Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Reuni 2


__ADS_3

Adrian masuk ke dalam jebakan Vita lagi.


Tidak yakin mana yang benar, kemampuan mengesankan Vita dalam merencanakan segala sesuatunya atau kesabaran Adrian yang telah sangat menipis hingga tak lagi melihat situasi. Rayden hanya bisa mendesah dalam, diam di posisinya. Yakin sebentar lagi drama bakal pecah ke dalam reuni.


Lihat saja sekarang, perhatian orang sepenuhnya tertuju pada mereka. Tatapan penuh cibiran melayang pada Adrian dari berbagai penjuru, menghujat kelakuannya yang benar-benar tidak patut ditiru. Di dalam kolam Vita segera menyembul dari fase tenggelam secara dramatis menatap Adrian layaknya korban menyedihkan. Leo sendiri segera menceburkan diri dalam kekacauan menolong sang kekasih lalu melemparkan tatapan dingin pada Adrian.


"Sungguh Adrian? Sangat tidak pantas bagi pria menaruh tangan pada perempuan."


Kata-kata itu mewakili pikiran seluruh orang yang ada di sana, termasuk Neta yang segera berjalan mendekat. Ia berdiri marah dihadapan Adrian, sedetik kemudian melayangkan satu tamparan, membuat semua orang terkejut.


"Kalian pasangan yang sangat serasi." Neta berkata sinis menatap Adrian yang mematung dengan rasa jijik. "Pecundang menyedihkan yang hanya tau mempermalukan orang lain."


Adrian masih berdiri diam selama beberapa saat, mengabaikan denyutan di pipi kirinya, nyaris menahan napas. Matanya tak pernah lepas dari sosok yang baru saja mengatainya dengan kasar itu. Ia lengah kali ini dan secara praktis menambah kesan buruk dalam pandangan Neta. Jadi inikah tujuan Vita? Pikirnya mendengus kecil menanggapi situasi yang ada.


Setelah gagal menggunakan orang lain sekarang Vita menjadikan dirinya sendiri sebagai senjata. Adrian akui perempuan itu memang hebat tapi tindakan kekanakan begitu terlalu ceroboh, sangat bukan khas Vita. Apa ia memiliki maksud lain? Adrian berbalik, melirik Kania yang memasang wajah terguncang.


"Kau tidak apa-apa?" Sesaat ia mengamati Kania, menghela napas lega mendapati tak ada kerusakan berarti. "Lebih baik kita segera menyingkir dari sini."


Ia berjalan tenang tanpa sama sekali merasa terganggu kendati cibiran dari belasan mulut sedang ditujukan padanya. Orang-orang yang terbawa suasana dan bersimpati pada adegan semacam itu adalah bodoh dan Adrian tidak mau repot-repot mempedulikan mereka.


"Adrian ..." Adrian mengangkat tangan mengisyaratkan Dante untuk diam.


"Kita bicara di tempat lain."


Dari ekor matanya, Adrian melihat Leo yang sedang menyelimuti Vita bersama Neta yang memandang kakaknya khawatir. Jika Vita pikir ia akan terpancing maka sebaiknya perempuan itu menangis saja. Adrian tidak akan masuk dan bermain peran dalam rencananya.


"Kau harus memberi apresiasi untuk usaha keras Vita, Adrian." Rayden menyambut keduanya dengan seringai lebar. "Ia bahkan mengorbankan diri sendiri kali ini."


Kania tidak tahu maksud dari kata-kata Rayden tapi satu hal yang pasti apapun alasannya vita sudah gagal. Adrian bahkan tidak sedikitpun menaruh minat pada adegan menyedihkannya itu. Kasihan sekali. Namun pernyataan terakhir Vita yang seolah mengatakan Adrian bukan miliknya sangat mengganggu Kania.

