
Seluruh ruangan nyaris gelap hanya satu layar laptop yang menyela redup sebagai peneranga. Duduk di depannya mata tajam Vita membaca cepat deretan komentar yang tertera. Rata-rata dari para pengguna akun mencemooh dan beberapa menjadikannya lelucon tapi tetap saja semuanya merusak masa depannya.
Tangannya mengepal erat menatap marah pada layar seolah itu sosok pria yang ingin ia hancurkan.
"Sialan! Adrian sialan!"
Berdiri dengan kelas Vita melempar benda elektronik malang itu ke dinding hingga jatuh hancur pasrah di lantai. Berteriak dengan tubuh yang bergerak mondar-mandir Vita menggigit gugur matanya menatap liar.
Dirinya terkecoh, sangat menyebalkan. Ia pikir diamnya Adrian selama beberapa bulan ini sebab pria itu sudah sepenuhnya kalah. Namun ternyata pria itu hanya berpura-pura lalu diam-diam mengumpulkan amunisi dan menyerang balik. Ia sudah terlalu meremehkan Adrian.
"Aku pasti akan membalasnya, pasti." Vita berteriak lagi menambah kekacauan pada ruangan gelap itu maupun dirinya sendiri.
Ini bukan hanya sekedar menghancurkan masa depan yang sudah payah ia bangun. Adrian telah menghinanya sebegitu besar dengan membuka aibnya. Tidak akan pernah ia lupakan dan cibiran orang-orang di rumah sakit tadi pagi juga. Vita bersumpah akan membalas dengan cara menyakitkan hingga Adrian memohon padanya bersama wajah sekarat. Ia tahu setidaknya satu kelemahan Adrian dan akan memanfaatkan orang itu.
Meraih cepat gadgetnya, Vita menyentuh layar bertuliskan nama sala satu anggota keluarganya. Bibirnya sedikit tertarik, Adrian tidak memberinya pilihan kecuali menggunakan adik sepupunya itu. Cukup lama bunyi 'tut' menghiasi pendengarannya sampai akhirnya panggilan itu dijawab.
"Neta, kakak butuh bantuan, bisakah kau datang kemari? Ini darurat."
Vita sengaja menambah nada panik agar gadis itu terperdaya. Bahkan jika hubungan mereka tidak begitu akrab keduanya masihlah saudara tidak mungkin Neta menolak permintaanya apalagi ini akan membawa dampak bagi keluarga besar Baskoro.
"Kirimkan saja alamatnya, Vita, aku akan dengan senang hati menemuimu."
Suara tenang yang menjawab di sisi lain panggilan membuat bola mata Vita melebar beberapa detik, mengumpat kesal. Pria itu tampaknya sudah mengantisipasi segala bentuk usaha melawannya.
"Bagaimana kau bisa memiliki ponsel Neta? Adrian."
"Menurutmu?" Nada mengejek terdengar dan Vita merasa di permainkan. "Tikus yang terpojok memang mudah ditebak ya."
Vita bisa membayangkan Adrian tengah menyeringai ujung lain suara dan itu semakin membuatnya geram. Pria ini, Vita tahu bahwa Adrian tidak pernah setengah hati ketika melakukan sesuatu. Namun bagaimanapun, dirinya keluarga Neta dan ia cukup yakin Adrian akan mempertimbangkan walau satu persen bahwa itu akan menyakiti adiknya juga jika Vita terluka.
"Bajingan!"
__ADS_1
Vita mematikan sambungan cepat berteriak frustasi. Baiklah, Adrian tidak memberinya pilihan, Vita membuka pintu ruangan dengan kasar sementara matanya berkilat tajam seperti pedang yang baru diasah. Kau yang meminta ini, Adrian pikirnya dingin.
Adrian mengerutkan dahi pada sambungan yang tiba-tiba terputus. Menyeringai kecil ketika bayangan frustasi Vita melintas, lantas mengalihkan pandangan pada sosok yang terlelap di depannya.
Niatnya cuma ingin membuat gadis itu tertidur tapi tak di sangka ia malah mendapatkan hal lain. Tangannya meraih gadget miliknya sendiri menghubungi seseorang.
"Aku ingin kau melacak keberadaan Vita dan kirimkan lokasinya padaku."
Jika Vita memutuskan menghubungi Neta diam-diam pasti perempuan itu akan melakukannya lain kali. Mata Adrian menggelap sepertinya ia tak punya pilihan selain membungkam perempuan itu.
*
*
Pada awalnya Neta hanya menganggap itu mimpi atau ilusi sesaat karena kurangnya waktu tidur beberapa hari terakhir. Namun ketika langit-langit asing yang dilihatnya tak kunjung berubah tidak peduli berapa banyak ia berkedip. Ia mau tak mau menerima bahwa itu bukan ilusi atau apapun, langit ruangan yang asing itu nyata dan dirinya telah di bawah entah ke mana.
Merasakan kelelahan mengambil begitu banyak tenaga Neta hanya memejamkan mata dalam posisi berbaringnya. Percuma juga ia mencari tahu sekarang tidak akan mengubah kenyataan. Ia tetap diam dalam posisi itu hingga dua puluh menit lamanya dan memutuskan bangun ketika sudah puas.
