
Keesokan harinya.
"Bik Sumi" panggil Nana pada Bik Sumi yang sedang menyiram bunga di luar rumah.
"Iya non" jawabnya.
"Apa Bik Sumi lihat Gina?" tanya Nana.
"Non Gina sudah pergi di awal pagi tadi non"
Menyerjit "Dia kemana Bik?"
"Tidak tau juga non, karena non Gina tidak mengatakan apa pun, tapi dia membawa kopernya"
"Bibik yakin?"
"Iya non''
"Terima kasih Bik"
"Sama-sama non"
Berlari ke atas menuju kamar Gina.
Cklekkk
Membuka pintu kamar Gina, menuju lemari mengecek lemari. Semua pakaian Gina sudah tidak berada di lemari.
"Gina sudah pergi ... Dia kemana?" gumam Nana keluar kamar menuju kamar suaminya.
"Kau dari mana sayang" tanya Alham bertelanjang dada memakai handuk yang memperlihatkan dada bidangnya. Ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya.
"Gina sudah pergi Mas" jawab Nana.
__ADS_1
"Bagus dong" cuek Alham malas membahas Gina yang hampir saja menimbul kesalahpahaman dengan istrinya semalam.
"Kok gitu amat Mas?"
"Terus maunya aku bagaimana? mau aku buat kenduri syukuran"
Mengambil bantal melempar Alham. "Jahat banget tu mulut"
"Bukan jahat sayang, hanya kurang baik saja" menyengir masuk ke dalam ruang ganti memakai pakaian santainya. Nana hanya menggeleng mendengar ucapan suaminya.
"Mas, kita ke rumah mommy Aara, udah lama aku nggak lihat mommy" ajak Nana saat melihat Alham keluar dari ruang ganti.
Mengangguk "Boleh, kapan kita mau ke sana?''
"Sekarang saja bagaimana Mas?''
Tersenyum menghampiri sang istri kemudian menciumnya dengan gemes. "Kau mengajak ku pergi, tapi kau sendiri belum bersiap Honey"
"Aku siap sebentar saja Mas, tapi bagaimana jika kita ke rumah kak Ilham dulu, aku sudah lama tidak pernah menemui mereka berdua"
"Baik Mas" beranjak melangkah ke ruang ganti untuk bersiap.
,,,
Mereka sudah tiba di mension Ilham. "Assalamualaikum" salam Alham dan Nana.
"Waalaikumsalam, Nana, kak Alham?" ujar Zira mengembang senyumannya.
"Kenapa tidak call dulu kalo mau ke sini''
"Udah call kak, tapi kakak yang tidak jawab"
"Masa sih?" melihat ponselnya, ternyata benar, ia saja yang tidak mendengar panggilan Nana tadi. "Iya ya'' menyengir.
__ADS_1
"Mana kak Ilham kakak ipar?" tanya Alham.
"Ada di ruang kerjanya"
"Kak Ilham tidak bekerja?"
Menggeleng. "Tidak, katanya malas ke kantor"
"Terus, si kembar mana dong kak Zira?" tanya Nana.
"Si kembar semua berada di rumah Abi"
"Aaaaa nggak ketemu dong ama si 3AR-nya" sedih Nana.
"Ya sudah kau ke rumah Abi saja, kau juga sudah lama tidak pernah mengunjungi Abi-kan''
Cengengesan pada Zira. Karena ia memang sudah lama tidak pernah mengunjungi rumah Abi Sulaiman.
"Alham" panggil Ilham melangkah turun ke bawa menghampiri mereka bertiga.
"Kau baru tiba?" tambah Ilham duduk di sebelah Zira kemudian mencium pipi sang istri tercinta.
"Sok mesra" umpat Alham membuang muka pada kakak kembarannya, ia juga tak menjawab pertanyaan kakanya.
"Hahahaha ... Iri bilang bos'' jawab Zira tertawa melihat wajah Alham.
"Itu istrinya di samping, peluk aja kalau iri, kak baby" sahut Ilham kembali mencium wajah sang istri untuk memanas-manasi sodara kembarannya.
"Dasar bucin akut"
"Syirik amat kak Alham" ujar Zira meledek Alham.
"Aishhhh" jengkelnya.
__ADS_1
"Lagian Mas Alham, kak Zira kok di ladenin" ujar Nana menggeleng melihat suaminya karena udah tau Zira ngeselin tapi malah di ladeni.