
"Aku akan berangkat ke jerman besok, kau tetap di sini, jangan ke mana-mana," Kata Alham pada Nana yang sedang duduk di sofa kamar mereka. Apartemen Alham hanya memiliki satu kamar.
Mengangkat pandangan melihat suaminya "Kak Alham mau ke jerman, terus kenapa aku harus berada di sini kak," Bantah Nana tidak terima jika Alham ke jerman, dan tidak mengijin kan nya untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Alham menatap tajam pada Nana. "Jadi kau mau yang seperti apa!" Tanya Alham.
"Kenapa aku tidak di rumah mami papi saja" Ujar Nana terdengar tidak senang dengan keputusan Alham.
''Apa bedanya di sini dengan di sana''
''Ya beda lah kak, di sini itu aku hanya sendiri, aku juga takut di sini'' Jawab Nana.
''Perasaan kau memang hanya tidur di apartemen ini sendiri, sebelum nya kau baik-baik saja'' Jawab Alham tanpa rasa bersalah.
''Itu karena kak Alham yang membiar kan aku tidur di sini sendiri,'' Ketus Nana.
Alham menyeringai.
Melangkah mendekati Nana, memegang tengkuk nya langsung men****m b*br Nana.
''Apa sih.'' Kata Nana mendorong Alham.
''Bukannya kau ingin aku temani hm?''
''Bukan seperti itu maksudnya'' Decak Nana.
Alham kembali menyerang nya. Nana lagi-lagi mendorong Alham ''Jangan menolak ku Nana'' Sentak Alham tidak terima penolakan Nana padanya.
Akhirnya Nana hanya bisa pasrah membiarkan Alham yang semena-mena padanya tanpa memperduli kan perasaannya.
Menghabis kan malam pertama, jika orang lain merasa bahagia di malam pertama nya, tapi tidak bagi Nana yang hanya melayani suaminya sebagai seorang istri.
,,,
Keesokan harinya Nana terbangun dari tidurnya. Ia merasa tubuhnya sangat pegal.
"Tubuh ku sakit semua" Gumam Nana melihat ke samping, ternyata Alham sudah tidak berada di apartemen, ia sudah berangkat ke jerman tanpa membangun kan Nana.
Melihat jam, matanya membola ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Astagfirullah, aku tidak sholat subuh" Kata Nana menggerakkan tubuhnya ingin turun dari ranjang dengan tubuh yang masih polos. Ia melihat bercak merah di kasur.
"Arkhh sakit" Ringis Nana kembali menduduk kan dirinya.
"Apa dia sudah berangkat ke jerman" Gumam Nana menarik nafas berat, bagaimana tidak, Alham memerawaninya kemudian pergi begitu saja. Ia merasa Alham benar-benar tidak menganggap nya.
Miris. Batin Nana.
__ADS_1
Dengan perasaan sedih Nana melangkah ke dalam kamar mandi, membersih kan tubuhnya, setelah itu ia bersiap-siap untuk berangkat ke mension papinya.
,,,
"Nana, mana suami mu nak" Lembut mami Ayuna bertanya pada putrinya.
"Kak Alham ke jerman mi, kak Alham kan memang bekerja di sana mi" Jawab Nana memaksa kan diri untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Tapi tetap saja, mami Ayuna tau jika putrinya itu mencoba menutupi sesuatu dari nya.
Mami Ayuna mengangguk "Bagaimana dengan hubungan rumah tangga kalian berdua, apa baik-baik saja" Tanya mami Ayuna mencoba mengajak putrinya untuk berbicara.
Nana mengembang kan senyumannya dengan hati yang pahit "Tentu saja mi, mami tidak perlu khawatir, kita baik-baik saja," Jawab Nana berbohong.
Menarik nafas berat, mami Ayuna sudah menduga jika putrinya tidak ingin membicara kan apa pun pada nya.
"Assalamualaikum" Terdengar seseorang memberi salam dari luar.
"Waalaikumsalam" Jawab Nana bersamaan dengan maminya.
"Kak Kenan" Mengembangkan senyumannya memeluk kakaknya yang sudah tiba di dekat mereka.
