Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Lamaran


__ADS_3

Setelah rangkaian angka dan huruf yang merupakan kode password menyala dalam suara 'klik' pintu besi mengkilat itu terbuka. Adrian berdiri melangkah masuk hanya untuk membeku pada detik selanjutnya, penyebabnya adalah dua orang yang belum ingin dipertemukannya tapi entah bagaimana sudah bertemu. Ia mengedip pelan, kilatan gelisah melintas sesaat dalam sorot mata tajamnya.


"Papa." Adrian bertanya masih berusaha menghilangkan sisa rasa panik yang mengancam akan naik lagi. "Sedang apa di sini?"


Pandangannya bergeser cepat pada sosok satunya yang juga tengah balas menatap dirinya. Mereka tidak saling berbicara tapi dari pandangan beberapa detik itu Adrian tahu sesuatu yang berusaha ia sembunyikan itu sudah terbongkar.


"Ada beberapa hal yang ingin papa bahas, masalah perusahan, tapi kau sedang keluar jadi Neta menemani papa selagi menunggu."


"Kita bisa bicarakan itu di ruang kerja."


Adrian mengambil sikap hati-hati, seperti kucing terpojok dengan manusia bersama seember air ditangan dan siap menyiramnya.


"Nanti saja, kurasa kalian lebih butuh waktu bicara di banding masalah perusahaan."


Aditama bangkit setelah melempar senyum pada sang menantu, menepuk bahu Adrian pelan seakan memberi semangat. Ia kemudian pergi meninggalkan kedua pasangan suami istri yang berdiam canggung.


Atmosfer ruangan berubah cepat seiringan penghuninya yang berganti. Neta masih dalam posisi duduk melipat tangan tanpa sedetikpun melepaskan pandangan dari Adrian. Mata dan raganya ada di sana tapi pikiran Neta sedang berkelana pada pembicaraan dengan ayah Adrian beberapa menit sebelumnya.


Keduanya tetap tersandung dalam situasi canggung pada menit-menit berikutnya. Mereka masih belum cukup dekat untuk bisa saling percaya. Untuk bisa saling mengakui perasaan masing-masing. Itulah kenapa Adrian berencana menyelesaikan dulu satu persatu masalah yang ada sebelum memulai hubungan dengan cara yang ia yakini benar.


"Neta ..."


"Aku sudah mendengar apa yang perlu di dengar dan tahu apa yang perlu diketahui."


'Adrian tidak tahu bagaimana cara menunjukkan cintanya dengan benar'


Percakapan dengan ayah Adrian beberapa menit lalu melayang di benak Neta. Kata-kata itu mengindikasikan makna yang sangat jelas tapi hati perempuan akan jadi egois jika itu menyangkut perasaan terhadap lawan jenis. Neta pun tak luput darinya ia ingin Adrian mengatakannya sendiri. Demi kepuasan pribadi supaya ia bisa mengambil langkah, ke mana hubungan ini akan di bawa.


Sudut bibir Adrian berkedut mendengar kalimat selaan bernada tajam menusuk itu. Bahkan dengan pengalaman bisnis selama bertahun-tahun, menghadapi berbagai jenis kepribadian orang-orang, Adrian selalu merasa tak cukup cakap ketika berbicara dengan Neta sebagai lawannya. Entah karena gadis itu sangat berbakat dalam menciptakan situasi yang memojokkan orang lain atau Adrian yang sedang berusaha keras menjaga image agar mendapat kesan bagus. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan.


"Dan aku merasa itu cukup, tapi aku ingin tahu alasannya. Mengapa kau melakukan itu?"


Menebak jalan pikiran Adrian sama susahnya dengan mengurai buntalan earphone yang dimasukkan ke dalam saku. Neta tidak tahu harus membuka simpul yang mana agar sisi kiri dan kanannya berada dalam jalur benar. Ia perlu mengamati dengan teliti agar tidak membuat semakin rumit selagi mempertahankan jalur supaya inti utamanya tidak rusak.


Mengapa? Adrian mendesah lelah mengambil posisi duduk cukup dekat dengan Neta. Jika ini Kania semua akan selesai dengan kata ; aku mencintaimu dan sebuah pelukan erat. Namun dengan Neta sebagai lawannya, Adrian terpaksa mempekerjakan otak lebih keras.


"Aku ingin kau menjadi koki di dapurku, tapi ..."

__ADS_1


Adrian mengakui dengan lemah, merebahkan kepala di sandaran sofa, menatap plafon gelap di atasnya.


"Dengan sikapmu yang sepanjang waktu membenciku itu rasanya sangat sulit. Aku tidak punya pilihan selain menggunakan cara curang itu untuk menahanmu."


Dengan status pernikahan yang mengikat, Adrian berharap bisa memiliki kesempatan untuk mengubah pandangan Neta selagi mengusir para kumbang lain yang berniat mengganggu. Namun rupanya itu masih tidak cukup kuat, ia harus mendapatkan hati gadis seutuhnya.


"Aku tidak pernah membencimu, Adrian." Kata-kata itu lepas begitu saja sebagai tanggapan. "Aku hanya ... Tidak tahu bagaimana cara menerima dirimu.


Sepanjang waktu yang bisa diingatnya, Neta melihat laki-laki dewasa sebagai kuman yang perlu dijauhi tak terkecuali Adrian. Namun seiring berjalan waktu ketika mereka mulai saling mengenal lewat moment-moment aneh yang secara kebetulan tercipta.


