Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Hancur


__ADS_3

Menatap untuk terakhir kali pada awan putih yang telah menelan burung besi yang membawa Deandra pergi. Neta berbalik berjalan dengan mata terkunci pada layar gadget. Ada belasan panggilan dari nomor berbeda yang terpampang di layar tipis itu. Di antara nomor-nomor tak terabaikan menyempil sebuah pesan singkat tapi cukup untuk membuat hari suramnya berubah menjadi neraka.


'Kondisi kakek memburuk'


Neta berhenti hanya untuk menatap keriuhan orang-orang yang berlalu lalang di bandara internasional SH. Tidak peduli betapa buruk harimu dunia akan tetap berjalan. Senyum sendu tipis terbit di bibir peach pucatnya.


Ia mengisi paru-paru lewat tarikan napas panjang lalu mulai berjalan dalam diam. Lihat hasil keegoisanmu, sebuah suara muncul di benaknya. Suara bernada mengejek yang bahkan jika itu memiliki wajah pastilah sedang menatap sinis dirinya.


Menghancurkan Vita? Neta menggeleng saat menatap layar besar di pinggir jalan. Seorang pembawa berita, perempuan, berambut Bob, dari sala satu stasiun televisi, berbicara serius mengenai berita mengejutkan pagi ini. Di sudut lain dari saluran yang berbeda pembicara lain memberitakan hal sama. Bahkan gagdet dari para pekerja kantoran yang berdiri menunggu angkutan umum pun mengatakan hal serupa.


'Seorang dokter muda yang berasal dari keluarga terpandang terlibat skandal video asusila'


Ekpresi Neta menggelap menatap video berdurasi singkat yang tampilannya di sengaja blurd itu. Adrian memulainya dari kasus yang paling cepat menyita perhatian masyarakat. Brilian sekali. Bagi sebagian orang itu hanya hal biasa tapi Neta tahu kenyataan itu akan menghancurkan kakeknya sekali lagi.


Bukankah kau senang dengan itu? Melihat orang-orang yang pernah menindasku menghadapi hasil dari dosa mereka.


Suara dalam benaknya berkoar lagi mengomentari sinis kedinginan hatinya saat melihat berita itu. Dirinya tahu bahwa bukan hanya Vita yang akan hancur, tapi seluruh keluarga Baskoro. Namun ia tetap diam dan membiarkan Adrian melakukan rencananya.


Bukankah ia sama jahatnya dengan Adrian?


Neta baru mengangkat tangan pada taksi di ujung jalan saat sebuah mobil merah metalik familiar berhenti tepat di depannya. Jendela di samping pengemudi perlahan turun dan Neta tak kuasa menahan senyum lelah.


"Aku akan mulai berpikir kalau kau sengaja menguntitku jika terus-terusan muncul dengan cara seperti ini."


Si pelaku utama, Adrian Adjama, menyeringai lebar, tampak bahagia menerima kata-kata pedas dan menusuk itu. Suasana hati pria itu sedang sangat bagus, pikir Neta mengamati.


"Aku pengangguran, kau lupa?" Ia turun dengan gerakan anggun menyender pada badan mobil. Keberadaanya praktis menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di sana.


Neta mengulirkan mata pada mobil mewah yang di produksi secara terbatas itu. Membanggakan diri sebagai pengangguran dengan kendaraan semewah itu rasanya benar-benar sikap narsis yang menghina. Jika pengangguran saja mobil Adrian bisa semahal itu, ia bertanya-tanya kendaraan jenis apa yang akan pria itu pakai kalau dirinya seorang pekerja. Karpet ajaib? Atau bahkan sapu terbang? Neta menggeleng tak percaya pada pemikiran absurd yang muncul itu.

__ADS_1


"Ya, setidaknya kau bahagia. Langsung saja ke intinya, aku tidak punya waktu. Kau tidak mencegatku hanya gara-gara menganggur kan?"


Setelah ini Neta mungkin harus berkemas dan mencari rumah kos-kosan, bagaimanapun kejatuhan keluarga Baskoro sudah di depan mata dan menjadi gelandangan hanya tinggal menunggu waktu.


"Sayangnya iya," kelakar Adrian, melipat lengan."Aku ingin melihatmu."


Ekpresinya tampak serius ketika mengatakan kalimat terakhir, tapi itu hanya sedetik, Adrian mampu menutupinya dengan baik hingga Neta menganggapnya hanya ilusi saja.


"Kau sudah melihatku dan tak ada yang berubah. Aku masih seperti biasa, setidaknya saat ini. Entah kalau beberapa jam lagi, mungkin sudah menggelandang."


