
Tampak sepasang suami istri bergandengan tangan sedang berjalan di pinggir pantai menikmati indahnya angin bertiup menyapu tubuh mereka berdua.
"Mas, kalo anak kita laki-laki, pengen-nya Mas Alham di bagi nama apa?" tanya Nana. Selepas mengantar sang istri membeli rumah buat Gina, Alham mengajak istrinya ke pinggir pantai.
"Aku ingin bayinya perempuan Honey" jawab Alham tersenyum.
"Loh, kok perempuan sih Mas?"
"Karena aku tidak memiliki sodara perempuan, maka itu aku maunya anak pertama kita perempuan"
"Hanya karena itu?"
"Hm, kau tidak suka anak perempuan?"
"Tentu saja suka, apa pun itu pasti aku suka, apa lagi kalo cantiknya kayak aku" menjawab pede sambil memain alisnya.
"Pede banget, emang situ tidak ada cermin di rumahnya, atau nggak pernah lihat kaca, masak wajah pasaran kayak gitu di kata cantik" ledek Alham sengaja ingin membuat istrinya marah.
Tak!
Memukul bahu suaminya. "Ya, aku memang sudah tidak cantik di mata Mas Alham, karena wanita di jerman itu yang cantik Kan!" ketus Nana membalik badan ingin melangkah pergi.
Buru-buru memeluk pinggang ramping sang istri dari belakang. "Kenapa kau bertambah sensitif Honey, padahal kan aku hanya bercanda" terkikik
"Candaan nya nggak lucu! suka banget mancing - mancing ribut" ketus.
"Baik baik lah, aku minta maaf"
Hanya tersenyum menanggapinya.
,,,
Malam hari.
Tok Tok Tok
Nana mengetuk pintu kamar Gina.
Cklekkk
"Nana, ada apa?" tanya Gina tersenyum pada Nana.
"Apa aku bisa masuk?"
"Tentu saja, masuk lah"
Tersenyum kemudian melangkah masuk ke dalam kamar yang di tempati Gina.
Duduk di ranjang Gina, berat hati ingin menyampaikan pada Gina, tapi berpikir apa yang di katakan suaminya siang tadi, ia tidak bisa mengabaikannya.
"Apa yang ingin kau bicara?"
Tersenyum manis "Gina, aku sudah membelikan mu rumah untuk kau tinggali" ujar Nana merasa tidak enak melihat perubahan di wajah Gina.
💕💕💕💕💕
Hai²👋👋🤚 mari kita bahas sedikit tentang novel yang akan author riliskan 😍
Tajuk: BENIH SIAPA YANG AKU KANDUNG.
COVER
Kisah seorang wanita bekerja di sebuah hotel untuk menyambung hidupnya yang sangat berantakan. Ia gadis yang memiliki kelebihan, di mana ia bisa merasakan aura di sekelilingnya.
Suatu hari ia terjebak cinta satu malam bersama dengan seorang miliarder yang sering menutupi wajahnya dengan masker.
Dari hasil cinta satu malam, ia mengandung benih pria tuan X. Tapi ia sama sekali tidak mengenali wajah pria yang sudah menghabiskan malam panjang bersamanya. Ia juga tidak tau jika pria tersebut adalah tuan X.
__ADS_1
Beberapa tahun berlalu mereka kembali di pertemukan di sebuah rumah sakit, saat itu Riana sudah menjadi seorang dokter bedah, kebetulan tuan X (Braylee) tertembak, akhirnya Riana sendiri yang membuat pembedahan ke atas tuan X.
Braylee Alan seorang Mafia juga pemimpin perusahaan raksasa di Amerika. Tapi tidak ada yang pernah melihat wajahnya karena ia sering menggunakan masker. Braylee, atau lebih di kenali dengan sapaan tuan X, ia pria yang di penuhi ambisi balas dendam atas kematian Daddy-nya di karena kan selingkuhan mommy-nya. Ia itu sahabat baik Daddy-nya sendiri.
Saat tersadar di rumah sakit setelah pembedahan, tuan X melihat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan wajahnya berusia 6 tahun.
Ia mengetahui ternyata anak itu adalah anak dari dokter yang menanganinya. Tapi mereka tidak saling kenal.
Alasan tuan X juga tidak mengenali Riana, karena Riana memalsukan wajahnya untuk menyelamatkan diri dari sang Ayah. Karena Albert (Ayah Riana) terus mencari keberadaannya.
