Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
moment baru yang berakhir buruk


__ADS_3

'Selamat atas status barunya.'


Neta tak bisa menahan senyum lebar yang terus mengembang. Terpukau oleh perasaaan terlampau niat Deandra yang mengiriminya sebuket bunga dandelion bersama kartu ucapan cinta yang menyebalkan. Orang gila memang beda cara penyampaian cintanya, pikir Neta geli.


Matanya terus memandangi bunga cantik yang bermakna kebebasan, keberanian, dan rasa optimisme yang besar itu. Mananya yang melambangkan status janda? Yang ada itu justru berkebalikan. Neta kehilangan kata-kata, berterima kasih setulus hati pada Deandra. Setidaknya untuk saat ini, ia tidak yakin bila bertemu nanti. Deandra jelas akan habis-habisan meledek status barunya itu, tadi saja ketiga sepupu perempuannya tak henti-hentinya melontarkan kata-kata mengejek.


Kelopak dandelion bergoyang pelan saat angin berhembus lalu melayang pada detik berikutnya. Ia menari lembut di udara kosong tampak bebas dan cantik. Mata Neta terus mengikuti gerakkannya tak sadar akan keberadaan sebuah batu seukuran kepalan tangan yang berdiam hikmat di trotoar. Gadis itu gagal mempertahankan keseimbangan berlutut tak berdaya di kerasnya trotoar saat kakinya tersandung.


Buket bunga itu melayang bebas lalu jatuh di jalan raya dan seolah belum cukup sebuah roda hitam melindasnya hingga remuk. Beberapa kelopaknya yang cukup beruntung bertahan segera membebaskan diri melayang mengikuti irama sang angin. Sisanya hanya pasrah tanpa daya.


Apa ini?


Mengabaikan robekan kecil yang mulai basah oleh likuid merah di kedua lutut dan telapak tangannya, Neta terpaku dengan kening berkerut. Pikirannya entah bagaimana berkabut. Sebulan lalu ia juga mengalami moment buruk serupa yang melibatkan mobil merah. Saat itu ia tersiram air kubangan tapi apa yang sangat mengganggu pikirannya adalah hal yang terjadi setelahnya.


Neta tidak pernah percaya pada hal-hal berbau supranatural jadi yang namanya pertanda buruk itu hanya sugesti kosong belaka. Namun dunia tidak menciptakan suatu kejadian tanpa alasan. Satu moment akan menuntun pada moment lainnya begitulah garis takdir berjalan tapi memikirkan ke mana itu akan berlayar Neta tak bisa untuk tidak merasa khawatir.


Seolah-olah itu cenayang tak kasat mata yang sedang memberinya petunjuk.


Bagaimana pikiran muram seperti itu bisa muncul di kepalaku? Neta menggeleng kecil.


Bangkit berdiri dengan tenaga berlebihan. Neta mengatur diri menarik napas dalam berkali-kali. Baiklah, itu hanya sekadar kecelakaan kecil, tidak memiliki makna apapun. Hal semacam itu adalah kejadian umum dalam hidup manusia dan kebetulan saja sedang menimpa dirinya.

__ADS_1


Neta bisa saja menyemangati diri dengan pikiran positif tapi tampaknya pena yang bertugas menuliskan takdir tidak sedang berbaik hati padanya. Bab baru dari kisah kebebasannya dimulai dengan insident kecil yang menjadi dari awal bencana sesungguhnya.


"Leo memutuskan pertunangan kami. Berkat dirimu."


Pertemuan dua kulit terdengar keras diikuti bunyi kecipak seperti benda remuk berisi cairan yang pecah. Telur busuk, tak hanya satu tapi lumayan banyak, melayang beriringan dan semuanya mengenai Neta dengan telak. Itu berlangsung sangat cepat hingga Neta terlambat bereaksi di tambah kelelahan karena seharian berkutat dengan soal try out.


"Kau puas kan? Sudah berhasil menghancurkan hubunganku."


Hari sedang di fase pergantian siang menuju sore, bertepatan juga dengan waktu jam pelajaran sekolah berakhir. Kania mendatanginya di pintu gerbang tanpa basa-basi meneriakinya dengan kata-kata kontroversi beserta lemparan telur busuk. Mengundang banyak jiwa penasaran berkumpul.