Sejenak perhatian Neta teralihkan oleh beberapa bisik-bisik yang mempertanyakan mengapa mereka berada di sana. Ia menghela napas, rasanya mudah sekali melupakan di mana dirinya berada saat bersama Adrian. Berjalan menuju ke sisi sebelahnya di bawah tatapan Adrian yang mengerenyit bingung. Neta membuka pintu penumpang dan masuk begitu saja.


"Sudah cukup kak Vita yang menjadi headline news, aku tidak mau membuat skandal lainnya."


Membayangkan dirinya diberitakan seperti Vita dan semuanya di usut sampai ke kisah masalah lalunya, membuat Neta bergidik. Jika itu sampai terjadi maka keluarga Baskoro bukan hanya jadi gelandangan tapi bisa-bisa melakukan aksi menegak racun masal.


Ia membuka pintu kemudi lalu menjalankan mobil tak lama setelahnya. Adrian melirik Neta yang menyenderkan kepala pada jendela mengamati ekspresinya. Ia mengkhawatirkan Neta dan ingin melihat bagaimana gadis itu menanggapi situasi yang ada, karena itulah Adrian mengikutinya seharian ini.


"Apa kau tahu? Mengapa dulu aku bersedia berjalan di altar menggantikan kak Vita? Itu karena aku tidak mau menjadi gelandangan tapi lucunya berkat pernikahan itu juga aku akan menjadi hal yang kuhindari."


Neta tertawa kecil, tawa miris yang menyedihkan. Adrian tidak begitu paham konteksnya tapi ia akan mendengarkan, meski seolah baik-baik saja. Adrian yakin Neta sedang kacau sekarang.


"Adrian apa yang harus kulakukan agar kau berhenti menghancurkan kak Vita? Haruskah aku bersujud? Atau ... "


Berita itu memang baru pagi ini menghiasi laman berita tapi keluarganya sudah tau sejak semalam dan berusaha mencegahnya agar tidak sampai bocor. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk melawan kekuatan koneksi Adrian Admaja karena itu pula kakeknya terkena serangan jantung dan seluruh keluarga Baskoro kacau.


"Minumlah," Adrian menyodorkan sebotol air minum kemasan. "Kau butuh otak jernih untuk memikirkan apa yang harus kau berikan sebagai jaminan agar aku bersedia menghentikannya."


Tanpa sepengetahuan Neta Adrian sudah mencampur air itu dengan obat tidur. Nino sudah memberitahunya bahwa Neta sama sekali belum sedetik pun memejamkan dari kemarin dan Adrian mengkhawatirkan kesehatan gadis itu.

__ADS_1


*


*


"Gila! Apa yang dipikirkan Adrian? Dia tidak benar-benar serius kan mengungkap semua keburukan Vita dan keluarganya?"


Di ruangan kantornya Rayden yang baru meneguk Kopi siang itu mendadak tersedak saat Dante tanpa permisi masuk dan memberondongnya dengan kata-kata tanpa Jedah.


"Bukankah kau bilang dia melakukan ini untuk Neta? Bagaimana bisa ia menghancurkan keluarganya? Itu sama saja menghancurkan Neta sendiri kan? Di mana pikiran Adrian?"


Dante pikir kebungkaman Adrian selama beberapa bulan terkahir karena ia sungguh-sungguh telah menyerah dan ikhlas melepaskan semuanya asal masalah Kania tidak diperpanjang. Namun rupanya temannya itu sengaja diam demi mengumpulkan amunisi untuk menyerang balik.


"Jangan bilang Adrian sengaja menghancurkan keluarga Neta agar nanti ia bisa berpura-pura menjadi pahlawan penyelamat?"


Dante mondar-mandir tanpa henti dengan asumsi seenaknya itu, membuat Rayden jadi pusing sendiri melihatnya.


"Adrian tidak punya jiwa sebaik itu." Rayden menggeleng melihat tingkah kekanakan Dante. Kalau sudah bicara temannya itu suka lupa usia berapa dia sekarang.


"Lalu mengapa Adrian tetap melakukannya? Tidakkah ia pikirkan bagaimana akibatnya pada Neta sendiri?"


Rayden mendengus, menjawab santai. "Tidak, ia hanya peduli pada Neta tapi tidak dengan keluarganya. Adrian tidak peduli pada Baskoro lain bahkan jika mereka menjadi pengemis."


Dante mengerem tubuhnya sendiri. "Kau serius? Gila, Adrian benar-benar bajingan."


Rayden memutar bola mata bosan menanggapi perkataan Dante dengan cemoohan. "Dia memang sudah seperti itu sejak dulu, dan baru sekarang kau mempermasalahkannya?"


Sungguh konyol, karena itulah orang-orang tidak mau berurusan dengan Adrian sebagai musuh. Ia tidak pernah memberi belas kasihan. Satu-satunya hal yang membebani Rayden sekarang adalah Leo. Ia terlibat dalam skandal itu dan jelas akan terkena dampaknya juga. Padahal Leo hanya korban.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2