Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Setimpal


__ADS_3

Tak mau repot-repot menghindar dari pertemuan tak sengaja mereka. Neta diam menunggu sosok itu melewatinya. Bagaimanapun keduanya di rawat di rumah sakit yang sama bukanlah hal yang aneh jika berpapasan. Matanya mengunci pada titik yang sepenuhnya terbalut perban, itu memanjang dari tengah pipi turun ke bawah dan berhenti area leher.


Melarikan pandangan pada sisi wajah satunya, Neta menangkap sisa karyanya sendiri, warna ungu gelap yang sedikit melebar. Lalu perkataan perempuan paruh baya kemarin melintas. Kania mencoba menghabisi diri sendiri. Neta pikir perempuan itu pasti sangat frustasi sampai memiliki pikiran seputus asa itu, tapi melihatnya sekarang mungkin ibu Kania hanya melebih-lebihkan agar tuntutannya di batalkan.


Lorong rumah sakit lenggang sehingga keduanya jelas melihat satu sama lain. Mempertimbangkan kemungkinan timbulnya masalah Neta memalingkan pandangan berjalan sampai suara Kania menahan kakinya.


"Sayang kakimu masih menapak di lantai. Padahal aku sudah senang memikirkan yang tampak sekarang hanya sebatas roh."


Makna tersirat yang menyatakan tentang harapan gelap dan jahat itu membuat sudut bibir Neta berkedut. Ada orang yang bahkan dengan tubuh hancur tapi tetap memegang teguh kebencian mereka. Menyadari dirinya sempat mempertimbangkan untuk membantu sala satu dari jenis itu membuat Neta merasa bodoh.


"Kenyataan memang pahit," balasan Neta singkat. "Aku turut berduka untuk wajahmu. Kuharap itu tidak menjadi alasan untuk melakukan hal bodoh."


Kania menyipitkan mata mendengar kata-kata simpati yang menyebalkan itu. Gadis ini, mau berperan sebagai malaikat atau apa? Pikirnya sinis.


"Dibandingkan dengan diriku lebih baik kau mengkhawatirkan kakakmu. Kau tidak mengenal Adrian dengan baik. Di monster."


Kata-katanya sebuah peringatan yang dalam kasus ini agak mengherankan. Mereka sejatinya berhadapan sebagai musuh tapi entah bagaimana berbicara saling memperingatkan seakan rekan satu perjuangan.


Sekilas, Neta sudah melihatnya kemarin malam. Kegelapan dalam jiwa Adrian, ia memutar balik. "Dan kau masih tetap berniat bersamanya? Bahkan nekad melenyapkan orang lain demi dirinya?"


Ejekannya sangat nyata, seolah mengatakan tidak ada yang lebih bodoh dari kania. Membuat perempuan itu sebal bukan main. Ia seorang Baskoro pikir Kania sinis. Memiliki darah seperti Vita jelas akan sama menjengkelkannya juga ... Sesaat Kania terpaku kemudian mendengus.


"Selamat karena sudah berhasil menangkap sang monster." Kania balas mengejek, tersirat. "Semoga kau menderita dalam proses menjinakkannya."


"Kuharap kau tidak mengatakan itu karena sakit hati melihat monster kesayanganmu itu lepas." Neta balas melempar serangan terakhir sebelum melewatinya.


Ia membuka pintu ruang inap, berjengit terkejut menyadari seseorang yang berdiri di sana.

__ADS_1


"Adrian?" Katanya tergagap. "Kau berbakat dalam membuat serangan jantung."


Kebiasaan Adrian yang muncul di mana saja, kapan saja itu, yang membuat Neta gagal melihat alasan sebenarnya di balik itu semua. Pria itu selalu melakukan apapun sesuai keinginannya dan Neta menganggap pertemuan mereka sebelum ini adalah bagian dari sifat seenaknya Adrian. Bukan karena mereka masih menikah atau yang lainnya.


Kania bilang Adrian adalah monster tapi dari sudut pandangan Neta ia seperti manusia dengan emosi pada umumnya, hanya sedikit lebih percaya diri, atau narsis dibanding yang lain. Namun itu terjadi mungkin karena Adrian terlahir dengan segala sesuatu yang mudah didapatkannya.


"Sudah puas keluyurannya?" Melihat ekspresi masam itu Neta menggigit bibir.


Nah, bagaimana Neta bisa melihat Adrian sebagai monster jika ia terus saja menunjukkan sisi kekanakan semacam merajuk seperti sekarang?


"Aku bosan di dalam kamar."


Terutama ketika ia terus-terusan harus menerima tamu yang datang hanya untuk bersujud memohon bantuan agar dirinya mau berbicara pada Adrian. Membujuk pria itu untuk membatalkan tuntutan dan sejenisnya.


