
Di kamar Alham termenung. Ia kembali teringat dengan ucapan mommy-nya jika mantan istrinya akan menikah sebenar lagi.
Apa kah aku memang tidak pernah ada di hati mu, kenapa semudah itu kau bisa menjalani hubungan dengan pria lain, dan bahkan sebentar lagi kau akan menikah, apa kah aku benar-benar akan kehilangan mu... Batin Alham melihat foto Nana di ponselnya.
"Kenapa rasanya begitu sakit" Kata Alham pada dirinya sendiri. Tanpa sadar menjatuhkan kristal bening dari kedua bola matanya.
"Terlalu banyak kenangan bersama mu membuat aku seperti hidup di dalam bayang-bayang mu" Gumam Alham mengusap air matanya.
Ia teringat kenangannya bersama dengan Nana di villa daddy-nya beberapa tahun silam.
"Kak Alham!!!!!" Teriak Nana berlari dari arah dapur dengan tergesa-gesa menghampiri Alham yang sedang bermain game di ruang keluarga.
Alham hanya melihat sekilas pada Nana yang berlari menghampirinya kemudian kembali melihat ponselnya.
Nana duduk di dekat Alham. "Kak buruan!!" Seru Nana lagi. saat itu ia masih berusia 10 tahun.
"A---
Ucapan Alham terhenti karena Nana menyuapinya kuih panas yang ia bawa dari dapur.
Membolakan kedua matanya kemudian memuntahkan makanan panas dari mulutnya yang Nana suap kan.
"Awas kau Nanaaaaa!!!!!" Teriak Alham marah dan langsung mengejar Nana yang ternyata sudah berlari keluar dari villa kerena menghindarinya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku sangat merindui mu.... Aku rindu dengan kejahilan mu.." Ujar Alham terus menatap foto-foto Nana dengan perasaan hampa, sedih, dan yang paling terasa adalah perasaan penyesalan karena sudah mengeluarkan kata 'talak' dari mulutnya untuk Nana yang ternyata sangat ia cintai.
,,,
Keesokan harinya.
Nana melangkah keluar dari butiknya. Ia ingin menyebrangi jalan untuk membeli cemilan di toko yang berada di seberang jalan.
Saat ingin masuk ke dalam toko, ia berpapasan dengan Alham. Nana menghindari Alham kemudian menunduk ingin melewatinya.
Tapi Alham menahan lengannya. "Apa kita bisa bicara" Kata Alham memegang lengan Nana.
__ADS_1
"Aku sibuk" Nana ingin menarik lengannya tapi Alham mengeratkan pegangannya.
"Hanya sebentar" Kekeh Alham menatap Nana tanpa berkedip.
"Aku bilang aku sibuk" Kekeh Nana tidak ingin berbicara pada Alham.
"Hanya sebentar" Alham juga kekeh ingin berbicara padanya.
Menarik nafas kemudian mengangguk pelan.
"Apa yang ingin kau bicarakan" Tanya Nana langsung ke intinya, saat ini ia sedang duduk di kursi taman.
"Apa kau benar-benar akan menikah" Jawab Alham menatap lurus ke depan.
"Iya" Singkat Nana.
Mengalihkan pandangannya pada Nana "Apa kau mencintai pria itu"
Terdiam sebentar. "Iya, aku mencintainya, lagi pula apa itu penting untuk mu" Jawab Nana menunduk, tentu saja ia berbohong, karena pria yang ia cintai itu adalah pria yang saat ini berdiri di sebelah kursi kayu yang ia duduk.
"Semudah itu kau sudah bisa menikah lagi," Ujar Alham terdengar nada tidak baik.
"Tentu saja ada, karena kau bisa mencintai pria lain, tapi kau tidak bisa mencintai ku!!" Kata Alham meninggikan nadanya, ia tidak bisa mengontrol emosinya mendengar Nana mengatakan mencintai pria lain terang-terangan.
"Bagaimana dengan mu!!! apa pernah sedikit saja kau melihat ke arah ku!!! sedikit saja kau peduli pada ku!!! kau hidup dengan keegoisan mu!!" Nana juga meninggikan nadanya membalas tatapan Alham yang menatapnya. Bola mata Nana sudah mulai berkaca-kaca.
