Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Rahasia kecil


__ADS_3

Deandra menghentakkan kaki melepas emosi yang menggelegak dalam dadanya. Sesekali ia memukuli dinding toilet sambil berteriak kecil tak peduli pada orang yang kebetulan berada dalam satu ruangan. Ia menarik napas dalam cucu tertua pemilik perusahan farmasi health group itu meraih gadgetnya kemudian berkata.


"Adrian Admaja."


Kurang dari lima detik serangkaian informasi bermunculan dari mesin pencari google. Deandra membaca satu persatu tak ingin melewatkan hal sekecil apapun. Namun sampai ujung layar tak bisa digeser lagi informasi tentang Adrian hanya mengenai hal umum. Kebanyakan dari itu menuliskan prestasi yang ia raih selama karirnya sebagai CEO sebuah perusahan arsitek terkemuka. Tak bercela sama sekali.


Deandra cemberut kecewa menyadari pria itu tak memiliki nilai minus. Ah, menyebalkan pikirnya. Apakah pria itu benar-benar manusia? Jangan bilang yang menciptakannya itu bukanlah Tuhan tapi seorang author novel romance dan Adrian itu sebenarnya makhluk dari dalam buku.


"Tidak, tidak, itu kelewat gila."


Ia tertawa sendiri, menyadari sudah bertingkah konyol. Sekali lagi Deandra menarik napas dalam memperbaiki diri sebelum menemui pasangan suami istri itu. Namun pada saat Deandra kembali bukan Adrian yang bersama Neta melainkan sepasang kekasih muda yang begitu serasi. Deandra tak mengenalnya tapi membaca dari respon Neta yang meladeninya dengan baik mereka sudah saling kenal.


Deandra mendekat melipat lengan memindai pasangan baru itu dengan tajam. Sang gadis sangat cantik seperti para elf sementara si pria begitu mempesona seperti pangeran negeri dongeng. Deandra memukul diri sendiri dalam benak, mengapa ia selalu mengaitkan sesuatu dengan hal-hal berbau fantasy.


"Kenalan, lo, ta?"


Di sisi lain, Kania dan Leo tak sengaja bertemu Neta itu, jadi merasa canggung. Sikap angkuh dan pandangan tajam yang seakan berkata ; enyahlah, dari Deandra membuat mereka tak nyaman. Mau pindah pun sudah terlanjur duduk. Jadilah keduanya saling pandang.


"Temennya, Mas, Adrian."


Jawaban pendek Neta serta merta meleburkan pikiran mengagumi Deandra. Ekspresinya bertambah garang seakan dua orang itu benalu menjijikkan yang tak pantas hidup.


"Oh."


Deandra secara terang-terangan menganggap mereka tak kasat mata. Jangankan ada niatan memperkenalkan diri menatap mereka saja sudah enggan. Teman Adrian pasti menyebalkan seperti pria itu, putusnya final.


"Kok bisa sih, Lo tahan, sama orang model Adrian." Deandra menaruh sepenuhnya atensi pada Neta duduk dengan kasar. Tangannya meraih cepat minuman dingin di atas meja menelannya dalam satu sedotan. "Kalo jadi Lo, seminggu udah jadi cacing tanah itu orang."

__ADS_1


Leo terbatuk pelan mengerenyit. Ia tak tahu apa masalahnya hingga gadis satu itu berkata begitu kejam mengenai Adrian. Namun ia cukup tertarik dengan fakta itu. Selama ini ia mengenal Adrian sebagai penakluk perempuan. Tak peduli berapa usianya para perempuan biasanya akan menatap pria itu dengan mulut menganga.


Di sebelahnya Kania merengut tak suka. Apa-apaan kata-kata jahat itu. Ia melemparkan pandangan pada Neta yang merupakan istri Adrian. Bisa-bisanya gadis itu diam saja mendengar orang lain berkata buruk mengenai suaminya.


"Memangnya Adrian ngapain kalian?"


Kania mencoba tak terpancing emosi bertanya dengan lembut. Ia tak tahu duduk persoalannya jadi tidak bisa sembarangan masuk.


