
Membuka kedua bola matanya sambil melenguh. "Udah pukul berapa ya?" Gumam Nana melihat jam di ponselnya.
Bergegas membangunkan dirinya saat melihat ternyata sudah pukul enam sore. "Astagfirullah.. Aku tidak sadar ternyata sudah hampir maghrib." ujar Nana.
Turun dari ranjang melangkah ke dapur untuk mencari makanan, ia merasa sangat lapar. "Nana, kau sudah pulang" tanya Gina baru pulang dari butik. Karena Gina memang bekerja di butik Nana.
Tersenyum "Iya, tadi siang lagi aku pulang, tapi aku ketiduran dan baru saja bangun" jawab Nana.
Mengangguk-angguk menanggapi Nana. "Apa kau melihat suamiku?" tanya Nana.
Menggeleng "Sudah satu bulan lebih aku tidak pernah melihat suami mu, dia tidak pernah kembali ke mension selama kau tidak berada di sini" jujur Gina kerena ia memang tidak pernah melihat Alham, terakhir ia melihat Alham kembali malam sebelum Alham berangkat ke jerman. Ternyata malam itu Alham juga tidur di apartemennya. Keesokkan hari ia langsung berangkat ke jerman tanpa kembali lagi mension-nya.
Tap Tap Tap
Terdengar langkah kaki mendekati mereka berdua.
Nana dan Gina mengalihkan pandangannya pada Alham. Bola mata Nana bertemu dengan bola mata suaminya, buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Alham menatap wajah sang istri tanpa berkedip sedikit pun. Ia baru saja dari ruang kerjanya.
__ADS_1
Mengangguk dengan pelan menanggapi suaminya. Gina juga menatap wajah tampan Alham. Nana tersadar dengan tatapan Gina pada suaminya, sebelum Kayla memberitahukan padanya apa-apa tentang Gina, ia sama sekali tidak sadar dengan keganjilan pada sahabatnya itu, tapi setelah Kayla mengingatkannya ia baru tersadar akan sesuatu yang aneh dari tatapan sahabatnya pada suaminya.
"Aku mau ke atas dulu" ingin melewati mereka berdua, tapi tiba-tiba Nana menghentikan langkahnya memegang kepalanya yang terasa pusing.
Menyentuh lengan Nana "Kau tidak apa-apa?" tanya Alham khawatir.
Mendorong tangan suaminya "Aku tidak apa-apa" ingin kembali melangkah tapi ia sangat pusing, menghentikan semula langkah kaki nya.
Menggeleng melihat sang istri yang sangat keras kepala. "Kemari aku antar ke atas" tanpa aba-aba dan tanpa permisi Alham langsung mengangkat tubuh Nana.
Reflex mengalungkan tangannya di leher suaminya karena takut terjatuh. "Turun kan aku! aku bisa sendiri" ketus Nana karena ia sangat takut jika sampai ia terjatuh.
Gina yang melihat kemesraan suami istri di hadapannya mengepal kan kedua tangannya geram melihat merekanya.
Cih!. Batin Gina, setelah itu ia juga melangkah ke kamarnya.
,,,
Keesokan harinya.
__ADS_1
Uwek Uwek Uwek
Nana muntah-muntah di kamar mandi. "Nana, kau tidak apa-apa" tanya Alham khawatir memijat lembut tengkuk sang istri.
"Aku tidak apa-apa" jawab Nana kembali melangkah keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya.
"Kita ke rumah sakit ya" lembut Alham.
"Aku tidak apa-apa, kenapa kita harus ke rumah sakit" terdengar suara yang sedikit ketus darinya karena ia tidak ingin ke rumah sakit.
Menarik nafas berat karena Nana ternyata belum berubah juga, ia masih saja tetap sama. Kapan kau akan melunak Nana, aku ingin melihat mu yang ceria seperti dulu lagi. Batin Alham sedih melihat respon sang istri.
,,,
Tampak seorang pria tampan berjalan tegak dengan langkah panjangnya.
Tiba-tiba ia tidak sengaja menginjak kaki seorang wanita cantik yang ingin naik ke motornya.
Gadis tersebut membolakan kedua matanya saat pria itu hanya menginjak kakinya dan pergi begitu saja. "Hei tuan sombong! apa aku terlihat seperti tiang listrik?" teriak Kayla kesal pada pria di hadapannya.
__ADS_1