
Pada saat Neta dan Kania keluar dari dapur dengan nampan masakan di tangan masing-masing tiga puluh menit setelahnya. Adrian menyadari sesuatu telah terjadi selama proses memasaknya. Apapun itu jelas bukanlah hal bagus. Kalau tidak Kania tidak akan memasang wajah masam seolah wilayahnya direbut. Sangat kontras dengan gadis satunya yang tersenyum kecil seolah menemukan harta Karun.
Apa yang terjadi?
Leo yang tampaknya menyadari hal serupa buru-buru berdiri membantu Kania. Ia bahkan mempersilahkan perempuan itu duduk lebih dulu. Adrian sendiri terlambat bereaksi dan hanya bisa berdiam saat Neta meletakkan makanan di hadapannya.
"Silahkan, mas."
Senyum serta tutur sapanya yang kelewat riang menimbulkan rasa tak enak di mulut Adrian. Makanan yang disajikan terlihat sangat menggugah selera tapi mengingat siapa yang sudah memasaknya Adrian jadi sungkan. Neta tidak memasukkan sesuatu yang aneh kan di sana?
"Sudah kubilang, Ta. Mas Adrian tidak suka masakan jenis itu," Kania berkata agak pongah saat Adrian tidak kunjung menyantap hidangan yang tersaji bahkan setelah beberapa menit. "Kamu ngeyel sih."
Alis Neta bertaut memandangi Adrian yang masih terdiam tanpa ada tanda-tanda akan mulai menyantap makanan. Pria itu memandangi hasil masakannya dengan eskpresi seperti melihat kecoa.
"Ya sudah sini, makananya." Tanpa di duga Neta meraih nampan yang ada menarik piring ke hadapannya. Lalu mengambil hidangan di meja Leo membaginya menjadi dua lalu meletakkannya di depan Adrian. "Nah, kelar kan masalahnya."
Kompak ketiga orang itu terdiam. Kesulitan mencerna gerakan Neta yang terlalu cepat. Apa ini? Pikir Adrian, gadis itu bahkan sengaja membawa piring kosong. Seakan ia sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
"Kalian bisa sama-sama menikmati masakan mbak Kania."
Cara bicaranya yang seolah mengatakan makna lain itu sontak saja membuat Kania berang. Dahinya berkerut selagi menatap tajam pada Neta yang menyeringai. Gadis itu seolah sedang mengejeknya dirinya dengan makanan yang ada.
Adrian sendiri hanya bisa mendesah lemah terlambat mengantisipasi. Mengapa ia bisa lupa kalau istrinya itu memiliki pikiran ekstrim dan tak segan mempraktekkannya.
__ADS_1
Mengabaikan segala jenis reaksi dari ketiga orang dewasa itu. Neta berdiri lugas membawa nampan berisi masakannya, berjalan di bawah tatapan tiga pasang mata lantas membuang isi piring ke tong sampah terdekat.
Ia tidak peduli dengan tatapan heran dari para pelanggan yang kebetulan ada di lokasi. Sejenak Neta menatap diam masakan yang susah payah ia buat itu. Wajahnya pias tanpa emosi lalu menjadi sangat ceria saat berbalik.
Ia duduk santai di sebelah Adrian yang mengeraskan rahang. Mengapa jadi kacau begini, pikirnya agak emosi. Leo dan Kania sendiri tampak tertegun tak percaya dengan apa yang baru saja berlangsung.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Adrian sangat dalam bukti bahwa ia sedang menahan emosi saat bertanya.
"Membuangnya, apalagi," balas Neta santai. "Lebih baik ia di tempat sampah dimakan oleh lalat ketimbang di atas meja tapi terabaikan."
Adrian dibungkam telak, itu bukan hanya sekedar pernyataan faktanya ada lebih banyak maksud dari yang tersampaikan. Neta telah memutuskan untuk membuat ketiga orang yang menariknya dalam drama cinta itu mendapat peringatan sedini mungkin. Adrian adalah tujuan utamanya. Pria yang berstatus suaminya itu jelas memiliki tujuan lain dari sekedar makan siang saat mengundangnya ke sini dan Neta tidak menyukainya.
Di arah diagonalnya Leo yang semula cuma diam tanpa banyak berpartisipasi sedikit terpancing. Mereka sudah dewasa jelas bisa memahami maksud lain dari perlakuan gadis kecil itu dan untuk beberapa alasan ia tersinggung. Istri rivalnya itu secara terbuka mencemooh hubungan ketiganya dan karena itu datang dari orang asing dan masih kecil. Leo benar-benar marah.
