Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Sakit.


__ADS_3

Mension papi Bima.


Tok tok tok.


Mami Ayuna mengetuk pintu kamar putrinya. "Masuk saja" teriak Nana dari dalam kamar.


Melangkah masuk ke dalam kamar putrinya. "Nana, bisa mami bicara sebentar" tanya mami Ayuna menghampiri putrinya yang sedang menyisir rambut panjangnya yang sangat indah.


"Tentu saja mi, ada apa" tanya Nana melihat ke arah maminya.


"Kemari sayang" panggil mami Ayuna menepuk-nepuk kasur di depannya. Posisi mami Ayuna duduk di ranjang.


Melangkah mendekati maminya "Iya mi, ada apa"


"Maaf ya sayang, bukan maksud mami ingin membuat mu tidak nyaman dengan apa yang mami ingin katakan ini, mami hanya tidak mau jika nanti kamu jadi istri yang durhaka pada suami mu sayang" Ujar mami Ayuna dengan lembut.


Nana mulai mengerti kemana arah pembicaraan maminya. Melihat putrinya hanya diam dan menunduk, mami Ayuna memegang tangannya dengan hangat.


"Mami mengerti dengan perasaan mu sayang, tapi mami lihat suami mu juga sudah banyak berubah, dan bukannya mami ingin memaksa mu, tapi mami hanya ingin jika kau tinggal di rumah suami mu sayang, kasihan suami mu... Meski dia banyak berbuat salah padamu sebelum nya, tapi apa salah nya untuk memberikannya kesempatan dan membuka hati mu kembali untuknya sayang." Nasehat mami Ayuna menatap lembut putrinya.


"Tapi aku tidak nyaman tinggal di apartemen mi" Lirih Nana.


Tersenyum mengusap sayang rambut Nana "Kata mommy Aara suami mu sudah membeli mension beberapa hari yang lalu, hanya saja dia belum ada kesempatan untuk mengajak mu pindah ke mension, karena Alham sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaannya. Mommy Aara juga bilang jika suami mu akan menetap tinggal di indonesia, dia akan ke jerman jika ada pekerjaan yang mengharuskannya untuk kesana" Jelas mami Ayuna panjang lebar.


Nana hanya diam sambil menunduk. Mami Ayuna tidak tau jika sebenarnya putrinya sakit hati bukan karena Alham menceraikannya dulu dan sering mengabaikannya. Nana sakit hati karena ia harus kehilangan bayinya karena keegoisan Alham. Nana juga sakit hati dengan semua ucapan Alham yang terakhir kalinya sebelum mereka kembali menikah lagi.


''Bagaimana sayang, apa kau bersedia untuk tinggal bersama suami mu" tanya mami Ayuna.


"Nana pikirkan dulu mi," Jawab Nana memaksa senyum di wajahnya.


"Baik lah, istirahat lah kau terlihat terlalu lelah"


''Iya mi"


"Mami pamit keluar dulu sayang,"


Nana mengangguk dan tersenyum.


,,,


Beberapa hari berlalu Nana tidak pernah melihat suaminya datang ke butiknya lagi.


"Assalamualaikum" Salam mommy Aara mengunjungi menantunya.

__ADS_1


Tersenyum manis "Mommy." Menyalami mommy Aara.


"Kau sibuk Nana" tanya mommy Aara.


"Tidak juga mom, kenapa" Tanya Nana.


"Mommy hanya bertanya sayang, apa kau sudah makan siang"


"Sudah mom, baru saja selesai makan siang mommy. Ngomong-ngomong mommy dari mana" Tanya Ayuna.


"Mommy dari apotik membeli obat"


Menyerjit "Mommy sakit"


Mommy Aara menggeleng "Suami mu yang sakit sayang, sudah tiga hari dia sakit tapi dia tidak mau ke rumah sakit, dia juga tidak mau ke villa mommy dan lebih memilih tinggal di mension nya sendiri''


Pantas dia tidak pernah datang kemari. Batin Nana.


''Kak Alham sakit apa mom'' tanya Nana.


''Deman''


"Jadi kak Alham berada di mension nya saat ini?" Tanya Nana tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia khawatir mendengar suaminya sakit, apa lagi suaminya tidak ingin ke rumah sakit.