"Kau bilang aku egois, terus bagaimana dengan mu sendiri, kita masih status suami istri tapi kau sudah keluar bersama pria lain, apa itu pantas, kau seperti wanita murahan" Ujar Alham semangkin tidak bisa mengontrol emosinya.
Plakkkk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alham dengan sempurna. "Bagi mu aku memang murahan, karena kau hanya menjadikan ku istri pelampiasan hasrat mu, sama seperti wanita murahan!! tanpa pernah peduli dengan perasaan ku seperti apa!! kau itu pria egois!!" Teriak Nana setelah menampar keras wajah Alham bersamaan air matanya mengalir tanpa bisa di bendung lagi.
Alham terdiam menatap bola mata Nana. Nana mengusap kasar air matanya kemudian membalikkan tubuhnya ingin pergi meninggalkan Alham, baru saja ia melangkah dua langkah, terdengar suara Alham yang kembali menghentikan langkahnya.
"Tidak seharusnya aku mencintai wanita seperti mu, seharusnya aku sudah lama bisa melupakan mu, dan beruntung kau tidak pernah mengandung benih ku, wanita seperti mu tidak seharusnya di perjuangkan" Kata Alham dengan mulut pedasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Nana, ia tidak bisa menerima kenyataan jika sebentar lagi Nana akan menikah. Tanpa sadar ia kembali membuka luka lama dalam hati mantan istrinya.
__ADS_1
Luruh...... Tubuh Nana luruh ke tanah saat mendengar ucapan Alham yang menghantam tepat mengenai hatinya yang sudah lama terluka seperti kembali menganga dengan lebar.
Nana terduduk dengan tubuh nya bergetar sambil menangis. Hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan Alham yang mengatainya tidak pernah mengandung benih nya.
Aku membenci mu... Hiks, hiks, hiks, sesak, sakit, kecewa, terluka, terasa seperti ingin berteriak.
Nana menangis sejadi-jadi sambil menekan dadanya yang terasa sangat sakit.
,,,
"Arkhhhhhhhhhhhhhh" teriak Alham memukul setir mobilnya.
"Aku benci dengan perasaan ini, aku benci!!! keluar dari dalam hati ku, keluar!!!" Teriak Alham melajukan mobilnya dengan kelajuan penuh menuju bar Glen.
Saat akan tiba di bar Glen. Alham hampir bertabrakan dengan sebuah truk.
Kikkkkkkkkk!!!
Alham menekan rem mobilnya yang sangat laju.
Brakkkkkk!!!!
Berhasil menghindari truk tersebut, tapi mobil Alham menabrak sebuah pohon besar yang berada di pinggir jalan. Kepalanya terbentur di setir mobil mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.
Orang-orang yang melihat kejadian kecelakaan tersebut, berbondong-bondong menghampiri mobil Alham.
"Arkg" Ringis Alham memegang kepalanya di pernuhi darah segar.
Brukk
Ia menendang pintu mobilnya yang sudah tidak berbentuk, kemudian keluar dari mobil.
"Anda tidak apa-apa tuan muda" Tanya orang-orang yang mengerumuni mobil Alham. Mereka mengira jika Alham adalah Ilham. Karena wajah mereka yang sangat mirip. Ilham memang terkenal sebagai pengusaha sukses.
Alham hanya menggeleng meninggalkan keramaian, berjalan dengan bola mata yang sedikit kabur, ia juga masih pusing akibat terbentur di setir mobilnya.
__ADS_1
"Bagaiman jika kami mengantar anda ke rumah sakit tuan" Kata salah satu di antara mereka semua.
"Tidak usah" Tolak Alham berjalan menghampiri bar Glen dan langsung masuk ke dalam. Ia tidak merasa sakit pada kepalanya yang sangat mengerikan dengan darah segar, yang ia rasakan saat ini sakit yang terasa seperti ingin meledak dari dadanya, karena sebentar lagi wanita yang sangat ia cintai benar-benar menikah dan ia akan kehilangan nya untuk selamanya.