
Aku dan harem-harem suamiku.
Begitulah kira-kira judul adegan dalam kisah kali ini. Neta yang sedang memerankan protagonis wanita utama merasa geli seketika dengan pikirannya sendiri. Ia menarik napas dalam mengatur raut wajah senormal mungkin. Orang lain tak perlu tahu betapa ngawur pikirannya sekarang.
Di depannya Adrian memasang tampang masam seperti orang yang baru saja dijejali buah belimbing besi. Neta gatal ingin mengambil gadgetnya dan mengabadikan moment bersejarah ini. Kapan lagi bisa melihat wajah nelangsa pria itu? Adrian Jelas tidak senang akan keadaan yang menimpanya sekarang, tapi Neta tak peduli. Ia akan menikmati akan bagaimana kelanjutan adegan ini.
Bagaimana situasi ini bisa tercipta? Mari putar ulang sedikit waktunya.
Tepat beberapa menit lalu, saat Neta masih sibuk mengenai kemungkinan porsi hidangan kafe yang pastinya irit bahan, Vita yang berjalan terlebih dahulu tak sengaja melihat Adrian. Tak sengaja, Neta menekan kan itu dalam pikiran, tak sengaja yang di sengaja.
Ia lantas menghampiri, menyapanya dengan lembut, plus tampang wajah kaget pura-pura. Lalu setelahnya meminta untuk bergabung di meja makan yang sama. Adrian jelas menolak ide itu sampai ia menyadari sosok lain bersama Vita. Gadis kecil yang sedang balas menatapnya dengan sorot mata cicak saat menemukan nyamuk malang di dinding.
Tak perlu punya otak Albert Einstein untuk menerka apa kira-kira isi pikirannya. Senyum manis yang dilukiskan maupun tingkah santai yang ia tunjukkan sudah memberikan gambaran nyata. Sialnya, Adrian merasa terintimidasi oleh itu semua. Istrinya itu tak bisa ditebak jalan pikirannya dan ia tidak bisa memadamkan rasa khawatir yang menyala-nyala.
"Maaf ya, kita jadi ganggu."
Vita tersenyum ramah duduk dengan anggun di sebelah Adrian. Ia sengaja memilih posisi itu untuk menunjukkan dominasinya.
"Enggak, rame malah asik kok."
Perempuan bersama Adrian yang menjawab. Ekspresinya menahan kesal. Ia jelas tidak menyukai situasi ini.
Neta sendiri duduk berhadapan dengan Vita yang mana membuat Adrian leluasa menatapnya. Neta menyadari pandangan yang mengarah padanya balas tersenyum seadanya seolah fakta bahwa sang suami tertangkap basah bermain di belakangnya itu bukan apa-apa.
Betapa baiknya Dewi Fortuna, pikirnya bahagia. Neta akan memanfaatkan situasi yang ada untuk membalas Adrian agar kehilangan muka. Dasar tukang desah, belum apa-apa sudah selingkuh aja.
__ADS_1
"Kalian sedang kencan?"
Adrian tersedak makanan yang sedang dikunyahnya saat mendengar pertanyaan menyudutkan itu. Ia terbatuk hebat dan berdeham kecil setelah menguasai diri.
Di arah diagonalnya, Neta menggigit bibir menahan tawa lebar yang sudah diujung tenggorokan. Dalam hati mengagumi betapa ahlinya sang kakak dalam membuat Adrian terpojok. Adrian bisa melihat itu karena matanya berbinar bahagia. Sial! Gadis itu menikmati penderitaannya.
"Rekan bisnis," Adrian membalas cepat, menghalau segala niat Vita yang jelas akan memiliki dampak buruk padanya.
Pertahanan bagus, Neta memuji dalam hati. Namun tidak terlalu meyakinkan. Adrian perlu belajar menyiapkan alasan lain yang lebih bisa diterima. Cuma gadis dengan IQ jongkok atau telah menjadi budak cinta yang akan memandang itu sebagai makan bersama rekan bisnis.
Yah, bisnis jasa pemberantakan tempat tidur.
"Oh, denger tu dek. Itu cuma rekan bisnis, jangan khawatir."
Baik Adrian maupun sang gadis yang belum menyebutkan namanya itu sama-sama tertegun karena alasan berbeda. Gadis itu melempar pandangan tajam ke arah Adrian sementara yang ditatap sedang melayangkan sorot membunuh pada Vita.
