Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Sahabat.


__ADS_3

Deandra menyesalkan mengapa takdir harus melahirkannya dengan otak yang agak lambat dalam memproses pelajaran. Jadinya ia harus berusaha lebih keras dari anak-anak kebanyakan, ketika berhadapan dengan tuan X dan nyonya Y yang selalu sukses membuat semua pelajar di dunia pusing.


Andai saja aku bisa bertukar otak dengan Neta, pikirnya muram, saat keluar dari gerbang. Ia baru saja menyelesaikan tugas tambahan dari guru dan pulang terlambat. Deandra berniat menelpon Neta malam ini, guna mengonfirmasi mengenai video yang dikirimkan di grub kelas. Namun panggilan dari nomor asing yang terus membuat gadgetnya berisik sepanjang waktu memaksanya untuk mengurungkan niat. Terlebih saat tahu siapa yang menelponnya.


Deandra tanpa pikir panjang keluar dan masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan. Ia agak kasar menutup pintu saat mobil yang membawanya berhenti di depan sebuah rumah. Mengabaikan segala bentuk tata sopan santun Deandra menggedor kasar dan menyerobot masuk begitu saja saat pintu dibuka.


"Di mana Neta?"


Nada suaranya begitu marah saat bertanya sementara matanya melotot tajam. Adrian yang baru saja menelan kopi nyaris memuntahkannya gara-gara keberadaan Deandra yang mendadak. Ia kemudian memberi isyarat dengan lirikan mata menatap sebuah pintu yang tertutup rapat.


"Jangan pikir kau bisa lolos dari hukuman menyakitkan, bajing*n." Ia sempat membentak Adrian kasar sebelum memasuki kamar.


Ruangan itu redup karena hanya lampu di atas nakas yang di nyalakan. Deandra melangkah hati-hati tak ingin mengejutkan sosok yang terbaring di ranjang. Matanya bersinar dalam kecemasan besar. Dante telah memberinya sedikit informasi saat di perjalanan tadi dan karena itulah ia benar-benar marah pada Adrian.


"Neta!" Panggilnya lembut. Sementara matanya mulai berkabut air. "Ini Gue Deandra. Lo bisa ngenalin Gue, kan?"


Duduk di tepi ranjang Deandra perlahan mulai meneteskan air mata ketika melihat keadaan sang sahabat yang begitu menyayat hati. Gadis itu benar-benar menggambarkan definisi dari mayat hidup. Matanya terbuka tapi pandangannya tak fokus seolah jiwanya telah di sedot ke alam lain.


"Nggak usah takut lagi. Gue udah ada di sini." Tangannya memegang pundak Neta lembut tapi tak menerima respon apapun. "Lo udah aman sekarang."


Deandra benar-benar menangis ketika Neta tak kunjung menjawab bahkan setelah bermenit-menit. "Ta, sadar dong, jangan kelamaan biarin jin bekunya nguasain, Lo. Lo tau kan, gue enggak tahu di mana istana para jin. Gue juga enggak punya kenalan paranormal, jadi tolong sadar."


Ketika tak mendapat respon apapun Deandra baru saja hendak keluar dan melampiaskan rasa frustasinya pada Adrian. Namun suara kecil yang terdengar membuatnya berbalik. Neta perlahan membuat gerakan kecil. Mengubah posisi jadi duduk.


"Dea, Gue takut," katanya dengan lirih, dan matanya yang semula kosong itu perlahan dipenuhi air mata. "Gue beneran takut."


Deandra balas memeluk sahabatnya erat, membiarkannya menangis kencang. Kejadian itu pasti menjadi pukulan berat bagi Neta. Tidak bahkan perempuan manapun yang mengalaminya, karena itulah satu-satunya yang bisa Deandra tawarkan sekarang hanyalah sebuah pelukan.


"Gue ngerti. Nangis aja, abis itu baru kita bahas rencana balas dendamnya. Dante bilang pelakunya udah di tangkap, jadi Lo bisa lega."


Neta tertawa kecil di sela-sela tangisnya. "De, harusnya Lo enggak ingetin gue sama para pelakunya."


"Maaf, gue terlalu emosi pas dengernya tadi. Lagian Lo juga sih, sok-sok jadi zombie. Kan gue jadi terguncang, kirain Lo beneran udah terserang virus."

__ADS_1


"De, yang terguncang itu harusnya Gue."


Neta melepas pelukannya menatap sahabatnya yang juga berlinang air mata. Deandra bisa saja berbicara dengan lawakan tak tahu kondisi itu tapi di baliknya Neta tahu seberapa besar gadis itu mengkhawatirkannya.


Semua orang jarang yang mau berteman dengan Deandra karena sifat anehnya tapi bagi Neta itu adalah keistimewaan gadis itu. Pembawaannya yang terlampau di luar nalar orang itu membuat Neta bisa memandang dunia dari sisi berbeda pula. Bahkan hal mengerikan pun bisa ia jadikan lelucon.


"Neta yang Gue kenal enggak akan terguncang sama hal begituan. Gue tahu dia lebih kuat dari gadis manapun di dunia ini."


Neta mengangguk kecil walau air matanya terus berlinang. "Hmmm! ... Satu-satunya yang bisa bikin gue terguncang cuma ide gila dari si aneh Deandra."


Deandra menanggapi kalimat setengah menyindir Neta dengan tawa kecil.


"Bener, cuma gue yang boleh bikin Lo shock." Keduanya tertawa dalam tangisan sekali lagi saling memeluk. "Omong-omong, Lo bau, bisa mandi dulu enggak? Ntar kita lanjutin lagi adegan tangis nangisnya."