Braylee yang memiliki kekuasaan, meminta Riana untuk menjadi dokter pribadinya. Awalnya Riana menolak, tapi mengetahui jika pria di hadapannya bisa membongkar identitas aslinya, Riana akhirnya setuju dan memutuskan untuk menjadi dokter pribadi Braylee, meski Riana sangat tidak menyukai tuan X yang sering menarik perhatian putranya, lebih tepatnya anak kandung Braylee sendiri.
Bab 1
"Arkh... Tubuh ku sakit semua" gumam seorang gadis sambil melenguh di atas ranjang empuk. Ia baru saja terbangun dari tidurnya, ia belum benar-benar menyadari dengan apa yang baru saja ia alami.
Mulai membuka kedua bola mata indah nan cerah miliknya. Tunggu, aku di mana. Bertanya dalam hati saat kedua netra indahnya menangkap sekeliling yang sangat asing di penglihatan.
Beralih melihat tubuhnya yang terasa seperti tidak mengenakan sehelai benang pun.
Deg!
Bergegas menarik selimut kembali menutupi tubuh polos nan putih gebunya, kedua netra indahnya tertuju pada noda darah di ranjang. Menutup mulut kaget. "Apa yang terjadi pada ku," terdiam dan berfikir, mulai mengingat-ingat yang terjadi semalam.
Sebuah ingatan mulai berputar seperti sebuah filem menampilkan kepingan-kepingan ingatan berkumpul menjadi satu memori yang tampak jelas di ingatannya.
(Flash back)
"Riana," panggil sang manager pada Riana salah satu pelayan di sebuah hotel mewah.
"Ya bos" sahut Riana di lengkapi dengan pakaian pelayan khas untuk karyawan hotel tersebut.
"Kau bawa minuman ini ke ruang VIP, ingat, jangan sampai kau melakukan kesalahan sedikit saja, jika sampai kau melakukan kesalahan, aku pasti akan menghukum mu." manager mengingat-kan panjang lebar, karena yang berada di ruang VIP bukan orang sembarangan.
"Baik bos, saya akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan"
"Hm, pergi sekarang"
Kaki jejang indahnya mulai melangkah mengantarkan tubuh membawanya ke ruang VIP, tempat di mana ia akan memulai drama panjang kehidupan.
Cklekkk
"Permisi, saya ingin menyajikan minumannya" sopan Riana melihat semua yang berada di sana orang - orang kelas atas, dengan nampan yang berisikan wine di tangannya.
"Silakan nona" sahut Asisten tuan X.
Riana mengangguk mulai menyaji.
Melihat ada seorang pria paruh baya di dampingi empat wanita panggilan, dan seorang pria bertubuh tinggi, kekar, dan atletis tampak jelas dari setelan jas rapi yang ia kenakan. Riana tidak dapat melihat wajah pria tersebut karena ia menggunakan masker menutupi wajahnya dan memakai kaca mata hitam.
Ia bisa merasakan aura dari pria tersebut sangat dingin mencengkam. Salah satu kelebihan di miliki Riana, ia bisa meresapi dan merasakan semua aura yang berada di sekelilingnya.
Aura pria ini seperti penuh dengan dendam yang sangat mendalam. Batin Riana melihat sekilas pria bermasker kemudian ingin melangkah keluar.
Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang gadis di seret masuk ke dalam ruangan sambil berteriak.
"Arkhhhh lepaskan aku, ku mohon lepaskan aku!" gadis itu terus memohon dan memberontak.
Kembali ingin melanjutkan langkah kaki karena tidak ingin terlibat dengan mereka semua yang tampak seram. "Hei, kau!" panggil pria paruh baya yang di dampingi wanita panggilan pada Riana.
Membalik tubuh mengarah pada pria tersebut saat sadar dirinya yang di ajak berbicara. "Ya tuan, ada yang biasa saya bantu" tanya Riana dengan sopan.
Pria paruh baya itu menggeraK-gerakkan tangannya seolah mengusir salah satu wanita panggilan yang berada di dekatnya.
Salah satu wanita itu berdiri, kemudian pria paruh baya tersebut menepuk-nepuk pahanya meminta untuk Riana duduk di pahanya.
"Maaf" tanya Riana pura-pura tidak mengerti maksud dari pria tersebut.
"Kemari-lah, dan duduk di sini" perintahnya.
__ADS_1
Membungkuk sopan. "Maaf tuan, tapi saya hanya pelayan, saya juga masih memiliki banyak pekerjaan, permisi" sopan Riana tersenyum manis menolak ajakan pria paruh baya itu.
"Kau menolak ku!" terdengar sinis.
Riana memilih diam, ia bisa merasakan aura di sekelilingnya mulai berubah.