Beberapa bulan lalu dirinya mengalami kondisi sama terbangun di ruangan asing. Dengan konyol ia berpikir bahwa telah di bawah ke dunia fantasy tapi sekarang Neta tidak perlu berpikir banyak untuk tahu dirinya telah diculik Adrian.
Mengubah posisi menjadi duduk, Neta mendapati satu paper bag putih di atas nakas. Namun ia tak membutuhkan itu, Neta meraba-raba sekitarnya mencari benda pintar yang selalu di bawah manusia kemana-kemana itu.
"Tidak ada," bisiknya agak panik.
Neta tidak tahu berapa lama dia tertidur dan agak kesal menyadari betapa lengah dirinya saat bersama Adrian. Lain kali ia tidak akan menurut begitu saja jika Adrian memberinya sesuatu.
Ia melompat turun dari ranjang berputar demi menemukan apapun yang bisa ia gunakan untuk berkomunikasi. Ia perlu menghubungi keluarganya untuk mengetahui perkembangan situasi. Namun tak ada apapun di sana, bahkan telpon, dan Adrian sudah mengambil gadgetnya.
Benar-benar pria menyeramkan.
Menarik napas kesal Neta melangkah keluar ruangan. Ia bersumpah akan menyemprot pria itu sekarang tapi sekali lagi ruangan lain yang mana adalah ruang tamu merangkap dapur itu kosong. Hanya ada perabotan sederhana di sana. Matanya lantas melirik pemandangan di luar sana, barisan udara kosong dengan gedung lain yang berjarak jauh. Itu memberitahu Neta bahwa tempatnya berada di ketinggian, mungkin sebuah apartemen atau hotel.
__ADS_1
"Adrian kurang ajar," makinya berjalan menuju pintu utama tapi seolah benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sedang ditahan. Pintu itu terkunci dan membutuhkan password untuk membukanya.
"Adrian sialan!" Menendang pintu hanya untuk menerima rasa sakit yang tajam, Neta terduduk di lantai meringis kecil. Jari kakinya berdenyut tanpa henti.
Menyerah dengan situasi yang serba tidak menguntungkan Neta bangkit bersamaan dengan pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu menatap terkejut pada Neta yang merasakan hal serupa. Dalam beberapa detik keduanya hanya terdiam sampai pria paru baya itu berdeham pelan.
Alisnya bertaut memberikan pandangan menilai pada gadis muda di hadapannya. Ia tahu sang putra terkadang suka menghabiskan waktu dengan para perempuan tapi gadis dihadapannya tidak tampak seperti sala satu dari mereka. Mungkinkah? Pikirnya dengan senyuman.
Penampilannya tidak sedap dipandang, Neta tahu tapi apa pedulinya. Toh ia tidak kenal pria tua ini dan cara mata itu menatapnya dengan intens agak membuatnya jengkel.
"Saya diculik pemilik ruangan ini," katanya membuyarkan pikiran pria paru baya yang tidak lain adalah Aditama, ayah Adrian. "Terima kasih sudah membuka pintu, saya akan pergi sekarang."
Pertemuan pertama mereka agak sedikit absurd tapi Aditama akan mengabaikannya sekarang. Bagaimanapun ia senang bertemu menantunya itu.
"Bagaimana kalau kita berbicara sebentar. Jika pemilik ruangan tahu kau pergi aku mungkin akan terkena masalah." Aditama masuk menutup pintu dengan cepat, ia memilih duduk di sofa single. "Selain itu kupikir kamu harus merapikan diri, Nak."
Neta menatap tingkah tak biasa pria tua itu dengan dahi berkerut. Baiklah dirinya tidak sopan barusan tapi ia sedang frustasi dan siapa pula laki-laki ini? Memperbaiki diri seadanya Neta duduk mengambil posisi agak jauh supaya bisa leluasa mengamati. Wajahnya sudah agak dipenuhi kerutan di beberapa bagian tapi kesan tampannya masih terlihat jelas.
Pastilah laki-laki ini sangat menawan di masa mudanya dan matanya yang tajam mengingatkan Neta pada seseorang ... Membeku. Neta mengerang frustasi dalam pikiran, mengutuk dirinya yang begitu bodoh.
"Maaf kan sikap saya yang kurang sopan." Ia menunduk kecil merasa malu dengan penampilannya sekarang. "Adrian tidak ada jika anda mencarinya."
"Tidak apa-apa. Hanya kunjungan biasa, sudah lama aku tidak bertemu putraku." Aditama menjawab lembut menatap menantunya yang terlihat panik dengan geli. "lagipula aku senang bisa bertemu denganmu, Adrian selalu saja menunda waktu ketika aku memintanya."
"Dia memang seperti itu." Neta masih meringis membalas asal." Maafkan sikap saya ... Saya tidak tahu anda ayahnya."
"Aku bisa mengerti, kupikir kau harus membersihkan diri sekarang. Kita punya banyak waktu untuk berbincang."
"Baiklah." Sejenak Neta ragu, tapi pada akhirnya ia melangkah menuju kamar mandi.
TBC.
__ADS_1