Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
..


__ADS_3

''Kau sudah bangun'' Terdengar suara bariton dari arah punggungnya.


Membalikkan tubuhnya melihat suaminya. ''Hm, aku mau pulang'' singkat Nana.


''Nana, kenapa kau tidak tinggal saja di sini, lagi pula ini sudah malam'' tanya Alham menatap sang istri.


Nana terdiam sambil berpikir. Ia teringat dengan ucapan maminya siang tadi. ''Baik lah, di mana aku tidur nanti'' tanpa melihat ke arah Alham. Nana masih sangat dingin pada Alham.


''Di mana saja yang akan membuat mu nyaman di rumah ini''


''Aku hanya nyaman di rumah ku'' datar Nana.


''Terus, kenapa kau kemari'' Alham mengikis jarak di antara mereka berdua.


''Karena kau sakit, dan karena aku tidak mau jika mommy Aara menganggap ku sama kejamnya dengan mantan suaminya mu'' sindir Nana tepat mengenai jantung Alham.


Terdiam, mendengar ucapan istrinya. Alham mengira jika istrinya sudah datang ke mension nya ia sudah mau memaafkan-nya, tapi ternyata Alham salah, Nana masih menyimpan semua dendamnya.


Nana kembali ingin melangkah keluar dari kamar Alham. Tapi tiba-tiba Alham memeluk-nya dari arah belakang. Pelukan yang hangat dan sangat lembut.


''Maafkan aku, ku mohon maaf kan aku, berikan aku satu saja lagi kesempatan untuk memperbaiki segala yang telah aku rusak, jangan buat aku seperti ini Nana, aku benar-benar minta maaf'' lirih Alham berbisik di telinga Nana dengan nada sendunya.


Mengangkat tangannya melepas pelukan Alham darinya. ''Aku lapar'' bohong Nana tidak ingin membahasa tentang mereka berdua.


''Sampai kapan Nana, sampai kapan kau terus mencipta kan jarak di antara kita''


''Sampai kau bisa memutar waktu dan mengembalikan segalanya'' jawab Nana melangkah keluar kamar turun ke bawah berniat mencari makan karena ia memang sangat lapar.


''Bik, apa ada yang bisa di makan'' tanya Nana kemudian mencium pakaiannya karena sudah malam tapi ia belum mandi.


''Ada nona, sudah saya siap kan di meja makan'' jawab bik Sumi.


Mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam dapur. Ia langsung memasak bubur ayam untuk suaminya.


Beberapa minit sudah selesai Nana menaruh bubur tersebut di nampan dan mengambil makanan juga buat dirinya sendiri kemudian membawa naik ke kamar suaminya.


Cklekkk


Menghampiri Alham yang duduk di balkon kamar. ''Makan lah, anda pasti belum makan'' ujar Nana menaruh nampan di meja kecil yang berada di balkon kamar.


''Apa kau yang memasak bubur ini'

__ADS_1


''Iya, maaf kalau tidak enak'' jawab Nana duduk di hadapan Alham kemudian memberikan Alham bubur yang ia bawa.


Alham menatap buru buatan Nana, ia teringat semasa mereka berdua masih tinggal di apartemen, di mana ia sering menyuruh Nana masak tapi ia sama sekali tidak pernah memakan masakan Nana, ia hanya ingin mencari gara-gara pada Nana waktu itu.


Menarik nafas dalam, ia baru merasakan sebuah penyesalan yang mendalam, karena Nana tetap memperlakukan nya seperti seorang suami meski selama ini ia sudah sangat jahat pada isterinya.


Nana mengambil piringnya dan mulai memakan makanannya. ''Kenapa tidak di makan?'' tanya Nana tanpa melihat wajah suaminya karena ia memang sering mengelak bertemu pandang pada Alham.


''Terima kasih'' kembali hati Alham merasa sangat sakit mendengar ucapannya yang berterima kasih pada istrinya. Karena selama ini ia sama sekali belum pernah berterima kasih pada Nana mesti Nana sudah susah payah masak untuknya tapi ia tidak memakannya, di mana Nana terpaksa membungkus makanan tersebut dan membagi-bagikan pada pengemis.