Para siswa dan siswi SMA Sentosa serta merta berhenti ketika sala satu pelajar yang dikenal sebagai panutan di datangi oleh seorang perempuan. Terlebih kata-kata yang dilontarkannya, jelas mereka ingin tahu apa yang terjadi.


"Mbak Kania, bisa kita bicara di tempat lain saja?"


"Ada taman tak jauh dari sini."


Neta berjalan mengabaikan beberapa siswa yang terang-terangan mengeluarkan asumsinya. Neta sebenarnya tidak terlalu peduli tapi itu jelas akan menggangu kehidupan sekolahnya di masa depan.


"Tidak perlu, aku cuma ingin memberitahumu. Siapa tahu kau mau merayakannya."


Neta terpaksa memutar haluan, sesaat pandangannya teralihkan oleh wajah-wajah teman satu sekolahnya. Ia menarik napas dalam. Ibunya pernah berkata bahwa seseorang yang sedang patah hati biasanya berubah menjadi dua sosok zombie dan monster. Dan Kania menjelma sebagai sosok kedua.

__ADS_1


"Aku tidak tahu mengapa mbak Kania bisa berpikiran begitu karena sejujurnya aku tidak memiliki alasan untuk melakukannya, tapi apa kau sudah puas sekarang?" Neta mendengus lelah dan sinis. Mempertanyakan di mana otak Kania. Perempuan itu sungguh ...


"Mempermalukanku? Itu tujuan sebenarnya kan?"


Ada banyak cara untuk membalaskan dendam sebagai pelepasan emosi dan Kania memilih metode klise sekaligus paling efektif. Menarik dukungan simpati dari khalayak umum dan berlagak sebagai korban.


"Kau sudah berhasil, sekarang enyahlah." Sebuah pandangan mengejek dilemparkan Neta pada Kania yang memasang wajah angkuh. Dirinya yang anggun dan lembut entah menghilang ke mana."Kau itu sudah buruk, tidak perlu lebih menunjukkan seberapa menjijikan dirimu lebih lama lagi."


Dengan satu tarikan napas terkahir gadis itu benar-benar akan pergi tapi kalimat Kania selanjutnya sangat menusuknya. Itu bukan hanya sekedar kata-kata provokasi itu benar-benar menghina dan dalam hal ini status masa lalu sang ibu dilibatkan.


"Satu ******* akan menghasilkan ******* lainnya." Kania menyeringai. "Kasian sekali Adrian harus terikat dengan orang sepertimu."


Tangan Neta mengepal erat sementara pikirannya berkabut oleh amarah yang tersulut. Membawa sesuatu di luar konteks hanya untuk memenangkan perdebatan Kania benar-benar tak terselamatkan. Neta tidak menyadari bagaimana prosesnya yang ia ingat matanya balas menatap Kania erat enggan melepaskannya barang satu detikpun. Lalu telapak tangannya memanas dan wajah Kania yang berpaling ke samping.


"Beginikah? Selera Adrian? Sangat rendahan." Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sedangkan matanya bersinar dalam keprihatinan. "Jangan mendorong diri terlalu jauh mbak Kania. Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan mendatangiku seperti ini. Sebaiknya mbak pulang, berkaca dan lihat seberapa menyedihkan dirimu."


Kemarahan dalam dirinya meluap-luap, sementara pikirannya mulai mempertimbangkan banyak hal, bagaimana jika ia meladeni Kania saja. Beradu fisik lalu menjadi tontonan dan berkahir di kantor polisi. Tentu saja keluarga besarnya akan terlibat dan permasalahan yang selama ini tidak pernah ia ceritakan pada sang ibu akan terbongkar. Selain itu adegannya jelas akan menghiasi laman internet dan menerima banyak kritikan menghina.


Orang-orang akan mengatai mereka bodoh dan sebagainya. Lalu identitas mereka akan digali dan lagi status ibunya akan diungkit. Neta tidak peduli dengan dirinya tapi ada beban nama baik keluarga yang harus dipertahankannya. Sayang Kania itu terlalu buta dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Ah, tentu saja, monster mana punya pikiran.


Setelah berbagai pertimbangan matang yang nyatanya hanya satu menit itu. Neta benar-benar pergi. Silahkan jika Kania berniat menjadikan diri sebagai objek tontonan lebih lama tapi dirinya menolak.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2