Adrian berhasil mengusir kedua orang tua Kania tapi kakeknya, om dan Tantenya yang merupakan orang tua Vita. Adrian tak mungkin bisa mengatasi mereka, tidak ketika Neta terikat tali sebagai keluarga dan baru-baru ini, Leo. Yang terakhir benar-benar membuat Neta terkejut.


Keluarganya tidak akan berhenti meneror dengan air mata dan kata-kata menyedihkan sampai keinginan mereka terwujud. Selain itu ia kasihan pada sang kakek yang sudah terlalu tua untuk melihat drama di mana satu cucunya sebagai korban memenjarakan cucu lainnya yang merupakan pelaku. Neta tidak sampai hati mengisi memori tua Baskoro dengan kenangan seperti itu.


Neta menahan napas tegang menanti reaksi Adrian yang saat ini masih santai membantunya naik ke atas ranjang.


"Adrian?"


"Dan mereka akan mengulanginya lagi, lagi, dan lagi. Kau mungkin punya hati seluas samudera untuk menganggap itu seperti buih kecil yang tidak berharga. Namun aku tidak, aku tidak mentoleransi untuk nyawamu yang nyaris menghilang. Mereka harus mendapat hukuman setimpal."


Semoga kau menderita dalam proses menjinakkannya, belum-belum kata-kata kutukan Kania sudah terjadi. Neta menghela napas, meraih tangan Adrian dengan menyedihkan sebagai upaya dalam negosiasi.


"Bagaimana tepatnya hukuman setimpal dalam pikiranmu?" Neta meringis menyadari mata Adrian yang menyipit tajam padanya. Pria itu marah sekarang. "Jika kau menilai berdasarkan perkara maka hukum adil seharusnya adalah melakukan hal sama. Maskudku, aku harus memukul Kania dan melemparkan guci pada kepala kak Vita."

__ADS_1


Neta menelan ludah begitu tangan Adrian mencengkram erat kedua bahunya mendorong nya ke dalam posisi berbaring. Matanya tidak menunjukkan tanda-tanda tersentuh sedikitpun. Neta nyaris kehabisan akal ketika pikiran gelapnya yang entah muncul dari mana menemukan solusi cara yang paling dibencinya. Tangan Neta terangkat meraih rahang Adrian sebelum menyatukan bibir mereka.


Awalnya Adrian terkejut tapi sedetik kemudian ia membiarkan keadaan begitu saja. Menerima surga yang tersaji dengan segala kenikmatannya.


Neta mendorong pikiran tentang berapa lama mereka melakukannya ke tepi. Menatap Adrian dengan senyuman.


"Kau tau, aku tidak ingin kau mengotori tangan dengan noda, karena itu. Untuk kali ini saja, bolehkah aku saja yang menentukan hukuman untuk mereka? Aku ingin menghukum mereka dengan cara yang kupikir benar."


"Kau curang tau."


Adrian menatap wajah cantik di hadapannya, dalam diam tersenyum senang. Selama ini semua orang mendorong dirinya dalam melakukan semua hal bahkan tugas menghukum orang lain. Namun kali ini, ada orang yang mengambil palu itu darinya, bersedia menjadi hakim dengan segala konsekwensinya agar dirinya tidak ternoda.


Bagaimana bisa Adrian tidak jatuh hati pada gadis ini.


Dia dengan segala nasib buruk yang menyertai tapi tetap begitu berperasaan. Dia dengan semua luka yang mendera tapi tidak kehilangan hati. Bagian terdalam Adrian terluka menyadari betapa tidak layak dirinya memiliki gadis seperti Neta. Namun ia tetap menginginkannya dengan sangat egois, karena itu untuk sekali ini, pertama dan terakhir. Adrian setuju pada permintaan gadis itu.


Selain itu melihat Leo yang merupakan rival terberatnya duduk berlutut di bumi merupakan penghargaan tersendiri baginya. Seolah menyatakan pada akhirnya Leo tidak pernah bisa menang melawan Adrian dan itu membuatnya bahagia luar biasa.


Adrian muda pasti akan merayakan keberhasilan kekanakan ini dengan sangat meriah. Namun sekarang ketika Neta memelototinya Adrian harus merelakan pikiran menyenangkan itu. Ia harus memenuhi janji dengan sang istri.


"Kenapa kau begitu peduli pada Vita?"


Bagi Adrian keteguhan sikap Leo yang bersikeras membebaskan Vita adalah hal yang aneh. Ia tahu hati Leo masih milik Kania, pasti ada alasan besar dibalik tindakan tak biasa ini.


Bukan hanya Adrian yang menanyakan itu, tapi nyaris semua orang. Leo tahu ia bodoh dengan melakukan ini, tapi demi seseorang yang ia sayangi, tidak ada kata bodoh.


"Karena ia ibu dari calon anakku."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2