Pandangannya sedikit terbuka, walaupun agak menjengkelkan untuk diakui, tapi cara Adrian memperlakukan Kania membuatnya berpikir bahwa tidak semua laki-laki seperti ayahnya, atau bajingan di masa kecilnya. Ada juga yang jenisnya seperti Adrian, yang bodoh dan gila.


"Karena aku tumbuh besar bersama pikiran tentang tidak mau berhubungan dengan laki-laki. Konsep hidup bersama lawan jenis sama sekali tidak terpikirkan, sampai kau datang dan mengacak-acaknya."


Neta tertawa kecil, menyadari bagaimana pias penilaiannya.


"Tapi kau selalu datang, kapanpun aku memanggilmu. Kenapa? Bukankah itu berkebalikan dengan keinginanmu?"


"Aku tidak tahu, Adrian," Neta mengakui jujur." Aku hanya merasa itu benar untuk dilakukan dan melakukannya. Itu saja."


Neta, untuk pertama kalinya menyeringai, merasa lega karena situasi antara mereka sudah mencair. "Pertanyaan sama, bagaimana kau bisa hidup dengan setiap waktu hanya memikirkan cara mendapatkan Kania?"


"Aku tidak," bantah Adrian cepat yang disambut sorot mencemooh oleh Neta.


"Tapi kau tetap mendampingi Kania sepanjang waktu, walau tau itu akan memberi kesan buruk bagi imagemu."


Kania adalah obesesi gilanya, Adrian mengakui, tapi kebersamaan mereka selama beberapa bulan memberitahu Adrian bahwa perasaanya pada perempuan itu bukan sepenuhnya cinta laki-laki dan perempuan.


"Untuk memuaskan ego Adrian muda yang terluka selama bertahun-tahun. Aku harus bersamanya."


Apa yang membuat Adrian marah bukanlah sosok Kania yang direbut tapi perhatiannya, kebaikannya. Setelah Leo datang Adrian harus membagi itu semua dan fakta itu membuatnya gelap mata.


"Aku tidak tahu apa yang kuinginkan dari kania dan mencari tahu, tapi hasilnya lebih buruk dari dugaanku. Menurutmu apa hal terpenting dalam sebuah hubungan asmara laki-laki dan perempuan?"


Ekspresi Adrian berubah serius.


"Cinta, kepercayaan, rasa tertarik." Neta menyebut acak membuat Adrian tertawa.

__ADS_1


"Dan jika kau berniat melanjutkan ke jenjang pernikahan."


Ini adalah pertama kali Adrian melihat Neta terbungkam dan itu entah bagaimana membuatnya merasa senang dengan cara yang menakjubkan. Tidak peduli betapa cepat gadis ini beradaptasi dengan segala sesuatunya, pada titik tertentu ia tetaplah seorang remaja yang belum berpengalaman.


"Keturunan ..."


Melihat kelengahan Neta dalam moment sesaat itu. Adrian mengambil kesempatan mendorong gadis itu cepat dan memojokkan Neta dalam titik buta. Ia tidak akan bisa bergerak melakukan perlawanan sekarang. Adrian menyeringai sengaja mendekatkan wajah mereka hingga kulit pipi keduanya bersentuhan, memiringkan wajah lalu berbisik pelan.


"Kebutuhan biologis."


Adrian tersenyum menikmati reaksi tegang Neta yang tampak lucu baginya. "Kau tidak bisa membuat rumah tangga tanpa itu."


Neta merasa sesak ketika Adrian mencuri kebebasan tubuhnya. Saking dekatnya Neta bisa merasakan gesekan kain yang melekat pada tubuh masing-masing. Suaranya agak tercekik ketika berbicara.


"Dan hubungannya dengan Kania?"


"Dia tidak bisa membangkitkan sisi itu."


Cintanya pada Kania murni keinginan untuk tidak membuat perempuan itu menangis dan terluka. Namun bukan jenis di mana ia bersedia hidup bersama pasangan. Ketika mengingat kenyataan bahwa satu-satunya sentuhan fisik yang mereka lakukan hanyalah sebatas pelukan. Adrian merasa bodoh tapi ia tak akan mengakuinya.


"Jadi, maukah kau menjadi koki di rumahku?"


Pikiran Neta berputar dan pecah saat napas Adrian menerpa lehernya. Kewarasannya ditarik oleh hal lain yang Neta tahu itu berbahaya dan kesusahan berjuang melawannya.


"Kalimatnya agak beda dari kebiasaan bagaimana umumnya lamaran di lakukan."


Adrian mengangkat wajah, menyeringai lebar saat melihat bagaimana reaksi Neta terhadap kedekatan mereka. Sempat terbersit dipikirannya untuk menggoda lebih lama tapi pembicaraan mereka harus di tuntaskan dan Adrian tidak ingin merusaknya.


"Kita sudah menikah, jadi kata-kata biasanya tidak cocok."


"Aku tidak pandai memasak ..." Neta bergerak gelisah. "Kau mungkin akan keracunan, sekarat, dan mati, jika kau tidak masalah dengan itu. Aku bersedia."


Ah, maknanya sudah jelas. Adrian tersenyum lebar.


"Deal."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2