Neta mengangguk kecil, membiarkan Deandra memapahnya ke kamar mandi guna merapikan diri. Sejujurnya bagian terdalam dari dirinya yang masih sehat Neta merasa malu terutama pada para pria itu. Mereka melihatnya dalam kondisi paling buruk, rapuh, dan menyedihkan, membuat sebagian jiwanya meronta marah.


Neta tidak suka diperlakukan sebagai makhluk lemah.


"Bagaimana?"


Rayden segera memberondongnya dengan pertanyaan saat ia memasuki ruang tamu. Di sana ada Dante juga yang duduk bersama raut muka tak sabaran. Mereka belum sempat menceritakan secara mendetail tadi dan hanya meminta temannya itu menjemput Deandra.


"Dia sudah lebih baik." Adrian duduk dengan raut wajah yang kontras dari kata-katanya. "Setidaknya membawa Deandra kemari itu keputusan benar."


Kemarahan di dalam diri Adrian masih sama besar seperti tadi tapi kekhawatirannya tampaknya lebih besar. Ia bisa saja melakukan semuanya sendiri, baik itu mengobati luka, mengganti baju ataupun hal lainnya pada gadis itu, tapi Adrian kemudian memikirkan konsekuensinya. Gadis itu baru saja mengalami hal mengerikan yang mungkin akan seumur hidup melekat dalam ingatannya. Jika ia memaksakan diri merapikan gadis itu dengan tangannya maka Adrian tak jauh beda dengan para bajingan itu.


Sejujurnya Adrian tidak peduli dengan image jeleknya tapi itu mungkin akan memperparah kondisi mental Neta. Jadilah Adrian merelakan egonya dan meminta bantuan Deandra.


"Kenapa tidak langsung diserahkan pada polisi saja? Atau keluarga Baskoro. Kurasa mereka lebih berhak."


Dante bertanya heran karena tindakan Adrian yang mau merepotkan diri pada hal yang bukan urusannya. Ia bisa mengerti kalau Adrian bersimpati, biar bagaimanapun gadis itu mantan istrinya. Tidak, bahkan jika keduanya tak memiliki kaitan sama sekali, hal yang menimpa Neta itu memang akan memunculkan sisi melindungi orang lain.


Selain itu, mengapa pula Adrian bersikeras untuk tidak menghubungi ibunya dan malah Deandra. Bukankah keberadaaan sang ibu akan lebih membuat gadis itu merasa nyaman? Sepertinya otak Adrian telah menyempit hingga tak bisa memikirkan sesuatu dengan benar sekarang.

__ADS_1


Tepat duduk di depan Dante, Rayden yang ikut mendengarkan otomatis melirik Adrian. Adrian menyadari itu tapi pikirannya masih belum benar-benar lepas dari rasa ingin menghabisi bajingan itu. Jadi ia mengabaikannya saja.


"Aku akan menyerahkannya besok." Tentu saja setelah ia memberikan beberapa mahakarya, tambah Adrian dalam hati, ekspresinya keras.


Rayden melihatnya, niat gelap Adrian tapi memilih bungkam. Ia tak berhak melarang walaupun sejujurnya itu salah. Semuanya tidak akan berakhir mudah jika itu menyangkut Adrian. Ia hanya bisa berharap semoga para pria itu tidak kekurangan apapun setelah interogasi pribadi Adrian besok.


"Kau tidak merencanakan sesuatu, kan?"


Dante yang menangkap gelagat tak menyenangkan dari cara Adrian dan Rayden saling pandang mau tak mau merasa was-was. Adrian bisa benar-benar jadi monster jika itu menyangkut menginterogasi dan penyiksaan.


Kadang-kadang ia berpikir kalau sebenarnya Adrian salah mengambil pekerjaan. Temannya itu lebih cocok jadi sosok penjahat di balik layar dan bukannya membuat karya seni.


"Merencanakan apa? Aku cuma memikirkan bagaimana cara memberitahukan keluarga Baskoro." Adrian mendengus menanggapi kepekaan Dante dan memilih pura-pura tidak tahu.


"Tidak perlu, biar aku yang lakukan. Kau cuma akan menambah buruk keadaan."


Suara lembut tiba-tiba saja bergabung di antara ketiganya. Di sana Deandra berdiri dengan wajah tak bersahabat dan matanya seperti hendak melobangi Adrian ketika menatapnya.


"Neta benar, kau itu pembawa sial." Semburnya kemudian. "Terlibat denganmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."


Alis Adrian bertaut, menghadapi kemarahan perempuan tidak pernah menjadi keahliannya. Terlebih gadis remaja. Jadi satu-satunya yang bisa dilakukan Adrian adalah menarik napas dalam.


"Aku mengerti mengapa kau jadi emosi tapi melemparkan kemarahan pada orang yang tak ada sangkut pautnya itu salah."


Deandra menyeringai sinis. "tak ada sangkut pautnya katamu? Lihat ini." Ia kemudian menyerahkan gadgetnya dan menekan tombol play pada file video. Video itu berdurasi dua menit tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.


Dante yang penasaran merampas cepat gadget dari Adrian dan melebarkan mata begitu video itu berputar.


"Bagaimana kau akan bertanggung jawab untuk itu?" Deandra mengambil kembali gadgetnya, menatap Adrian dingin. "Sebaiknya kau peringatkan kekasihmu itu, karena aku cukup gila untuk mendatanginya dan membuatnya botak."


Puas telah melampiaskan kemarahannya Deandra kembali ke kamar. Neta akan curiga jika ia pergi terlalu lama.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2