
Tersenyum manis "Gina, aku sudah membelikan mu rumah untuk kau tinggali" ujar Nana merasa tidak enak melihat perubahan di wajah Gina.
"Kau mengusir ku dari mension suami mu?" tanya Gina berpura-pura tersenyum.
"T-tentu saja tidak Gina a-aku hanya......"
"Udah, aku hanya bercanda kok, lagian kenapa kau bersusah payah membelikan ku rumah" tanya Gina berpura-pura agar tidak terlihat jika ia sedang marah karena merasa Nana mengusirnya.
Huh, syukur lah jika ia hanya bercanda. Batin Nana "Agar kau tidak merasa repot lagi ingin membayar sewa rumah nanti" tersenyum tulus.
"Terima kasih" memeluk Nana.
Nana juga membalas memeluk Gina.
,,,
Kamar Alham.
Mengganti pakaiannya bersiap untuk tidur. "Kau sudah mau tidur Honey" tanya Alham memeluk pinggang sang istri, mencium bahunya lembut.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Nana tersenyum.
"Hanya bertanya"
"Mas Alham belum mau tidur?"
__ADS_1
Menggeleng "Aku mau ke ruang kerja dulu Honey, ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesai kan" merapikan anak rambut sang istri tercinta.
"Pekerjaan apa sih, ini kan udah malam" penuh curiga menatap suaminya.
Gemas mencubit hidung mungil Nana. "Posesif amat sayang" tersenyum senang melihat istrinya yang sangat posesif.
"Siapa yang posesif, main tuduh aja" cemberut.
"Tu kan, nggak jelas banget. Udah ya, aku ke ruang kerja ku dulu" mencium dahi sang istri.
"Jangan lama-lama"
"Sip Honey, i love u" mengedip satu matanya.
"Ganjeng" tertawa.
Melangkah ke ruang kerja, duduk di kursi kerjanya, mulai menyibukkan jari-jarinya.
Karena terlalu sibuk bekerja, tanpa sadar sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tiba-tiba terdengar pintu ruang kerjanya terbuka.
Cklekkk
Mengangkat pandangan melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu ruang kerjanya, ia mengira jika yang datang istrinya, ternyata ia salah, ia malah melihat Gina melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan baju tidur sangat tipis memperlihatkan **********.
Wajah Alham berubah datar melihat Gina dan penampilannya yang kekurangan bahan.
__ADS_1
Dengan berani Gina melangkah memutari meja Alham, kemudian duduk di pahanya.
Kamar Alham.
Melenguh meraba- raba sebelahnya, membuka netra saat menyadari jika suaminya belum berada di kamar. Mendudukkan dirinya. "Mana Mas Alham, apa dia masih berada di ruang kerjanya" gumamnya menguap.
"Aku haus sekali" tambahnya merinsut turun dari ranjang, mulai melangkah keluar kamar.
Turun ke dapur mengambil minum. Setelah minum, Nana kembali melangkah berniat ingin ke ruang kerja suaminya untuk melihat Alham karena ia belum kembali ke kamar, padahal sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Mengerut saat melihat pintu ruangan suaminya terbuka sedikit, karena tadi Gina tidak menutup rapat ruang kerja Alham.
Melangkah mendekati pintu ruangan yang terbuka. Saat ingin melangkah masuk ke dalam, Nana sangat kaget karena ia melihat Gina yang duduk di atas paha suaminya sambil meraba-raba dada bidang suaminya.
Menutup mulut kaget melihat Gina di luar ekspresinya. Ia tidak pernah bayangkan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa kau tidak ingin mencoba tubuh lain dari tubuh istri mu itu" tanya Gina menjalan kan tangannya meraba raba dada bidang Alham tanpa rasa takut pada tatapan tajam Alham.
Menyeringai, mengangkat tangannya kemudian mencengkram keras dagu Gina yang duduk di pahanya. "Aku tidak tertarik pada wanita murahan" kata Alham mendorong Gina dari pangkuannya.
"Jadi lah wanita yang punya harga diri," berdiri dari duduknya ingin melangkah keluar dari ruangannya.
Gina kembali memeluk pinggang Alham dari belakang. ''Jangan munafik, aku tidak akan memberitahu kan pada istrimu.'' Gina sudah benar-benar gila menurut Alham.
Membalik badan kembali mendorong Gina dengan keras, mengangkat tanganya berniat menampar Gina.
__ADS_1
"Arkhhh" teriak Nana saat seinci lagi tangan Alham mendarat di pipi Gina.
"N-nana" wajah Alham berubah pias mendapati sang istri di balik pintu.