"Baik lah jika kau tidak ingin duduk di sini, bagaimana jika kau minum saja minuman ini" mendorong minuman pada Riana.
Terdiam menatap wine yang ia sajikan tadi. Sedangkan pria bertubuh sempurna dengan wajah tampan yang tersembunyi di balik masker masih tetap diam menyilang dan menyandar di sofa melihat drama di hadapannya.
"M-maaf tuan, tapi saya masih memiliki banyak sekali pekerjaan, saya pamit dulu" masih menolak dengan halus.
"Kemari-kan gadis itu" titahnya pada ajudan yang membawa gadis belia hampir seumuran dengan Riana.
"Baik tuan'' membawa gadis malang ke hadapan tuannya.
Plakkkk!
Tanpa aba-aba menampar wajah gadis tersebut dengan keras terdengar nyaring.
"Arkhhhh" teriak gadis malang sambil menangis.
"Kau masih tidak ingin meminum itu?" tanya pria paruh baya pada Riana lagi.
Tidak punya pilihan lain, mendekat pada meja, menjulur tangan lentiknya mulai mengambil wine, menarik nafas pelan dan langsung meneguk wine tersebut hingga tuntas.
"Sudah tuan, saya permisi'' pamit Riana tersenyum di paksakan.
Tertawa jahat. "Semua wanita itu seperti sampah, bodoh" maki pria paruh baya tersebut.
Mengepal kedua tangan saat mendengar ucapan pria yang menurutnya sangat melampau. Pria di balik masker dapat melihat gadis di depannya sedang mengepalkan tangannya.
Riana melangkah keluar dari ruang VIP dengan perasaan geram.
***
Selesai urusan dengan pria paruh baya, Tuan X keluar dari ruang VIP menuju kamarnya bersama sang Asistennya.
"Kau sudah menyiapkan peluncuran senjata untuk malam ini" tanya Tuan X melangkah panjang, kedua tangan berada dalam saku berjalan tegak.
"Sudah tuan, semua sudah beres, tinggal menunggu peluncuran senjatanya''
"Bagus, segera bereskan semuanya, aku ingin istirahat, jika sudah selesai kau info aku"
"Siap tuan"
"Hm''
Asisten Xan melangkah berniat turun ke bawah untuk menyelesaikan urusannya, karena besok mereka akan kembali ke kota A dengan segera.
Saat akan masuk ke dalam kamar, tuan X seperti melihat punggung seseorang di sudut lorong. Entah apa yang menggerakkannya, ia melangkah mendekati punggung tersebut.
Melihat pemilik punggung, ternyata ia adalah gadis yang tadi melayani mereka di ruang VIP. Ia adalah Riana yang sedang duduk meringkuk.
"Apa yang kau lakukan di sini" tanya tuan X pada Riana. Ia bukan pria suka mencampuri urusan seseorang, apa lagi orang yang tidak ia kenal, tapi entah mengapa ia melakukan itu pada gadis di depannya.
Mendengar ada yang menyapanya. Mengangkat pandangan, ia tidak melihat dengan jelas pria di depannya, menahan tubuh dengan tembok di punggung, berdiri dengan susah payah, saat ia sudah berdiri sempurna, ia langsung memeluk tuan X, tangan Riana sangat liar seperti menginginkan sesuatu yang lebih dari pria tersebut.
Mendorong tubuh gadis lancang yang memeluknya, tapi Riana semangkin mengerat pelukannya. "Tolong.... Tolong aku" kata Riana membisik pria tinggi tegak di hadapannya.
Sepertinya wanita ini di beri minum obat perangsang oleh tua bangka itu untuk menyiksanya karena menolak keinginannya. Batin tuan X menatap wajah cantik Riana.
Mengangkat dagunya "Aku tidak tertarik, menjauh lah." mendorong tubuh Riana hingga lepas darinya, membalik badan ingin melangkah.
"Ku mohon, tolong aku..." terdengar lirih dan memohon. "Aku bisa mati dengan keadaan yang sangat menyiksa ku saat ini, ku mohon" terdengar sayup-sayup.
Berfikir sejenak, tuan X bukan pria mudah luluh, tapi entah mengapa ia tidak tega dengan gadis yang memohon padanya. Membalik tubuhnya.
"Jangan salahkan aku jika kau sudah sadar, karena kau yang menginginkan ini" ujar tuan X mengangkat tubuh Riana membawanya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
(Flash back selesai)
Riana akhirnya mengingat dengan detail tentang apa yang terjadi semalam pada dirinya. Tentu saja ia tidak mengenali tuan X. Karena Braylee memakai masker.