
Terdengar deru mobil dari luar mension papi Bima. Ternyata Aggam dan juga Aara sengaja mendatangi rumah Bima untuk minta maaf atas apa yang telah putranya lakukan pada putri mereka.
"Assalamualikum" Salam Aggam bersama istrinya.
"Waalaikumsalam" Jawab salah satu pelayan yang berada di mension papi Bima.
"Tuan mu ada" Tanya Aggam.
"Ada tuan, sebentar saya panggil di kamar dulu, silakan duduk dulu tuan" Kata pelayan dengan sopan.
Aggam mengangguk kemudian mendudukkan dirinya di sofa bersama istrinya.
Pelayan naik ke lantai dua untuk memanggil tuan dan nyonyanya.
Beberapa minit berlalu Ayuna dan juga Bima turun ke bawah menghampiri Aggam dan Aara.
"Assalamualaikum" Salam Bima tersenyum pada Aggam.
"Waalaikumsalam" Jawab Aggam tersenyum canggung. Ia malu dengan perlakukan putranya pada Bima dan juga Ayuna.
"Maafkan aku Bim" Kata daddy Aggam langsung pada intinya.
"Tidak perlu minta maaf, mungkin mereka belum berjodoh, ya walau pun sudah, tapi begitu lah, tidak berpanjangan." Jawab Bima menarik nafas berat.
"Aku juga minta maaf mas Bima, Ayuna, aku gagal mendidik putra ku dengan benar, aku minta maaf atas semua perlakuan putra ku pada putri mu" Kata Aara mulai berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Aara, benar yang di katakan mas Bima, jika mereka mungkin belum berjodoh" Ucap Ayuna tersenyum pada Aara, tapi sangat terlihat jelas kesedihan di kedua bola matanya.
"Maaf, apa Nana sudah kembali ke sini" Tanya Aggam merasa benar-benar tidak enak hati pada Bima dan juga Ayuna.
"Iya, mungkin dia sudah tidur di kamar, kau tenang saja, semua akan baik-baik saja." Ujar Bima.
Mereka berbincang-bincang di ruang keluarga Bima. Aara dan juga Aggam benar-benar tidak enak hati pada Bima dan Ayuna.
,,,
Beberapa hari berlalu, Nana masih mengurung diri dalam kamar, ia sama sekali tidak berniat untuk keluar dari kamar.
Tok tok tok.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan dari luar pintu.
Nana tidak sadar jika ada yang mengetuk pintu kamarnya, ia sedang duduk diam dan termenung.
Tok tok tok.
Kembali terdengar ketukan dari luar pintu, Nana tersadar berdiri dari duduknya melangkah membuka pintu kamarnya.
Tersenyum melihat siapa yang datang. "Assalamualaikum" Sapa Zila, ternyata Zila yang datang mengunjungi Nana.
Nana langsung memeluk Zila. "Waalaikumsalam, ayo masuk ke dalam kak "Ajak Nana menarik lembut tangan kakak ipar nya untuk masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan mengurung diri dalam kamar Nan," Tanya Zila tersenyum di balik cadar nya.
"Tidak ada kak Zil, hanya malas saja untuk keluar dari kamar, ngomong-ngomong mana si dedek bayinya" Tanya Nana karena ia tidak melihat Zila membawa bayinya.
"Sama mami di bawah"
"Owh, terus, kak Kenan mananya mana"
"Kembali ke kantor setelah mengantar kakak ke sini"
"oh"
"Belum, aku bahkan belum bergerak sedikit pun untuk mencari pekerjaan" Nana menyengir.
Zila menyentuh tangan Nana dengan lembut, "Nana, sampai kapan kau ingin seperti ini, terus mengurung diri mu di kamar, coba lah untuk berdamai dengan keadaan" Ucap Zila dengan suara lembut.
Nana pura-pura tersenyum manis "Apa yang kak Zila kata kan, aku baik-baik saja" Jawab Nana berbohong.
"Kita sudah kenal dari kecil lagi Nan, aku sangat tau seperti apa kau, ayo lah bangkit, berhenti terus memikir kan kak Alham, kau juga berhak bahagia Nan, beri kan kesempatan pada diri mu sendiri untuk bahagia" Bujuk Zila.