Meski Nana anak yang sangat manja, dan terlahir dari keluarga kaya raya, tapi Nana tidak seperti gadis lain yang hanya mengandalkan harta orang tuanya dan hanya mengharapkan pembantu.


Nana gadis yang sangat pintar masak dan melakukan sesuatu dengan sendiri tanpa mengharapkan pembantu di mension papinya.


Alham mulai memakan masakan istrinya. Masakan-nya sangat enak. Batin Alham.


Mereka berdua sama-sama diam sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memakan makanannya.


Selesai makan, Nana mengemasi bekas makan mereka. Setelah itu ia mengambil obat untuk suaminya. Dan memberikan pada suaminya.


''Minum lah, anda tidak perlu mandi dulu, besok saja jika anda ingin membersihkan tubuh anda.'' kata Nana.


Setelah selesai Nana juga mengambil kan baju ganti untuk suaminya. Setelah itu Nana keluar dari kamar membawa nampan bekas makan mereka.


Nana memutuskan untuk tidur di kamar tamu saja.


,,,


Keesokkan harinya Nana kembali masuk ke dalam kamar suami. Ia melihat suaminya sudah mandi dan memakai baju santai.


''Anda sudah merasa baikan?'' tanya Nana.


''Iya,'' singkat Alham bingung ingin bersikap seperti apa pada Nana.


"Anda ingin saya membawa sarapan ke sini" tanya Nana.


"Aku bisa turun sendiri," singkat Alham.


Nana hanya mengangguk kemudian keluar dari kamar Alham.


,,,

__ADS_1


Selesai sarapan Nana berangkat ke butiknya.


Sebelum tiba di butiknya, ia melihat sahabatnya Gina yang sudah hampir tiga tahun tidak ia temui, ternyata semasa kejadian Nana tertangkap di rumah bordil beberapa tahun lalu saat ia mengikuti Gina, ia tidak pernah lagi bertemu Gina walau di kampus, karena Gina ternyata berhenti kuliah dan tiba-tiba jejaknya nya menghilang begitu saja seperti di telan bumi meski Nana sudah berusaha mencarinya kemana-mana.


Nana memarkir mobilnya turun dari mobil dan langsung menghampiri Gina yang saat ini sedang duduk di sebuah warung kecil.


''Gina!'' seru Nana.


Mengalihkan pandangannya pada Nana ''Nana'' sahut Gina tersenyum pada Nana.


''Kau dari mana saja, aku sudah mencari mu kemana-mana''


''Maaf, aku juga bingung bagaimana mau jelasinnya'' jawab Gina tersenyum kecut.


''Jadi ini kok kamu bawa-bawa tas pakaian kamu'' tanya Nana lagi saat melihat Nana membawa tas pakaiannya.


''Aku baru saja di usir dari kosan ku karena aku tidak bisa membayarnya''


''Lah, jadi om mana?''


''Papa sudah setahun yang lalu meninggal''


''Maaf kan aku, aku tidak tau soal itu'' sedih Nana.


''Tidak apa-apa kok''


''ini kau mau Kemana?''


''Aku mau cari kontrakan baru lagi, tapi uang ku sangat tipis'' jawab Gina jujur karena ia memang tidak memiliki uang lagi.


''Bagaimana jika kau tinggal saja di rumah ku''


Gina menggeleng ''Aku malu tinggal di mension papi mu''


''Bukan di sana, maksud aku di mension suami ku, karena aku juga akan pindah ke mension suamiku'' ajak Nana tanpa berfikir dulu.


''Emang boleh?'' tanya Gina.


''Aku tanya suami ku dulu'' jawab Nana tersenyum kecut.


''Baik lah, aku tunggu'' mereka berdua berbincang-bincang ringan sebelum Nana mengajak Gina ke butiknya.

__ADS_1


__ADS_2