
Neta telungkup di tempat tidur menutupi kepala dengan bantal. Di dalam benaknya moment beberapa menit lalu terbayang-bayang. Gadis itu menarik napas dalam mencengkram erat sprei pink bergambar bunga sakura itu hingga kusut.
Pada akhirnya Gita dijatuhi hukuman kurungan gudang selama dua hari dan penarikan segala fasilitas selama sebulan penuh. Keputusan sang kakek itu termasuk ringan mengingat ia pernah mengusir sepupu laki-lakinya dari rumah gara-gara ketahuan berbuat tak senonoh di sekolah.
Mau dipikirkan bagaimana pun keluarganya itu memang sudah rusak. Orang-orang di luar sana bisa saja beranggapan keluarga Baskoro itu rukun dan menjadikannya panutan. Namun di dalamnya mereka tidak lebih dari koloni-koloni kecil yang bertarung sengit memperebutkan kekuasaan.
"Tidak apa-apa," bisiknya pada diri sendiri.
Beberapa hari lagi ia akan bebas. Sang kakek sudah berjanji bahwa Neta akan diberi kebebasan setelah sebulan dan ia sudah tak sabar menunggu hari itu tiba. Saat di mana ia keluar dari sangkar Baskoro dan mengepakkan sayapnya dengan bebas. Ia tak perlu lagi menuruti aturan-aturan aneh sang kakek.
Neta baru saja memikirkan beberapa rencana jika nanti ia terbebas saat ketukan di pintu kamarnya terdengar. Itu pasti Nino, adiknya.
Neta bergerak malas, beteriak tanpa mengubah posisi. "Masuk aja, dek. Pintunya enggak dikunci."
Baiklah, tarik napas, pasang senyum. Neta sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak peduli betapa buruk keluarga Baskoro ia tak akan membiarkan sang adik terkena dampaknya.
"Ni ... "
Neta memutus kata-katanya sendiri, meluruhkan lengkungan senyum yang sudah dipersiapkan beberapa detik lalu.
"Ngapain kamu ke sini?"
Ia menegakkan badan sempurna, mengirimkan pandangan membunuh seolah dia serangga yang perlu dibasmi, pada sang pendatang.
"Menjemput istri, apalagi."
Adrian berdiri di ambang pintu, menyeringai. Sesaat matanya memindai kamar tidur sang istri. Sangat sederhana, cat dinding hijau, yang dipadukan dengan semua perabotan berwarna pink. Sekali lihat orang akan tahu bahwa pemilik kamar itu gadis remaja.
Tidak banyak perabotan yang menghiasi ruangan itu, hanya meja belajar, lemari, dan sebuah foto yang menampilkan Neta dan sang adik. Untuk beberapa alasan Adrian merasa bingung, istrinya itu seorang Baskoro, tapi bagaimana bisa kamarnya begitu simple? Bahkan ia tidak melihat hiasan seperti lukisan atau apapun di sana.
"Aku akan tidur di sini. Kalau sudah selesai, kamu boleh pulang," kata Neta kurang ajar.
Namun ia tak peduli, ia lelah, kepalanya masih dipenuhi dengan berbagai masalah keluarga. Ia tidak butuh tambahan Adrian untuk membuatnya jadi lebih pusing.
"Seorang istri harus tidur bersama suaminya."
Adrian menutup pintu, menatap istrinya yang bahkan belum mengganti seragam sekolahnya. Gadis itu masih mempertahankan tampang keluar dari kamarku sekarang.
"Pulang aja, aku capek."
Neta baru akan beranjak ke kamar mandi, menghindari segala bentuk konfrontasi dengan Adrian saat tiba-tiba lengannya di tarik. Tubuhnya yang tidak siap oleng, sesaat melayang dan mendarat di tempat tidur. Kedua tangannya di tahan di atas kepala dengan Adrian yang menjulang menutupinya.
Neta mengerenyit, dalam diam mempertanyakan mengapa dunia suka sekali mengulang adegan yang sama pada setiap manusia. Apakah tidak ada interaksi yang lebih bagus lagi? Misalnya tadi Adrian gagal dan terpeleset lalu kepalanya mencium marmer? Atau Adrian yang tersandung kakinya sendiri hingga mencium tembok?
Neta akan sepenuh hati mengapresiasi dan menuliskannya dalam buku catatan bila moment semacam itu tercipta tadi. Sayang sekali takdir lebih suka sesuatu yang klasik dan romantis dalam pandangan perempuan penyuka pria tampan
"Menyingkir," katanya menatap tepat ke mata Adrian. "Kau bau."
