Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
ulang tahun tak terlupakan


__ADS_3

Pada saat Neta bergabung ke tengah-tengah acara. Kue sudah tersaji dengan lilin yang siap ditiup. Ia duduk sedikit kaku menyadari gaunnya yang tak cocok suasana juga keributan yang tadi tak sengaja ia ciptakan.


Neta tersenyum senatural mungkin berjuang melawan rasa sesak dari asam lambungnya yang naik bercampur angin. Ia sempat meminum air hangat tadi sebagai pertolongan pertama tapi tak mengubah banyak.


Teman-teman Adrian minus Angela dan Dante secara terang-terangan memandanginya. Tak perlu dipertanyakan mengapa, mereka jelas penasaran mengenai identitas Neta. Seorang gadis kurang ajar yang tiba-tiba menerobos acara tapi tidak menerima umpatan sama sekali dan malah bergabung sebagai tamu penting. Jelas itu sesuatu yang janggal.


"Nah, karena nyonya Admaja sudah hadir. Mari segera kita meniup lilin."


Dante membuka sesi perkenalan dengan baik mencairkan suasana yang sesaat tegang. Orang-orang di sana sudah dewasa, mereka tidak akan bertanya mendetail seperti anak-anak. Kata nyonya Admaja telah memberi mereka gambaran nyata mengenai sosok cantik yang asing itu.


"Aku tidak sempat datang, tapi selamat untuk pernikahan sekaligus ulang tahunmu Adrian."


Perempuan bergaun tosca hijau berkata lembut bersama senyum hangat. Rambut cokelatnya mengalir lembut bak sutera. Ia benar-benar cantik dengan make up sederhana hingga Neta yang berada tepat di depannya merasa seperti sedang berhadapan dengan apa itu yang disebut penjelmaan malaikat.


Adrian mengangguk sebagai tanggapan dan gadis itu mengalihkan perhatian pada satu-satunya gadis SMA di sana.


"Boleh aku tahu namamu? Aku Kania." Ia mengulurkan tangan.


Tak mau kalah Neta menjabat cepat melengkungkan senyum sopan. "Neta."


Pendek, bagi Neta ia tak perlu mengenalkan banyak mengenai dirinya. Toh, mereka tidak akan menjadi teman. Mereka hanya akan berinteraksi untuk saat ini saja.


"Leo."


"Rayden."


Masing-masing dua pria tersisa memperkenalkan diri setelahnya. Mereka tidak tampak menaruh minat lebih pada Neta cendrung mengabaikan. Pandangan mereka mengenai Neta cukup jelas, hanya seseorang yang terpaksa menjalin hubungan pernikahan demi bisnis. Mereka tidak harus menghormatinya paling-paling hanya seperti gadis lainnya yang biasa bersama Adrian.


Neta sedikit banyak bisa menangkap kesan itu dan menanggapinya dengan santai. Ia juga akan memperlakukan hal sama. Mereka hanya teman Adrian yang akan menjadi asing setelah pesta berakhir.


Untuk beberapa alasan Neta merasa sedang memerankan toko Clara stalbam yang tak sengaja masuk ke dunia empat musim bertemu badut-badut aneh yang menatapnya tak bersahabat.

__ADS_1


"Kuharap kamu tidak merasa canggung, ta." Dante berbicara mencoba memutus percikan api permusuhan dingin antara Neta dan sahabat-sahabatnya.


"Tidak sama sekali. Kalian hanya berbeda usia denganku tapi masih manusia dan bukannya para trol."


Neta mengembangkan senyum manis dalam diam merasa geli. Ini hanya seperti ia menjelajah ke dunia baru. Neta bersama Deandra sudah sering mengkhayalkan tak sengaja memasuki dunia asing yang isinya para monster. Jadi hanya bermain-main ke dunia orang dewasa bisa dibilang bukan apa-apa. Ia sudah mempersiapkan mental lebih dari itu.


Selain itu, Neta juga ingin memberitahu jika orang-orang dewasa ini berpikir bahwa ia akan menciut seperti kutu saat disemprot pestisida setelah menerima perlakuannya, maka itu salah.


Di tempatnya, Adrian mendengus. Keluar lagi pikirnya Neta si pengendali situasi. Sense humornya yang kelewat remaja itu sedikit banyak membuat Adrian terhibur. Ia tahu teman-temannya memandang gadis itu rendah hal yang mana akan jadi bumerang bagi mereka sendiri.


