
Malam hari.
Alham menghampiri istrinya yang sedang duduk di ranjang sambil bermain ponselnya "Nana, ada yang ingin aku katakan pada mu" ujar Alham pada istrinya.
"Katakan saja, ada apa" jawabnya tanpa melihat sekilas ke arah suaminya.
Menarik nafas untuk mengumpul keberaniannya ingin mengatakan sesuatu yang ia takut akan menyinggung perasaan istrinya.
Merasa tidak mendengar suara suaminya, ia mengangkat pandangan melihat semula ke arahnya. "Ada apa Mas? bilang saja, tadi katanya ingin mengatakan sesuatu, tapi ini kok diam aja?"
"Mmmm... Tapi kau janji, jika kau tidak akan marah dengan apa yang ingin aku katakan ini" mencoba membuat istrinya mengerti agar nanti tidak akan menyinggung nya.
Menatap tajam. "Mas Alham mau nikah lagi?"
"Astaghfirullah, ngomong apa sih sayang... Tentu saja tidak,"
"Baik lah, jadi apa dia, bilang saja"
Terdiam sebentar "Ini pasal teman mu itu"
Mengerut "Gina maksudnya?"
"Hm" mengangguk.
__ADS_1
"Ada apa dengan Gina?"
"Sebelumnya aku minta maaf ya, bukannya aku tidak suka kau membawa teman mu tinggal bersama kita, tapi apa tidak sebaiknya kau carikan saja tempat tinggal lain untuk teman mu, jangan di kediaman kita" berbicara lembut dan memegang tangan sang istri.
"Sudah terlalu banyak ujian dalam rumah tangga kita, aku tidak ingin lagi jika nanti ada salah faham di antara kita jika Gina terus tinggal di sini" Ia tidak berniat untuk memberitahukan pada istrinya tentang kelakuan Gina yang sering menggodanya.
Menatap kedua bola mata suaminya. "Apa Mas Alham tertarik pada Gina?" tanya Nana menatap suaminya.
"Apa yang kau bicarakan sayang, tentu saja tidak, jika aku seperti pria yang kau maksud, mungkin aku sudah banyak menjalin hubungan dengan mana-mana wanita" tersenyum lembut memegang pucuk kepala istrinya dan mengusapnya.
"Hati ku hanya tertuju pada mu, dari dulu hingga ke depannya, hanya saja aku tidak menyadari perasaan ku, maafkan aku sudah banyak menyakitimu" terdengar nada sendu.
Tersenyum saat melihat tidak ada kebohongan dari kedua netra suaminya. "Terus, kenapa dulu Mas Alham menceraikan aku?" tanya Nana kembali menatap dalam kedua bola mata suaminya.
"Mas Gilang"
"Arh, itu dia"
"Kenapa Mas Alham cemburu?" tanya Nana menyerjit.
"Aku sudah beberapa kali melihat kau keluar bersamanya, tentu saja aku cemburu"
"Jujur amat Mas" menahan tawanya mendengar kejujuran suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja, karena kau itu milik ku seorang, tidak ada yang bisa memilikimu, aku mencintaimu Honey." mengecup dahinya.
"Aku juga mencintai mu" memeluk suaminya.
"Terus bagaimana dengan yang aku tanyakan tadi?" tanya Alham lagi.
Mengangguk. "Aku akan membelikan rumah untuk Gina tinggali" jawab Nana menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Memakai uang mu?" tanya Alham.
"Hm, tentu saja"
"Pakai saja uang ku sayang"
"No" menarik wajahnya menatap tajam Alham.
"Apa aku salah bicara?" bingung Alham melihat respon Nana.
"Salah banget! enak aja mau beliin rumah untuk wanita lain, tentu saja aku tidak akan membenarkannya, uang kak Alham itu hanya bisa aku yang pake atau mommy Aara, kalo wanita lain tidak akan!" ketus Nana.
Tertawa melihat tingkah istrinya yang sangat posesif. "Aku hanya tidak ingin membebani mu Honey.... Aku sama sekali tidak berniat seperti yang kau katakan barusan" membela dirinya sambil memperbaiki anak rambut sang istri.
"Tidak, tidak usah, aku tidak kekurangan uang jika hanya untuk membeli sebuah rumah saja" kekeh Nana.
__ADS_1