Neta bersumpah ia melihat sinar geli dalam mata Adrian sedetik lalu sebelum berganti sorot datar. Biar saja jika itu menyinggungnya.
__ADS_1
"Itu bukan sesuatu yang pantas untuk diucapkan pada suami." Cengkraman pada pergelangan tangannya menguat tapi Neta sama sekali tidak merasakan sakit. "Kenali batasanmu gadis kecil, hanya karena aku membiarkan kekurangajaranmu sebelum-sebelum ini, bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya."
Adrian menatap lamat-lamat wajah sang istri. Memperhatikan detail setiap sudutnya. Matanya berwarna cokelat terang, besar, jernih dan terlihat begitu murni. Hidungnya kecil, mancung, dalam porsi sempurna, dan bibirnya pink pucat yang begitu indah.
Untuk sesaat Adrian tertegun menyadari sesuatu. Apakah gadis ini benar-benar putri Hazar dan Aluna Baskoro?
"Aku akan mengingatnya, tuan. Sekarang lepaskan aku."
Caranya memutar bola mata, garis rahangnya, bahkan bagaimana dia mengekspresikan emosi, tak ada satupun dari itu semua yang memiliki kemiripan dengan kedua orang tuanya.
"Apakah Hazar dan Aluna itu benar-benar orang tuamu?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Adrian sadari. Kecuali bentuk matanya, Adrian tidak menemukan kesamaan di wajah mereka. Terutama dari fitur sang ibu, Adrian tidak mendapati satupun kemiripan.
"Kamu bisa melakukan uji DNA sendiri."
Neta tidak yakin ke arah mana percakapan ini. Oke, ini bukan kali pertama seseorang meragukan dirinya sebagai keturunan Baskoro mengingat bagaimana latar belakang sang ibu yang mantan penyedia jasa ranjang. Namun ibunya? Bagaimana Adrian bisa memiliki keraguan mengenai siapa ibu kandungnya.
"Aku akan mempertimbangkan itu." Adrian menyeringai. "Mandilah, kakekmu meminta kita bertemu di ruang kerjanya."
Adrian melepas belitan tangannya, menyingkir ke kursi belajar. Matanya tak lepas memandangi penampilan sang istri. Gadis itu agak kusut dengan rambut acak-cakan.
"Apalagi yang diinginkannya?"
"Mengapa tidak cari tahu sendiri?"
"Mengenai pernikahan kalian. Kakek ingin kalian menetapkan beberapa peraturan Sampai waktunya perpisahan." Pria tua itu menatap serius kedua pasangan dihadapannya. "Kalian setuju?"
Dalam sepersekian detik Adrian dan Neta saling melirik melempar tanggung jawab untuk membalas sang kakek.
"Peraturan apa? Seperti dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing begitu?"
Neta menyebutkan kata-kata yang sering dituliskan dalam buku novel romansa bertema pernikahan paksa yang sering diejek Deandra.
"Yah, semacam itu. Lagipula kalian akan berpisah secepatnya." Baskoro berbicara santai seolah-olah sedang membahas betapa indahnya langit biru.
"Aku tidak punya aturan yang mesti dipatuhi. Neta bebas melakukan apapun selama itu bukan hal yang akan memberi dampak buruk. Berselingkuh misalnya."
Adrian menyeringai, menggoda sang istri yang balas memelototinya.
"Kau yakin? Bukankah itu akan merugikan dirimu sendiri?"
Baskoro menatap tak suka. Bocah sombong itu sedang menantangnya.
Adrian mengangguk mantap. Ia tidak suka direpotkan dengan hal-hal semacam itu. Mereka sudah menikah sah di mata agama dan hukum, ya walaupun nantinya cuma beberapa hari. Namun tetap saja, baginya tak perlu ada aturan, ia tidak akan melarang istrinya melakukan apapun selama itu tidak merusak nama baiknya. Selain itu, Adrian seratus persen yakin, istrinya itu bukan pembuat masalah.
"Bagaimana dengan kamu, nak?" Baskoro bertanya lembut pada cucunya.
"Istrikan harus nurut suami, jadi Neta ikut mas Adrian aja."
__ADS_1
Adrian bersumpah, gadis itu menatapnya penuh cemoohan. Bahkan ketika ia menyebut kata mas Adrian rasanya seolah gadis itu sedang mengejek statusnya.
"Pikirkan lagi, nak. Kebebasan akan membuatmu rugi banyak."
Baskoro tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kedua pasangan itu. Bisa-bisanya mereka membebaskan aturan. Tidakkah mereka khawatir mengenai resikonya? Baskoro tahu betapa bejatnya Adrian itu dan dia tidak ingin cucunya terluka.