Belajar dari pengalaman Adrian tidak akan pernah mau berhadapan dengan istrinya itu jika urusan memojokkan orang lain. Secara umur Neta masih seorang remaja tapi pikirannya selangkah lebih dewasa dari anak-anak seusianya dan dengan cara yang aneh. Ia bisa menunjukkan pola pikir dewasa dengan sikap remaja.


"Ayo, mas tiup lilinnya."


Tepuk tangan terdengar membahana saat api yang melelehkan lilin padam. Semua orang dalam ruangan bergembira selagi Adrian memotong kue. Ia tidak benar-benar ingin merayakan hal semacam ini, bukan pada usianya lagi. Namun Adrian tak kuasa menolak saat melihat permohonan Kania yang begitu tulus oleh karenanya ia akan memberikan potongan pertama itu padanya.


Adrian baru akan menjalankan rencana saat sebuah gedoran lagi-lagi menginterupsi. Orang gila mana lagi sekarang? Adrian sedikit emosi karena moment pentingnya diganggu. Ia berdiri kasar hendak menuju pintu saat gaun ungu lebih dulu melewatinya.


Adrian terpaksa duduk lagi tapi juga tak jadi memberikan potongan kue. Ia memerhatikan punggung sang istri yang menerima tamu. Dari posisinya ia tak bisa melihat wajah si pengganggu tapi siapapun itu ia telah menerima kutukan dari Adrian.


"Kak, Vita?"


Neta memandang setengah tak percaya, bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Vita datang kemari. Mungkinkah dia tahu sedang ada perayaan ulang tahun Adrian sekarang? Bisa jadi, kakaknya itu naksir berat pada Adrian wajar jika ia memiliki informasi semacam itu.


"Ada apa?"


Vita sendiri menatap adiknya tajam. Ia tak percaya gadis itu berdiri santai, cantik, dengan gaun anggun di rumah Adrian, setelah membuat kepanikan gara-gara berlari seperti orang gila tadi.


"Kakak mencari kamu karena khawatir. Kamu berlari seperti orang gila. Kakak berniat memberitahu Adrian karena kamu tidak pulang."


"Oh, itu." Neta tidak memikirkan itu sama sekali. Kecemasan telah mengaburkan akal sehatnya. "Tadi ada salah paham sebenarnya. Maaf sudah membuat keributan."

__ADS_1


Neta tersenyum menyesal. "Kakak mau masuk? Lagi ada perayaan ulang tahun Adrian sama teman-temannya."


Vita pasti akan memarahinya Neta bisa melihat itu oleh karenanya ia harus segera menghentikannya. Meskipun artinya harus menjual Adrian. Neta meringis saat menyadari Adrian pasti akan marah besar.


"Oh, seharusnya kamu bilang dari tadi. Neta tolong kasih tahu orang rumah ya. Kakak mau menyapa Adrian dulu. Kamu tidak keberatan kan?"


Neta tersenyum kecil. Tentu saja tidak, ia malah senang bisa kabur dari sana. Neta baru akan melangkah menuju kebebasan saat suara Adrian mengalun dari balik punggungnya.


"Siapa?"


Neta mengerutkan bibir, memuji pemilihan waktu Adrian yang begitu tepat. Bagaimana takdir selalu punya cara untuk menghalangi dirinya kabur dari Adrian.


"Kak, Vita. Dia khawatir karena aku belum pulang."


"Hai, Adrian."


Vita menyapa gembira. Mandang penuh minat pada Adrian yang balas menatapnya masam.


"Neta bilang lagi ada perayaan ulang tahun. Aku boleh gabung ya."


Neta secara sengaja menyingkir memberi akses bagi Vita untuk melihat ke dalam. Di sebelahnya Adrian memberikan pandangan membunuh pada sang istri. Sadar bahwa itu semua sudah direncanakan.


"Boleh dong. Semakin rame semakin bagus."


Tanpa menunggu persetujuan Adrian Vita menarik Neta masuk. Keduanya duduk santai tanpa peduli tatapan orang-orang di sana. Vita bahkan dengan santainya memakan potongan kue pertama Adrian. Seakan hendak menunjukkan siapa yang paling sah menerimanya.


Di belakangnya Adrian mendesah pasrah. Ini akan jadi moment ulang tahun tak terlupakan bagi dirinya dan benar saja. Sepanjang acara baik itu Vita maupun teman-temannya saling melemparkan sindiran tajam mengubah acara yang seharusnya bahagia itu jadi pertempuran dingin.


Jangan bertanya bagaimana sang istri. Dia berada di pihak netral duduk manis, sesekali bersuara seolah sedang menonton drama politik.


Benar-benar sialan!

__ADS_1


TBC.


__ADS_2