Kenan juga membalas memeluk sang adik, mencium pucuk kepalanya. "Kau kenapa, apa kau tidak enak badan, kau sangat panas Nana" Lembut Kenan menempel punggung tangannya di dahi sang adik.
"Benar, kau sangat panas," Tambah Kenan.
"Aku baik-baik saja mi, hanya sedikit kelelahan" Jawab Nana tidak ingin membuat maminya khawatir.
"Kalau begitu, kita ke rumah sakit dulu"
"Siapa yang sakit mi" Tanya Bima menghampiri mereka bertiga.
"Nana mas, tubuhnya panas sekali" Ujar Ayuna.
"Nggak usah ke rumah sakit mi, Nana bahkan merasa baik-baik saja" Tolak Nana
"Baik lah, tidak usah kerumah sakit, papi akan menghubungi dokter Dafin untuk datang kemari memeriksa mu.''
"Baik pi"
"Ayo, mami antar untuk istirahat di kamar" Kata mami Ayuna mengajak putrinya.
"Tidak usah mi, biar Kenan saja yang mengantar Nana" Kata Kenan.
"Baik lah"
Kenan mengantar sang adik menuju kamarnya di lantai dua, tiba di kamar, ia menyuruh Nana berbaring kemudian menduduk kan dirinya di ranjang dekat Nana.
__ADS_1
"Ada apa sebenar nya dek" Tanya Kenan, dia tau jika ada yang Nana sembunyikan dari mereka.
"Tidak ada kak, emang kenapa" Nana Kembali bertanya.
"Jangan bohong sama kakak Nana,"
Nana menggeleng "Aku tidak kenapa-kenapa kak, kak Zila mana, kenapa kakak tidak mengajak nya kemari" Nana sengaja mengubah topik pembicaraannya.
Mengangkat tangan nya mengusap lembut pucuk kepala sang adik "Jangan mengubah pembicaraan Nana" Kenan tau jika Nana menghindari pertanyaan nya.
"Ku mohon jangan bertanya lagi kak, ku rasa kakak juga tau seperti apa rumah tangga ku" Lirih Nana menjatuh kan air matanya "Ku mohon jangan mencampuri urusan rumah tangga ku kak" Tambah Nana memegang tangan kakak nya.
Menarik nafas dalam, kemudian memeluk sang adik, ia juga tau seperti apa karakter seorang Alham yang menjadi adik iparnya, sahabatnya itu sangat keras kepala.
,,,
Villa Aara.
"Mas, jika Alham ke jerman, lalu bagaimana dengan istrinya mas" Tanya Aara pada Aggam.
"Mungkin dia hanya sebentar sayang" Jawab Aggam.
Tiba-tiba Aara terdiam seperti sedang memikir kan sesuatu "Eh, ada apa?" Tanya Aggam menyentuh wajah istrinya.
"Aku hanya khawatir dengan rumah tangga mereka mas, kak Aggam pasti tau kan, jika Alham belum bisa berfikiran dewasa, apa dia tidak akan menyia-nyia kan istrinya nanti mas," Kata Aara meluah kan tentang kekhawatirannya.
Terdiam, ia juga bingung ingin menjawab apa, mengingat Alham yang sangat mirip dengannya dulu, keras kepala dan tidak dewasa di usianya yang seharusnya sudah bisa berfikiran dewasa.
"Mas" Panggil Aara lagi.
"Mas juga bingung," Jawab Aggam.
"Jadi bagaimana dong mas"
"Kita tunggu saja anak itu pulang dari jerman, lalu kita akan bicara kan ini baik-baik"
"Baik lah mas" Jawab Aara lemah.
,,,
Jerman.
"Jane, apa lagi jadwal ku untuk hari ini" Tanya Alham pada sekretarisnya berpakaian seksi mempertontonkan lekuk tubuhnya yang menggiur kan.
"Satu jam lagi kita ada rapat tuan" Jawab Jane seperti biasa sering mengeluarkan nada seolah-olah menggoda Alham, hanya saja Alham tidak pernah menanggapi nya.
__ADS_1