"Saya percaya sama mas Adrian, kek. Dia tidak mungkin berbuat aneh-aneh."
Neta tersenyum sopan pura-pura tidak menyadari tatapan mengancam yang dilayangkan Adrian.
"Kalo begitu, biar kakek yang menetapkan aturannya. Adrian kamu dilarang menyentuh cucuku dalam konteks dewasa sampai waktu perceraian." Sorot mata di balik kelopak mata yang sudah turun akibat penuaan itu menajam.
Di tempatnya, Neta menahan tawa pada pemikiran kuno kakeknya itu. Mana mungkin pria songong semacam Adrian tertarik pada dirinya. Vita saja yang jelas-jelas menawan dan dewasa masih tidak mampu menarik perhatiannya. Namun untuk kali ini Neta ingin berterima kasih, setidaknya kakeknya itu berniat menepati janji dan berusaha melindungi dirinya. Selain itu melihat Adrian terpojok memiliki kesenangan tersendiri baginya.
"Saya menolak," Adrian menjawab tegas. "Kakek bercanda? Bagaimana bisa kakek melarang suami menyentuh istrinya sendiri?"
Adrian mengulum senyum merasakan pandangan menguliti dari gadis di sebelahnya. Oh, gadis itu salah jika berpikir ia akan diam dan membuat istrinya itu di atas angin. Walau dia tidak berniat menyentuh istrinya lebih jauh dari sekedar ciuman bibir tapi bukan berarti dia bersedia dikekang oleh aturan konyol itu. Hanya orang gila yang melarang seorang suami menyentuh istrinya.
"Jangan lupa kalau itu cuma di atas kertas, nak. Kalian tidak benar-benar menikah." Baskoro tak pantang mundur di balik kelopak matanya ia melemparkan tatapan permusuhan.
Bagian itu mengingatkan Adrian pada seseorang. Rupanya kebiasaan sang istri yang menatap orang lain sebagai musuh itu menurun dari sang kakek.
"Saya bisa memahami alasannya tapi kek, pernikahan ya pernikahan. Entah apapun alasan yang mendasarinya. Kakek tidak bisa membuat aturan yang gila begitu."
Sungguh, Adrian pikir keluarga baskoro itu hanya sekedar kuno tapi rupanya juga aneh. Ia sudah sering mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa Baskoro yang ketat mengenai aturan hubungan dewasa sebelum pernikahan. Setelah insident yang menimpa Hazar, Baskoro melarang semua keluarganya melakukan hubungan intim sebelum pernikahan dan yang melanggar akan dicoret dari daftar keluarga.
Namun, mereka sudah menikah, walau bagaimanapun. Ia sah saja jika ingin menyentuh gadis itu.
"Neta setuju sama kakek. Enggak bakal ada hubungan ranjang selama pernikahan."
Neta tersenyum kecil, melemparkan pandangan cemooh pada Adrian yang mengerenyit masam.
"Kalo enggak ada hal lain lagi. Neta pamit, kek. Besok ada ulangan."
Setelah mendapat izin dari Baskoro. Neta meninggalkan ruangan tanpa memberi kesempatan bagi Adrian untuk memprotes.
Neta bersenandung kecil melangkah di lorong rumah keluarga besar Baskoro. Ekpresinya mirip seperti gadis berjubah merah yang baru saja berhasil mengantarkan kue pada sang nenek di tengah hutan. Dan, oh, ia juga mendapat bonus gara-gara berhasil menaklukkan serigala yang biasa mengganggu.
Neta tertawa geli, melirik Adrian dari balik bahunya. Itu dia serigala ranjang yang baru saja terkena jerat Titan tua bernama Baskoro . Kasihan sekali. Ia berhenti di depan kamarnya yang berkeramik batik bermotif kawat duri dan memutar haluan seperti balerina profesional.
"Mas, udah bisa pulang," katanya kurang ajar sangat kontras dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
"Kamu tahu apa yang baru saja kau katakan?" Ekpresi Adrian berkerut masih belum menerima bagaimana kesepakatan itu berkahir.
"Yah, dengan sangat jelas." Neta berhenti menatap sang suami dengan malas. "Udah deh ya. Jangan ngerepotin diri sama hal-hal gitu. Kamu bisa nyari perempuan lain kalo udah enggak tahan. Jangan kayak anak kecil yang enggak dikasih boneka favoritnya deh, ya."
Neta menggeleng meninggalkan Adrian yang terdiam tak habis pikir dengan cara kerja otak kedua kakek dan cucu itu.
TBC.
__ADS_1