"Dia definisi sempurna dari kata menyebalkan dan narsis." Deandra memandang pasangan dewasa itu secara bergantian kemudian melanjutkan. "Mbak, sama mas, temennya kan? Bisa tolong bawa dia ke dukun enggak? Minta usir jin songong yang mendiami badannya. Biar inget diri dia tu manusia."


Baik Kania maupun Leo sama-sama bingung tak tahu harus merespon bagaimana. Namun satu hal di pikiran keduanya. Adrian pasti sudah tak waras. Mau-maunya mencari gara-gara dengan para bocah.


"Kayaknya, tugas itu lebih cocok dilakuin sama Neta deh." Kania berkata hati-hati. "Kan, Neta istrinya."


Ditatap tiga pasang mata membuat Neta yang sedari awal diam santai jadi penonton terpaksa ikut ambil bagian dalam pembicaraan. Adrian memang tidak menerapkan aturan dalam rumah tangga mereka, tapi ia kedua temannya ini mengadu yang tidak-tidak. Itu bisa menimbulkan masalah lain. Pria itu pendendam dan jika ia memutuskan untuk membalas maka Neta lah yang akan menerima resikonya.


"Ntar, aku coba bawa ke dukun deh." Neta tersenyum canggung, buru-buru mencari topik lain sebagai pengalih perhatian. "Kalian, lagi kencan?"


"Enggak, ini tempat kerja kita." Melihat ekpresi terkejut dari kedua gadis itu Kania segera menambahkan. "Kafe ini punya kita, termasuk Adrian. Dia yang membangun dan mendesain kafe ini."


Oh, jadi itu alasan mengapa Adrian ngotot ingin bertemu di sini. Neta mengangguk kecil, melemparkan pandangan ke seluruh penjuru kafe. Ia tidak benar-benar memperhatikan tadi, tapi jika di lihat-lihat memang rasa Adrian sih. Mewah dan songong.


Lihat saja pemilihan lokasinya, seolah ia menantang gedung-gedung besar di luar. Paduan warna elegan yang memanjakan mata dan perabotannya yang super mengkilat sampai nyamuk saja jatuh kalau hinggap.


"Adrian enggak cerita, ya?"


"Belum, dia sibuk terus mbak."

__ADS_1


Mana mungkin Adrian akan cerita. Berbicara berdua saja jarang.


"Mbak koki?" Deandra tiba-tiba tertarik.


"Cuma sampingan kok. Kafe ini bisa dibilang rumah kita semua. Kalo lagi ada reuni ato sesuatu yang penting biasanya kami berkumpul di sini."


Wah, itu berita baru. Deandra menyeringai kecil. Ia mungkin akan menemukan sesuatu jika sering mampir ke sini.


"Kalo, masnya?"


"Donatur, mas Leo yang nyediain modal."


Senyum bangga yang dilukiskan Kania saat menatap Leo tak luput dari pengamatan keduanya. Sesaat Deandra dan Neta saling lirik menyampaikan pikiran mereka yang tampaknya sama.


"Kenapa bukan Adrian aja? Dia kan kaya." Nada bicara Deandra selalu menjadi tak bersahabat saat menyebut nama Adrian.


"Karena sudah menjadi tugas saya untuk memodali tunangan saya."


Leo mendecak tak suka. Ekpresinya berubah kesal. Rasanya seolah ia terus-terus dibandingkan dengan Adrian. Hidup nya selalu dibayang-bayangi Adrian. Adrian kaya, tampan, lebih dalam segala hal dari dirinya.


Kania yang menyadari itu segera mengajaknya undur diri. Kedua gadis muda itu tak tahu apa-apa dan ia tidak ingin sesuatu terjadi. Tunangannya agak sensitif bila bersangkutan dengan Adrian.


"Kalian lanjut aja, kami mau ke belakang dulu."


Neta dan Deandra kompak mengangguk mengantar keduanya dengan senyum bahagia. Dari tadi kek, pikir Deandra sementara Neta lain lagi. Ia memandangi pasangan itu lama. Matanya tanpa sadar menatap nama kafe. Ak, Adrian Kania.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2