Leo mengirimkan pandangan dingin. Berdiri kasar pada detik berikutnya. Wajahnya dipenuhi emosi dengan tangan mengepal erat. Pertama Adrian sekarang istrinya terus saja orang-orang itu mengusik hubungannya dengan Kania.
Leo sadar bahkan sebelum ia memutuskan untuk mendekati kania bahwa akan ada banyak rintangan yang datang. Namun ia juga tidak bisa mengendalikan perasaannya. Jika bisa ia tidak akan memilih untuk jatuh hati pada Kania tapi apa boleh buat kan? Hatinya lah yang menentukan.
"Leo, tunggu."
Kania buru-buru berdiri mengejar Leo yang menuju parkiran. Sesaat ia melemparkan tatapan sengit pada Neta yang memasang tampang biasa.
Di kursinya Adrian menatap adegan itu dengan pikiran berkecamuk. Rahangnya mengeras sementara pikirannya berkabut oleh emosi. Mengajak Neta kemari adalah kesalahannya tapi tidak berarti ia akan diam saja melihat gadis itu seenaknya. Inilah kenapa ia tidak suka bersikap lunak pada gadis lain selain Kania, mereka jadi besar kepala. Ia mungkin berbeda dari gadis lain tapi Baskoro tetaplah Baskoro. Mereka menjijikan.
__ADS_1
"Karena kau sudah sangat berani barusan. Kurasa tidak masalah jika pulang sendiri."
Suara Adrian sangat dingin pun pandangan matanya. Langkahnya sangat kasar saat meninggalkan Neta yang terdiam.
Neta memandangi mobil Adrian yang mulai melaju sampai hilang ke jalanan ramai. Ia menghela napas lalu bertopang dagu. Ah, dunia orang dewasa rumit dan egois pikirnya muram. Mereka boleh seenaknya membawa orang lain masuk tapi tidak mengizinkan untuk mencampurinya.
Neta memandangi makanan yang sia-sia itu dengan perasaan sedikit perasaan bersalah. Ia berjalan keluar sambil melamun memikirkan kejadian barusan. Apa yang akan terjadi kalau ia tidak bertindak seperti tadi? Tentu saja mereka masih akan ada di sana duduk santai menikmati makanan sambil melemparkan omong kosong.
Neta mendengus berjalan di sepanjang trotoar kota yang bising oleh berbagai suara. Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat tapi sengatannya masih terasa. Ia melihat beberapa taksi kosong yang lewat tapi memutuskan untuk tidak menghentikannya. Ia tidak ingin pulang sekarang atau setidaknya sampai pikirannya tenang.
Setelah ini akan jadi bagaimana Neta pusing memikirkannya. Ia sudah berusaha keras untuk tetap terkendali membaca situasi agar nantinya tidak berujung pada hal kurang menyenangkan. Namun sikap Kania di dapur tadi sedikit menyinggungnya padahal ia hanya ingin memastikan hubungan ketiganya tapi malah berakhir seperti itu . Adrian jelas marah pria itu bahkan mungkin tak akan lagi sudi melihat wajahnya.
Neta menarik napas dalam. Mungkin aku memang kasar tadi, pikirnya sesaat menyesal tapi kemudian menggelengkan kepala. Tidak, itu tidak sepenuhnya salahnya. Ketiga orang dewasa itulah yang salah. Merekalah yang memaksanya terlibat.
Neta kemudian mendudukkan diri di sebuah bangku menatap kosong jalanan yang ramai oleh berbagai aktifitas penghuninya. Ia tenggelam dalam pikirannya mengabaikan semua hal termasuk kenyataan bahwa hari sudah gelap. Kalau saja gadgetnya tidak berbunyi dan kemarahan sang mama yang mengingatkannya untuk segera pulang. Neta bisa jadi akan terus di sana sampai larut malam.
"Iya, ma, ini mau pulang."
Tangannya baru akan menghentikan sebuah taksi saat mobil hitam berhenti tepat di depannya. Pintu depan menyusul terbuka dan wajah Dante yang tersenyum terlihat.
"Ayo masuk. Tidak baik malam-malam gini jalan sendirian."
TBC.
__ADS_1