Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
,,,


__ADS_3

Aggam Aara Bima dan Ayuna sangat bersyukur karena ternyata Alham tidak berada dalam kecelakaan pesawat.


Tampak Alham sedang berkutat di dapur menggunakan celemek. Nana menghampiri suaminya. "Buat apa sih kak?" tanya Nana berdiri di dekatnya.


Menatap kesal pada sang istri. "Wih, kenapa tu muka" tambah Nana saat melihat kekesalan di wajah tampan suaminya.


"Apa kau pikir aku ini kakak mu! aku bukan Kenan, aku Alham!" Ketus Alham.


"Widih, garang amat pak" menahan tawanya.


"Pak, pek, pak pok, apa kau pikir aku ini supir mu" bertambah kesal.


Nana tertawa terbahak-bahak "Emang apa yang salah sih suami ku tersayang... Kan emang situ udah tua..." ucap Nana di celah-celah tawanya.


Menatap tajam. Kemudian mengabaikan Nana dan lanjut menyibukkan dirinya dengan masakannya.


"Masak apa sih..." tanya Nana lagi.


Alham tidak menjawabnya. "Baik lah, suami tampanku yang hot ini mau nya di panggil apa?"


Mengembang senyuman di wajah tampannya. "Panggil sayang"


"Lebay"


"CK"


"Yang lain aja, abang misal"


"Kau pikir aku penjual cilok"

__ADS_1


"Hahahahahahaha" Nana kembali tertawa terbahak-bahak melihat suaminya.


"Ya udah, kak Alham saja, kan itu udah biasa" tambah Nana menghentikan tawanya.


"Tidak, aku bukan saudara mu, aku ini suami mu"


"Mas saja kalo begitu, bagaimana?"


Berfikir sebentar. "Tidak terlalu buruk" tersenyum.


"Baik lah Mas Alham"


Cup!


Nana mencium pipi suaminya dan tersenyum cerah. "Kau mencium ku tanpa permisi, itu tidak gratis" ujar Alham tersenyum penuh arti.


Alham tersenyum melihat punggung sang istri yang sudah kembali ceria seperti dulu lagi. Akhirnya kau sudah bisa kembali dengan sikap menyebalkan mu. Batin Alham.


Setelah selesai masak, Alham menyajikan masakannya di meja, kemudian ia memanggil istrinya.


"Mas Alham, ini sebenarnya jam makan apa ya?"


"Makan petang Honey"


"Hahaha, ia toh, benar juga" ujar Nana tertawa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


Nana melihat masakan suaminya. "Loh, ini semua masakan kesukaan ku loh Mas" tanya Nana tersenyum.


"Tentu saja, aku sengaja masak untuk istriku yang tercinta ini" memainkan alisnya.

__ADS_1


"Lebay"


"Benar loh sayang"


"Hm'' memutar bola mata malas.


Alham hanya tersenyum melihat wajah istrinya. "Ini jus laici kesukaan mu Honey"


Mengambil dari tangan suaminya. "Makasih sayang... Aku mencintai mu..." mengedip-ngedip kan bola matanya sambil memperlihatkan senyuman terbaiknya.


"Gombal"


"Harus ada gombalnya sayang, Mas kan udah membuat semua makanan kesukaan ku"


"Cih! giliran senang saja baru mau panggil 'sayang'" gumam Alham menyendok makanan untuk sang istri tercinta.


Mulai memakan masakan suaminya "Mmm enak banget loh Mas, ternyata Mas Alham sangat pintar masak iya"


"Tentu saja Honey, aku di jerman itu juga tinggal sendiri, jadi harus menguasai beberapa ilmu masakan, apa lagi jika masakan kesukaan istri tercinta ku" gombal Alham.


Nana membuat wajah seperti ingin muntah mendengar ucapan suaminya yang membuatnya geli.


"Hahaha kau sangat cantik dengan ekspresi wajah mu itu Honey"


"Basi"


Hanya tertawa mendengar istrinya yang sering mengatai ucapannya 'Basi'


Mereka berdua melanjutkan makan dengan di bumbuhi dengan canda tawa. Tentu saja mereka berdua tidak akan bisa diam saja seperti pasangan lain pada umumnya, mengingat jika mereka berdua bertemu dari dulu lagi pasti akan bertengkar, jika tidak saling mengerjai, jika tidak saling mengerjai mereka akan saling menertawai. Tidak ada yang beda dengan hubungan mereka berdua meski sudah banyak lika liku dalam rumah tangga mereka. Tapi mereka memang pasangan yang cocok dan harmonis.

__ADS_1


__ADS_2