
Pukul dua dini hari. Alham baru pulang dari bar, ia melangkah masuk ke dalam kamar, melihat istrinya yang tidur di ranjang.
Menuju ruang ganti, mengganti pakaiannya kemudian berbaring di sebelah istrinya. Alham menarik tubuh kecil Nana ke dalam pelukannya. Ia sebenar nya tidak mengerti mengapa ia sangat marah, karena siang tadi ia melihat Nana bersama pria lain di taman yang membuat nya cemburu. Tapi Alham tidak menyadari jika ia sedang cemburu.
Alasan Alham pulang lebih awal dari jerman, itu karena ia merasa sangat merindukan istrinya, Alham sangat gengsi untuk menghubungi Nana meski hanya untuk bertanya kabar, maka itu selama di jerman ia tidak pernah menghubungi Nana. Tapi sayangnya, Alham tidak menyadari perasaannya pada Nana dan sering menyia-nyia kan istrinya.
Merapikan anak rambut istrinya kemudian mencium dahinya dengan lembut, menarik selimut untuk Nana, dan ikut terlelap bersama.
,,,
Pagi hari.
Nana sedang membuat sarapan untuk mereka berdua. Selesai membuat sarapan, Nana masuk ke dalam kamar membersih kan tubuhnya. Sedang kan Alham berada di ruang ganti baru saja selesai membersih kan tubuhnya.
Saat Nana keluar dari kamar mandi, Alham sudah menunggunya di ruang tengah. Tiba-tiba, Alham mendengar suara jatuh dari kamar.
Alham melangkah masuk ke dalam untuk memeriksa "Ada apa Nana" Tanya Alham.
Nana menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar suara Alham bertanya padanya. Ia buru-buru menyembunyi kan sesuatu di punggung nya, melihat takut pada suaminya.
"Apa yang kau sembunyi kan" Tanya Alham menatap curiga istrinya.
"A aku tidak menyembunyi kan apa pun" Jawab Nana gugup.
Melangkah kan kakinya mendekati Nana. "Apa itu" Tanya Alham meraih tangan Nana yang berada di punggung nya. Nana menutup kedua bola matanya, bersiap untuk mendengar amarah suaminya.
Alham menatap tajam pada Nana. Ternyata Nana tidak sengaja menjatuh kan camera digital milik suaminya, yang lebih parahnya lagi camera itu malah pecah.
Alham mengambil camera kesayangannya di tangan Nana yang sudah pecah. Menarik nafas, kemudian menyimpan cameranya di meja rias.
"Bersiap lah, aku sudah lapar" Kata Alham. Nana membuka bola matanya, heran melihat Alham yang tidak marah padanya, padahal ia tau camera itu adalah camera kesayangan nya.
Syukur lah jika dia tidak marah. Batin Nana mengusap-usap dadanya sambil melihat punggung suaminya melangkah keluar kamar.
Menyusul pada Alham ke meja makan, mereka berdua sarapan bersama.
__ADS_1
"Aku akan mengantar mu ke kampus," Kata Alham setelah mereka selesai sarapan.
"Tidak usah kak, aku bisa pergi sendiri" Tolak Nana.
"Aku tidak menawar kan tumpangan untuk mu, tapi aku memerintah, dan perintah ku harus di patuhi" Kata Alham tanpa dosa.
"Seperti kaisar" Ujar Nana.
Mendengar ucapan Nana, Alham menarik Nana ke pangkuannya, kemudian memeluk nya. "Kau ingin keramas pagi-pagi" Ujar Alham mencium tengkuk istrinya.
"Apa sih, aku ada kelas pagi kak Alham" Kata Nana berdiri dari pangkuan suaminya, melangkah masuk ke dalam kamar.
,,,
Di mobil.
"Nana, kenapa kau tidak pernah memakai Kartu yang aku beri kan pada mu" Tanya Alham tanpa melihat ke arah istrinya, ia masih fokus menyetir.
"Aku masih punya uang sendiri" Jawab Nana.