__ADS_1


"Tentu saja, Vita akan mendapatkannya." Ekpresi Adrian menggelap, teringat kembali moment-moment hari ini. Ia nyaris lepas kendali kalau saja 'seseorang' tidak datang menunjukkan jalan tentang apa yang harus dilakukannya." Waktu penghakiman bagi Vita sudah datang."


Kali ini Adrian tidak akan berbelas kasih lagi.


Tetap mengawasi dalam diam, Dante yang sedari awal cuma bisa mengira-ngira akhirnya kehabisan stok kesabaran. Ia segera menarik Rayden, satu-satunya orang yang tahu dan terpercaya yang bisa menjelaskan situasi ke padanya ke pojok taman. Menatap temannya itu dengan ekpresi serius.


"Apa maksudnya itu? Apa yang tidak kuketahui?"


Dante memang tidak sepintar Rayden dalam membaca pikiran Adrian. Namun ia tahu bahwa ada sesuatu yang kedua sahabatnya itu rencanakan secara diam-diam. Ia sudah memikirkannya dalam perenungan waktu yang cukup lama tapi hanya sedikit pemahaman yang bisa ia dapatkan. Semua yang Adrian lakukan baginya sangat janggal.


Baiklah Adrian menginginkan keselamatan Kania, ia mengerti itu. Namun menahan para preman itu selama berbulan-bulan, lalu pura-pura melepaskan mereka, membuat kasus seolah tidak terjadi apapun? Itu sama sekali bukan gaya Adrian. Ia tahu Adrian tidak selembut itu apalagi menyangkut seseorang yang ia sayangi dan namanya digunakan untuk kejahatan. Jelas ada apa-apanya di sana, tapi Dante masih belum menemukan titik utamanya, mengapa? Mengapa Adrian menunggu selama itu? Dan mengapa ia baru mulai akan bergerak setelah Vita memprovokasinya?


Vita juga sama sukarnya untuk dibaca. Jika perempuan itu dalang utamanya mengapa seakan ia sengaja membocorkan diri? Apa yang ia dapatkan dengan mengusik Adrian? Apa yang diincar perempuan itu dari kekacauan yang ada? Jika cuma membuat Neta membenci Adrian rasanya terlalu jauh, bahkan diam tanpa melakukan apapun gadis itu sudah tak menyukai temannya.


"Apa yang akan kalian lakukan pada Vita? Jangan membuat masalah lagi. Sudah cukup buruk mereka mengambil perusahaan kita. Mau berapa banyak lagi Adrian merugi gara-gara Kania?"


Pandangan Rayden meluncur jauh melewati bahu Dante menatap seorang gadis yang berpakaian mencolok di sisi lain halaman. Gadis kecil polos yang masih terlalu awam dengan dunia persaingan, tapi sudah harus merasakan betapa sakit hasilnya.


Gadis yang dengan kerandoman tingkah yang susah dicerna bahkan bagi Adrian yang dikatakan genius. Seseorang yang mampu menarik Adrian dari zona obsesi mengerikan selama bertahun-tahun dan menunjukkan padanya tentang dunia lain yang bisa diraihnya. Rayden pikir jatuh cinta saja tidak cukup gadis itu telah menyelamatkan kehidupan Adrian dari kubangan sampah emosi yang terus menggerogotinya dari dalam dan perlahan merusaknya.


"Ini bukan tentang Kania." Perempuan itu hanya sisa masa lalu yang bagaimanapun tetap ingin dihargai oleh Adrian. "Dia melakukannya demi Neta."


*


*


Vita menyaksikan adegan penamparan Neta pada Adrian dengan senyum puas selagi berpura-pura melakoni peran korban. Ada kepuasan tersendiri melihat Adrian menciut diam saat jiwanya sedang meledak dalam emosi. Namun itu hanya sebagian bonus, tujuan utamanya bukanlah itu.


Mata Vita berpaling menatap pada perempuan di belakang Adrian yang menatapnya tajam. Oh, itu dia si manja yang cuma berani bersembunyi di balik tembok kokoh bernama Adrian.

