memberi dampak besar pada hidup Kania.


"Tapi aku tidak bisa menjamin tidak akan memukulnya kalau bertemu."


Alis rapi Vita bertaut raut wajah ramahnya serta merta berubah mendengar jawaban santai yang tak masuk akal itu. Ia tahu sepupunya itu punya sikap tabah yang besar berkat masa lalunya tapi memandang sebuah pelecehan dan ketidakadilan dengan begitu dingin? Hati seperti yang yang di miliki adiknya itu? Jika dikatakan ia baik, Vita rasa itu tidak tepat. Ia bisa melihatnya kegelapan tersembunyi dalam diri Neta tapi bagaimana itu bisa menghilang begitu cepat? Itu diluar prediksinya.


"Kakak akan membantu sebisanya." Vita meraih jemari Neta yang bebas meremasnya sebagai bentuk dukungan. "Kemarin kakek bicara dengan kakak. Ia berpikir kau butuh psikolog untuk menangani trauma, biar bagaimanapun pelecehan pasti meninggalkan bekas dan kakak datang untuk bertanya langsung kau mau atau tidak. Kebetulan Kakak punya teman di rumah sakit."


Bibir Neta berkedut, sementara dadanya melejit dalam sentakan emosi panas yang menyala-nyala. Kenyataan bahwa Vita menyinggung mengenai pelecehan sedangkan hanya empat orang tidak termasuk para pelaku yang mengetahuinya hanya menjelaskan satu alasan. Namun Neta tidak mau gegabah dalam menyimpulkan lebih-lebih menunjukkannya. Bahkan jika dugaannya benar ia masih harus bersikap seolah tak menyadarinya.


Vita punya tujuan lain saat mengatakannya entah itu sengaja memancing untuk memberitahu bahwa ia dalang utamanya atau hanya sekedar keceplosan semata. Neta harus menanggapinya dengan tenang, matanya bergeser jauh menatap pelayan yang sedang mencatat pesanan seorang pelanggan. Ia kemudian menggulirkan lagi secara acak mengamati desain ruangan kafe. Apapun asal bukan wajah cantik di hadapannya. Ia harus memberi jawaban atau Vita akan mulai menaruh curiga.


"Jangan sungkan." Vita tersenyum lembut. "Oh, benar kakak punya satu alasan lain mengapa meminta bertemu."


Neta balas tersenyum menunggu dalam kesabaran mengagumkan. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kejutan apapun yang akan Vita tunjukkan tapi ketika itu benar-benar datang. Neta gagal merasa seluruh darah di wajahnya tersedot.


"Mas, Leo?"


Pria yang merupakan kejutan lain Vita itu berdiri canggung. Tampak ia juga tidak menduga situasinya.


"Lama, tidak ketemu. Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


Itu hanya basa-basi dan Neta rasa ia cukup menanggapi dengan senyum ramah. Ia butuh penjelasan dari kakaknya terkait keberadaan pria itu di sini sebelum otaknya mulai merinci kecurigaan lain.


"Kami mulai berkencan." Vita mengumumkan segera menyadari tatapan tak sabaran dari wajah adiknya. "Dan berencana meminta restu kakek untuk jenjang serius."


Kepala Neta penuh oleh berbagai pertanyaan tapi ia mendorongnya pergi secepatnya. Suaranya agak kaku saat berbicara. "Itu bagus, aku senang mendengarnya. Selamat untuk kalian berdua."


Apa yang sedang terjadi di sini?


Atmosfer berat menggantung setelahnya. Itu sudah beberapa menit berlalu. Setelah pengakuan mengejutkan itu. Semua orang di meja tampaknya sedang menahan diri masing-masing. Adrian sudah memperkirakan Dante akan lepas kendali tapi ia tidak bisa menceritakan situasinya dengan jujur. Terlebih dengan keberadaan Kania sekarang.


"Kau gila." Dante melepaskan kata-kata selagi menunjuk Adrian. "Bisa-bisanya kau berubah jadi pria menyedihkan."


Dante tidak bisa menerimanya, Adrian merelakan perusahaan demi menyelamatkan Kania. Walau hanya beberapa persen Dante tetap saja memiliki hak di AA group dan temannya membiarkan Baskoro mengambilnya tanpa berdiskusi padanya. Demi seorang perempuan pula.


"Kau tidak akan peduli meski bagaimanapun aku meneriakimu. " Dante berdiri dari kursi melemparkan pandangan dingin pada Kania. "Aku selesai, aku tidak akan peduli lagi bahkan jika suatu hari nanti kau kehilangan nyawa gara-gara perempuan menjijikkan ini."


Dante mengakhiri dalam satu tarikan napas meninggalkan AK kafe dengan kasar. Helaan napas terdengar mengiringi kepergian Dante. Kedua pria yang tersisa hanya saling pandang sedangkan satu-satunya perempuan di sana terdiam dengan wajah menahan tangis.


Pikiran Adrian memintanya untuk mengejar Dante dan menjelaskan agar kesalahpahaman tidak semakin lebar. Namun kakinya tidak mau bergerak seolah ada suara tak kasat mata yang membisikinya untuk diam.


"Maaf, maafkan aku." Kania terisak di kursinya. wajahnya sembab. Perkataan Dante di sepanjang. jalan berputar dalam memorinya.


Rayden sendiri memilih menenangkan diri dengan meneguk Kopi yang terbaikan. Rasa pahit yang menyerbu tenggorokannya memberikan rasa rileks tersendiri. Andai saja Adrian memilih menyelesaikan dengan cepat dan bukannya sok-sok memancing dalang utama untuk keluar sendiri. Pasti keadaanya tidak semerawut begini.

__ADS_1


__ADS_2