Nana sudah mulai berkaca-kaca. "Aku tidak tau..... Tidak tau ingin memulai semua ini dari mana, semua ini terasa asing bagi ku," Jawab Nana kembali menjatuh kan air matanya.
''Ssssstttttt kebersamaan mu bersama kak Alham, membuat kau merasa asing tanpa nya, tapi percaya lah, jika kau mau memulai semuanya dari awal, aku yakin kau pasti akan baik-baik saja, dan aku yakin kau bisa Nan, bangkit lah dari keterpurukan mu ada banyak kebahagian yang menanti mu di luar sana" Zila memeluk tubuh Nana yang kembali terguncang
Nana lagi-lagi hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
,,,
__ADS_1
Mension Ilham.
Alham sedang duduk termenung, sampai hari ini ia belum pernah ke rumah momminya, ia masih sangat takut bertemu dengan papi maminya, apa lagi dengan nyonya omanya Sarah, bisa-bisa di omelin dia. Jadi ia memilih ke rumah kakak kembarannya saja.
Zira menghampiri Alham yang termenung. "Ada apa dengan mu" Tanya Zila menduduk kan diri nya di seberang sofa.
"Tidak ada kakak ipar" Jawab Alham lemah.
"Kapan kau kembali lagi ke jerman" Tanya Zira.
Alham menggeleng "Aku juga tidak tau kapan akan ke sana lagi, kak Ilham mana" Jawab Alham kembali bertanya.
"Kak Ilham ke kantor, kemana lagi...."
Alham kembali terdiam dengan pikiran yang kosong. Hidupnya benar-benar berantakan beberapa hari ini ia bahkan hidup seperti orang yang tidak punya tujuan sama sekali.
Ia juga sudah menandatangani surat cerainya dengan Nana.
,,,
Kembali ke mension papi Bima.
Nana menatap tandatangan suaminya di surat cerai mereka dengan perasaan yang sangat terluka. Nana baru saja menerima surat cerai yang sudah di tandatangani oleh Alham mantan suaminya.
Mengangkat tangannya, mulai menjalan kan tinta di atas kertas tersebut. Akhirnya Nana dan Alham resmi bercerai, Nana kembali menjatuhkan airnya.
Akhirnya.... Semua benar-benar berakhir... Kemana aku akan membawa luka yang mendalam ini, kemana aku akan menyembuhkan luka ini. Batin Nana menjatuhkan tubuhnya di lantai sambil meringkuk dan menangis sejadi-jadinya.
Biarkan ini menjadi tangisan ku yang terakhir kalinya untuknya, setelah ini aku tidak ingin menangis lagi untuk pria yang tidak bisa menghargai ku seperti dirinya. Batin Nana.
Tanpa sadar Nana tertidur di lantai.
Cklekkk
Papi Bima masuk ke dalam kamar putrinya dan melihat putrinya yang berbaring di lantai sambil meringkuk dengan sisa air mata di wajahnya.
Melihat surat cerai putrinya yang menjelaskan jika mereka sudah resmi bercerai.
Papi Bima mengangkat tubuh putrinya naik ke atas ranjang, kemudian menidurkannya di ranjang, menutup tubuhnya. Papi Bima menatap sendu pada putrinya, ia dapat merasakan kesakitan yang di alami oleh putrinya saat ini.
__ADS_1
"Bangkit lah sayang, jangan seperti ini terus, papi sangat terpukul melihat mu seperti ini, papi dan mami ingin melihat mu bisa mencapai cita-cita mu untuk menjadi seorang designer hebat seperti yang sering kau banggakan kepada papi dan mami. Papi mohon, jangan seperti ini lagi" Lirih papi Bima mencium dahi putrinya, kembali merapikan selimutnya, dan melangkah keluar dari kamar Nana dengan perasaan sedih.
Ternyata Nana mendengar apa yang di katakan oleh papinya barusan. Kau harus bisa Nana, ayo memulai semuanya dari awal lagi. Batin Nana bertekad jika ia bisa menata hatinya kembali yang sudah hancur berkeping-keping.