"Tidak, aku punya uang sendiri, bukan uang papi"
Alham menghenti kan mobil nya di pinggir jalan, kemudian menatap tajam pada Nana. "Kau ingin kedua orang tua mu mengatai ku, jika aku tidak menafkahi mu hah!" Marah Alham.
Nana menatap tidak suka pada suaminya "Nggak usah marah-marah juga kali kak Alham, kan bisa bicara baik-baik" Jawab Nana ikut emosi mendengar suaminya membentak nya.
"Kenapa kau suka sekali membantah Nana, apa karena pria itu" Tuduh Alham pada Nana.
Nana menatap nyalang pada suaminya "Kak Alham jangan asal menuduh ku kak!! pria siapa yang kak Alham maksud!!" Nana benar-benar emosi pada suaminya.
"Kau jangan coba untuk berbohong pada ku Nana!!!" Sentak Alham.
"Kakak itu yang berfikiran terlalu kekanakan!! seharus nya jika ada sesuatu yang kakak tidak tau, bisa kan di bicara kan baik-baik, tidak usah di bawa emosi juga!!" Teriak Nana benar-benar tidak bisa menahan diri lagi pada suaminya.
"Kau!!!" Alham mengangkat tangannya ingin menampar Nana, tapi ia menghentikan tangannya. Ia teringat dengan pesan mommy nya, di mana mommynya sering berpesan pada nya, jika tidak baik memukuli seorang wanita.
__ADS_1
"Kenapa berhenti!! pukul saja!!" Teriak Nana menjatuh kan air matanya.
Menurun kan tangannya, kemudian mencengkram kemudi. Alham tidak sadar jika ia sedang cemburu berat pada Gilang. Lebih tepatnya cemburu buta, hanya saja ia gengsi untuk bertanya tentang pertemuan Nana dan Gilang di taman kemarin.
Nana turun dari mobil kemudian berjalan kaki, ia sangat tidak suka dengan sikap suaminya karena terus menuduhnya yang bukan-bukan.
Alham mengejar Nana pakai mobil, kemudian memotong jalan Nana "Naik lah, bagaimana jika orang tua mu melihat mu di jalan seperti ini" Kata Alham menurun kan egonya.
Nana mendengar perkataan suaminya dan kembali naik ke mobil, melihat keluar jendela, ia sangat malas jika melihat wajah suaminya yang sering marah-marah tidak jelas. Nana tidak sadar jika Alham sedang cemburu padanya.
,,,
"Gina kemana ya, kok aku sudah lama tidak melihat nya masuk kuliah, aku benar-benar penasaran tentang anak itu, dan juga tempoh hari apa yang ia lakukan di bar" Gumam Nana terus memikir kan temannya.
"Aku samperin ke rumah nya aja kali ya" Gumam Nana melangkah keluar dari kampus.
Nana memesan grab online, kemudian kembali mendatangi rumah Gina, tapi lagi-lagi ia melihat Gina naik ojek di depan kontrakannya.
"Pak, susul motor itu ya pak" Kata Nana pada supir mununjuk motor yang di tumpangi Gina.
"Baik neng". Nana terus mengikuti motor yang di tumpangi Gina.
Beberapa minit berlalu, ojek yang di tumpangi Gina berhenti di sebuah rumah bordil.
"Astagfirullah, apa yang Gina lakukan di sini" Gumam Nana.
"Di sini saja neng" Tanya Supir tersebut.
"Iya, di sini saja pak" Kata Nana memberikan uang pada supir, lalu turun dari mobil.
Nana melihat Gina yang melangkah masuk ke dalam rumah bordil tersebut "Apa yang Gina ingin lakukan di dalam sana" Gumam Nana mengikuti langkah Gina dari arah belakang secara diam-diam.
Orang-orang di dalam rumah bordil itu menatap aneh pada Nana, karena masuk ke dalam sana memakai jilbab, tapi Nana tidak memperdulikan, ia hanya ingin menyusul pada temannya saja.
Tiba-tiba, terdengar suara polisi, ternyata rumah bordil itu sedang di razia, dan Nana berada di dalam.
__ADS_1