__ADS_1


Kania Anindita mereka pertama kali bertemu adalah saat MOS bagi siswa baru. Pembawaan Kania yang ramah tapi agak bodoh itu berhasil menarik perhatian para senior. Ia menjadi primadona dalam sekejap dengan semua orang yang ingin berteman dengannya.


Vita membencinya dan sangat ingin menghancurkan senyum sok polos yang terus ia lemparkan pada orang-orang. Namun keberadaan Adrian membuat semua jadi mustahil, pria itu bukan hanya dinding, ia juga menjadi pedang yang siap menebas siapapun yang mengancam kedamaian Kania. Di tambah dengan keberadaan Leo? Kania terlalu serakah hanya karena ia diberkahi dengan sedikit kelebihan wajah.


Vita nyaris menyerah pada keinginannya sampai kesempatan perjodohan itu datang. Leo memang pria kuat tapi itu tak sebanding dengan Adrian. Jika ia memiliki Adrian di sisinya maka kesempatan menghancurkan Kania bakal lebih mudah. Vita tidak benar-benar peduli tentang perasaan cinta atau semacamnya, Adrian jelas salah jika berpikir demikian.


Tentu saja ia tidak melewatkan moment, tapi lagi ia harus kehilangan pria itu gara-gara sepupunya sendiri, dan apa yang lebih membuatnya murka adalah, fakta bahwa Adrian menaruh minat pada pengantin penggantinya.


Namun di sisi lain itu merupakan petunjuk, kesempatan lain untuk menghancurkan Kania. Penghalang terbesar bagi kesuksesan rencananya adalah Adrian dan pria itu telah berbelok dari jalan utamanya melindungi Kania. Vita sangat senang dengan kenyataan putusnya pertunangan Leo dan Kania. Ia mengambil kesempatan menyusup dengan menjebak Leo dalam skandal, menarik pria itu ke sisinya dan menahannya dalam jalinan kasih atau perlu pernikahan.


Vita tahu berapa dalam cinta Kania pada Leo dan memanfaatkan emosi Kania yang menyerang Neta untuk menghancurkan Adrian pula. Ia sengaja menyewa preman untuk menggangu adiknya memakai nama Kania dalam rencananya.


"Kakak enggak apa-apa kan?"


Pandangan Vita bergeser pada Neta yang menatapnya khawatir. Oh, gadis ini, ia sangat berperan besar pada kesuksesan rencananya. Sejujurnya Vita agak kesal menyadari bahwa Adrian lebih tertarik pada adiknya ketimbang dirinya tapi itu tidak buruk juga.


"Iya, Neta bisa tolong ambil baju kerja kakak di mobil? Enggak mungkin pulang pake baju basah gini."


Leo melipat lengan selagi menunggu Neta yang sedang mengambil pakaian. Ia menyender santai pada dinding kamar hotel lantas mengamati Vita dengan saksama. Leo mendengus kecil, fakta perempuan itu bahkan sudah menyiapkan baju ganti adalah bukti bahwa insident di kolam sudah direncanakan sejak awal. Vita bahkan mengundang Neta ke dalam pesta. Benar-benar iblis.


"Kurasa kau harusnya mendapatkan piala Oscar untuk acting luar biasa tadi."


Vita mengangkat pandangan menatap Leo dari balik ujung handuk. Pria berstatus sebagai kekasihnya itu menatap tajam. Dengan begini rencananya untuk membuat Kania sadar di mana posisinya sukses.


"Kita sudah sepakat untuk menghancurkan Adrian."


Vita menyeringai senang mengingat ekspresi Kania tadi. Betapa ia menikmati raut wajah shock Kania saat melihat Adrian cuma diam ketika adiknya menamparnya tadi. Leo ada dalam genggamannya sekarang dan Adrian sendiri sudah berbelok pada adiknya, tinggal satu dorongan terakhir maka Kania akan benar-benar hancur.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2