Mengangguk "Berikan Nana obat itu mom, biar Nana yang antar ke Mension nya kak Alham, sekalian alamat mension nya juga''


Alhamdulillah, akhirnya hatinya tergerak untuk menemui suaminya. Batin mommy Aara bersyukur dalam hati.


"Baik lah." Mommy Aara memberikan alamat mension baru putranya pada Nana. Setelah itu mommy Aara juga pamit pulang ke Villanya.


,,,


Menarik nafas dalam saat Nana sudah tiba di gerbang mension Alham.


Perlahan mulai memasukkan mobilnya ke halaman mension yang luas. Memarkir mobilnya turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam.


"Assalamualaikum" Nana memberi salam pada seorang bibi pelayan di mension sedang menyiram bunga.


"Waalaikumsalam" Mengalihkan pandangannya pada Nana. "Siapa ya" Tanya nya.


"Saya istri tuan Alham" Kata Nana tersenyum.


"Ah, maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak mengetahuinya" Kata bibi pelayan merasa tidak enak pada Nana.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bik, santai saja. Apa suami saya ada di rumah" Tanya Nana.


"Iya nyonya, ada di dalam, tuan muda sedang sakit nyonya"


"Jangan memanggilku nyonya bi, panggil saja Nana" Kata Nana merasa tidak nyaman dengan panggilan 'nyonya', ia merasa jika dia sudah sangat tua dengan panggilan itu.


"Apa tuan bibi sudah lama sakit" Tambah Nana.


"Iya ny---- bibi itu menggantung ucapannya. "Iya nona, sudah tiga hari tuan muda sakit, tapi tuan muda tidak ingin ke rumah sakit" Jelas bibi sambil melangkah naik ke anak tangga di susul oleh Nana.


Nana hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi bibi itu.


Mereka berdua sudah tiba di pintu kamar Alham. Nana menyuruh Bibi pelayan turun ke bawah dan biar dia sendiri yang masuk ke dalam.


Cklekkk


Melangkah masuk. Nana melihat Alham sedang tertidur. Mendekatinya kemudian menyentuh dahi suaminya.


Dia panas sekali. Batin Nana bergegas mengambil air hangat dan handuk kecil. Setelah itu ia langsung mengompres suaminya. Ia terus mengompres Alham sehingga beberapa kali saat panasnya sudah mulai menurun, tanpa sadar Nana tertidur dalam keadaan duduk di bangku merebahkan kepalanya di pinggir ranjang suaminya.


,,,


Panas pada tubuh Alham sudah mulai menurun. Perlahan ia mulai membuka kedua bola matanya. Menyentuh handuk kecil di dahinya.


Bergerak dan mendudukkan dirinya di ranjang. Ia melihat Nana yang tertidur pulas di pinggir kasur.


Nana, apa ini hanya imajinasiku saja, atau aku masih tidur dan sedang bermimpi melihatnya berada di kamar ku. Batin Alham menatap intens wajah cantik istrinya.


Mengangkat tangannya menyentuh wajah istrinya. Aku tidak sedang bermimpi atau berimajinasi, ini memang benar-benar dia. Batin Alham tersenyum melihat istrinya yang sudah berada di kamarnya.


"Bagaimana dia bisa berada di sini, dan sudah berapa lama dia di sini" gumam Alham.


Menurun kan tubuhnya dari kasur. Menyentuh pelan tubuh Nana dan mengangkatnya naik ke kasur.


Nana tiba-tiba bergerak dan memeluk lengan kokohnya. Tersenyum melihat istrinya yang sangat imut.


Alham melepas pelan tangan Nana yang memeluknya kemudian melangkah ke balkon kamar. Ternyata sudah malam. Batin Alham.


Ia kembali melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi.


Nana mulai membuka kedua bola matanya. Saat sadar ia Narada di atas ranjang, Nana buru-buru mendudukkan dirinya mencari keberadaan Alham.


''Kemana dia'' Gumam Nana ingin turun dari kasur.

__ADS_1


''Kau sudah bangun'' Terdekat suara bariton dari arah punggungnya.


__ADS_2