Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
,,


__ADS_3

Pagi hari Nana kembali muntah-muntah (morning sickness) Alham mengikuti Istrinya ke dalam kamar mandi dan memijat lembut tengkuk sang istri, meski kemarin mereka berdua bertengkar, tapi Alham sama sakali tidak menjauhi istrinya.


"Aku ambil kan sarapan ya" lembut Alham.


"Tidak usah, aku mau siap-siap dan berangkat ke butik saja" tolak Nana berwajah datar.


"Tapi kau sedang sakit Nana, nanti saja setelah kau sembuh, baru ke butik mu lagi ya" bujuk Alham pada Nana.


"Tidak usah sok peduli! aku tidak apa-apa! selama ini aku bisa sendiri, dan aku baik-baik saja" ketus Nana tidak ingin mendengar ucapan suaminya.


Menarik nafas. "Baik lah, aku akan mengantar mu ke butik mu" ujar Alham bersabar meski istrinya sering marah-marah.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri"


"Nana, aku tidak ingin ada apa-apa yang terjadi pada mu... Bisa ya. aku akan menemani mu juga di butik mu nanti," Terdengar suara sendu dari nada suaminya.


Nana tidak menjawab Alham, ia hanya diam tidak mengiyakan, dan juga tidak melarangnya.


Beberapa minit berlalu Nana sudah siap-siap dan ingin berangkat ke butik. Mereka berdua melangkah turun ke bewah dapur, di sana sudah berada Gina yang menunggu Nana dan Alham untuk sarapan bersama.


"Nana, kau kenapa? apa kau sakit? kau terlihat pucat" tanya Gina sedikit melirik suami sahabatnya yang menggunakan pakaian apa saja pasti terlihat sangat tampan dan menggiurkan.

__ADS_1


Tersenyum tipis "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja"


"loh, kok mau ke butik jika kau sedang tidak sehat Nan" tanya Gina pura-pura perhatian dengan sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa Gina, lagi pula aku sudah libur dalam waktu yang cukup lama" Ujar Nana mengambil susu hamil yang suaminya berikan padanya. Alham memang sudah menyiapkan susu hamil untuk Nana, ia sendiri yang pergi membelinya kemarin setelah pulang dari rumah sakit.


Meminum susu tersebut, ia menyerjit karena terasa berbeda dengan susu yang biasa ia minum sebelumnya.


"Susu apa ini" tanya Nana pada suaminya. Tentu saja ia tidak akan memperlihatkan pada Gina jika hubungan mereka berdua tidak baik-baik saja.


"Itu susu hamil" tersenyum pada Nana dengan nada yang terdengar sangat lembut.


"Hamil? kau hamil Nan?" Nimbrung Gina.


"Wah, selamat ya"


"Terima kasih"


Ternyata Nana sedang hamil. Batin Gina.


Setelah selesai sarapan, Nana berangkat ke butik di hantar oleh suaminya, Gina juga semobil bersama Alham dan Nana karena mereka semua satu tujuan.

__ADS_1


,,,


Nana melirik pada suaminya yang berada di sofa sambil bermain ponselnya, Alham ternyata benar-benar menemaninya di butiknya.


Mendengus melihat sikap suaminya yang tidak mau pulang saja padahal saat ini sudah waktunya makan siang.


Terdengar suara seseorang yang memberi salam. "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Nana melihat sahabatnya Kayla mengunjungi butiknya. Alham hanya melihat sekilas pada Kayla kemudian kembali melihat ponselnya duduk menyilang di sofa.


"Keluar yuk, ini kan sudah waktunya jam makan siang" ajak Kayla pada Nana.


"Boleh, aku ambil tasku dulu ya'' berdiri ingin mengambil tasnya.


"Aku saja" kata Alham cepat kemudian mengambil tas istrinya.


"Aaaa romantis banget sih..." ujar Kayla mengedipkan satu matanya pada Alham.


Alham tersenyum menanggapi Kayla, lain halnya dengan Nana yang hanya diam.


Mereka bertiga keluar dari butik Nana. Tiba di luar sudah ada asisten Nando yang berdiri menunggu tuannya.

__ADS_1


Kayla menatap tajam pada Nando, pria yang membuatnya kesal. Nando hanya melihat sekilas pada Kayla kemudian kembali melihat pada tuannya.


__ADS_2