Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Bab 51


__ADS_3

Mengedar pandangan melihat villa suaminya dari balkon kamar villa tersebut "Kau suka Honey?" memeluk Nana terlihat sangat mesra.


"Ini rumah segede ini mau di apain sih Mas, buang-buang uang aja deh" kesal Nana karena menurutnya Alham sangat membuang-buang uang.


"Ck, awalnya mau romantis-romantis tapi sudah di buat kesal" ujar Alham kesal pada istrinya. Ia sudah membeli villa untuk istrinya di jerman, bukannya berterima kasih atau dapat ciuman di wajahnya, ia malah mendapat omelan dari istri kecilnya yang super cerewet menurutnya.


"Kak Alham itu yang buat mood ku berantakan, baru saja tiba di jerman udah di suguhkan dengan paha dan dada yang super gede lagi" Nana juga ikut kesal pada suaminya mengingat Jane yang tadi datang menghampiri mereka di airport.


"Ehem, apa Honey ku ini sedang cemburu?" mencolek sang istri.


"Nggak! ngapain mau cemburu, orang suami aku yang kegatelan, masak ada bawahan yang kayak gitu masih di pekerjakan di perusahaan! gak ada kerja banget!" ketus Nana mendengus.


Mendekati istrinya yang lagi dalam mood berantakan. "Jadi maunya Honey ku ini bagaimana?" tanya Alham lembut mencoba membujuk istrinya.


"Udah ah, nggak usah bujuk aku, aku tidak mau berbicara dengan kak Alham" naik ke kasur merebahkan dirinya berniat untuk tidur. Ia merasa akhir-akhir ini ia sering kelelahan. Mungkin efek hormon hamil. Pikir Nana.


Menghembus nafas kasar menghadapi ibu hamil yang berada di atas ranjang sedang ngambek.


Drrrttt Drrrttt Drrrttt


"Hello, Assalamualaikum" jawab Mommy Aara.


"Waalaikumsalam Mom. Mommy Alham dan Nana sudah tiba di jerman Mom" Alham.


"Alhamdulillah ... Kau sudah menghubungi mami Ayuna sayang?'' Mommy Aara.

__ADS_1


"Belum Mom, ini baru saja mau telpon mami Ayuna setelah menghubungi Mommy." Alham.


"Ya sudah, kau hubungi dulu mami Ayuna, nanti mami Ayuna khawatir jika kau belum menghubunginya sayang"


"Baiklah Mom, Alham tutup ya"


"Iya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah itu Alham kembali menghubungi mami Ayuna. Mami Ayuna mencari putrinya tapi Alham mengatakan jika Nana sedang tidur, mungkin ia kelelahan. Seperti itu lah kira-kira yang Alham ucapkan.


,,,


Nana baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia melihat sebuah kotak kecil yang berada di atas meja rias. Berjalan menghampiri meja dan melihat kotak tersebut lebih dekat lagi. Ia masih memakai handuk kecil di tubuhnya yang mempertontonkan lekuk tubuh indah nan mulusnya.


Membuka kotak tersebut, sebuah cincin berlian yang terlihat simple tapi sangat mewah dan elegan.


"Wow ... Indah ... Cincin ini sangat indah ... Siapa pemilik cincin ini? Kenapa bisa berada di kamar?" gumam Nana memasukkan cincin berlian tersebut ke dalam jari-jari lentiknya. Ternyata cincin itu sangat pas di jarinya.


"Cocok banget ... Ukurannya sesuai banget dengan jariku," tambahnya berbicara sendiri dan tersenyum.


Tiba-tiba sebuah tangan kokoh memeluk pinggang rampingnya dari arah belakang bersamaan sebuah kecupan mendarat di pipi mulusnya.


"Kau menyukainya Honey?" lembut Alham.

__ADS_1


Melihat sekilas pada suaminya "Emang ini milik siapa? Punya Mas Alham?" tanya Nana.


"Jika dalam kamar ini, berarti itu adalah milikmu Honey" mengerat pelukannya.


"Mas Alham mencoba untuk menyogok ku dengan cincin ini?'' tanya Nana curiga pada suaminya.


"Hahahaha ... Kau sangat seuzon sayang ..." mencium bibir istrinya sekilas.


"Bukan seuzon, tapi kan Mas Alham itu sering mengandalkan uang untuk menggoda siapa saja"


"Kau masih marah hm?''


"Kapan aku marah" elak Nana.


"Tadi siang kau marah Honey ... Apa kau mau keluar malam ini sayang?"


"Mau kemana?"


"Ke mana saja asal bersama mu" gombal Alham membuat Nana tidak bisa menahan tawanya.


"Dasar, raja gombal"


"Hanya padamu sayang"


"Cih, nggak percaya aku"

__ADS_1


__ADS_2