Di sisi lain, Neta memicing tajam pada sepupunya itu, memberi tepuk tangan imajiner. Bagus sekali, Vita melempar pelatuk pada dirinya. Neta mengigit kasar kentang goreng panas yang baru saja terhidang sebagai pelampiasan emosi. Mau tak mau mengakui kecerdasan sang kakak, tak heran selama ini ia selalu berhasil memenangkan hati Baskoro terhormat.
Kira-kira apa yang mesti dikatakannya pada situasi begini? Mari perhitungkan sebentar. Sudah terlambat jika Neta harus berpura-pura terluka layaknya istri normal, sejak tadi ia sudah memasang tampang tak peduli. Siapa pula yang mengira si Vita Medusa bakal memanfaatkan dirinya untuk mempermalukan perempuan itu dan Adrian. Mana caranya luar biasa ******* lagi.
Duh, Neta kan, jadi kesulitan. Mengikuti alur permainan seperti rencana Vita akan membuatnya merasa menang dan Neta menolak ide itu. Di sisi lain, jika ia membangkang Vita maka Adrian lah yang bakal diuntungkan.
Neta tak peduli pada perempuan malang yang terjebak situasi itu. Toh, ia tak mengenalnya. Jadi jawaban apa yang aman untuk situasi ini? Oh benar, pakai pepatah menusuk tiga burung dengan anak panah saja.
"Mau lebih dari rekan bisnis juga enggak apa-apa, kok. Bisa dibicarakan baik-baik." Neta melukiskan senyum manis sangat serasi dengan sinar jingga yang melatarinya. "Siapa namanya mbak?"
__ADS_1
Kompak ketiga orang dewasa di sekitarnya melongo. Tidak yakin akan bagaimana harus menanggapi respon kelewat di luar ekspektasi itu.
Vita yang pertama berhasil mengendalikan diri.
"Kamu ini dek, bisa aja bikin leluconnya."
Vita mengembangkan senyum mendorong jauh rasa kesal yang mendadak muncul gara-gara jawaban Neta barusan. Ia tidak boleh memperlihatkan bahwa ia terguncang. Bagaimana bisa adiknya memberikan respon seperti itu, dikira ini lagi tawar menawar barang dagangan apa?
"Beneran lo, mbak juga boleh daftar."
Kali ini Adrian yang merespon, ia melengkungkan menyeringai. Memuji serangan balik sang istri. Bagus sekali, pikirnya.
Pemandangan di mana Vita dipojokkan dengan senjatanya sendiri baru kali ini terjadi. Vita boleh saja memegang label cantik, cerdas, dan berkelas, tapi untuk urusan menyesuaikan diri dengan situasi dan mengendalikannya jelas istrinya lebih ahli. Adrian berani taruhan, Vita pasti tidak benar-benar mengenal bagaimana sifat asli sang sepupu.
"Enggak mungkinlah, dek, dikira lagi syuting sinetron."
Lah, yang memaksa masuk ke adegan sinetron macam gini siapa? Neta mencibir dibalik wajah ramahnya, bukannya tadi Vita sendiri yang melempar kail. Dia hanya mengulur tali biar lebih panjang saja.
"Benar dek, pernikahan bukan hal main-main. Mempermainkan hal suci begitu bisa dapat karna ntar."
Neta mengangguk paham, sepenuh hati menerima nasehat dari perempuan itu dan mengolahnya jadi senjata lantas mengarahkan serangan pada target terakhir. "Denger tu, mas. Jangan main-main sama pernikahan ntar kualat."
Neta meledakkan tawa di dalam sudut terjauh kepalanya, melompat-lompat girang, merayakan keberhasilan diri membuat ketiga orang dewasa itu mati kutu. Ia yakin Deandra pasti bakal memberinya sepuluh jempol kalau ada di sini. Rasakan orang-orang dewasa terkutuk, berani sekali kalian mempermainkan gadis yang sedang kelaparan.
Neta menyeruput minuman manis yang tersaji meresapi setiap tetes yang mengaliri tenggorokannya. Menikmatinya dengan syahdu sembari memperhatikan ekspresi ketiga orang dewasa di sekelilingnya.
__ADS_1
Mereka boleh saja lebih berpengalaman dalam bermain peran tapi untuk urusan saling menjatuhkan Neta tidak akan kalah. Ia sudah terlalu terlatih dan menjadi ahli dalam hal itu. Terima kasih pada aturan keras di keluarga Baskoro.
TBC.