Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Bab 54


__ADS_3

Mencari foto-foto lain selain dari fotonya, tapi ia sama sekali tidak menemukan foto lain selain fotonya.


Menoleh melihat suaminya di sampingnya. ''Bagaimana semua foto-foto ini bisa berada dengan Mas Alham? Foto ini bahkan tidak barada di mension papi Bima Mas" bertanya dengan wajah heran.


Lagi-lagi Alham hanya tersenyum padanya. "Ini semua aku ambil saat kau masih kecil lagi Honey ... Bagaimana? Apa kau menyukainya?" memeluk bahu istrinya lembut.


"Bukan saja menyukainya Mas Alham, tapi aku juga sangat terharu ..."


''Benarkah?" tanya Alham di angguki Nana.


Mencium dahi istrinya. "I love u Honey"


"I love u too Mas Alham" tersenyum manis.


Merasa sudah cukup lama berada di luar. Alham mengajak istrinya pulang ke villa.


,,,


Di kamar.


Nana baru saja siap mengganti pakaiannya. Saat keluar dari kamar ia di suguh dengan pemandangan yang membuatnya melongo.


Bagaimana tidak, Alham sudah menunggunya di ranjang hanya menggunakan boxer, menahan tawa melihat suaminya yang seperti gigolo pikirnya.

__ADS_1


"Apa yang berada di pikiranmu Honey, kemari lah, aku sudah menunggumu sayang" ujar Alham bernada mesum tersenyum lebar.


"Hahahaha'' tidak bisa menahan tawa melihat tingkah suaminya.


"Kenapa kau tertawa Honey? Apa ada yang lucu di sini?"


"Tentu saja ada, aku melihat Mas Alham itu sudah seperti gigolo Mas" kembali melanjutkan tawanya.


"Tidak masalah Honey, jika kau melihatku seperti gigolo, anggap saja aku gigolo yang kau sewa malam ini" menggoda istrinya.


"Genit"


Akhirnya mereka berdua menghabiskan malam panjang bersama.


,,,


Nana masih tertidur pulas di ranjang, semasa ia bangun untuk sholat subuh ia kembali melanjutkan tidurnya karena masih sangat ngantuk, bagaimana tidak Alham menggempurnya hingga dini hari.


Terdengar suara pintu kamar di buka dari luar kamar. Ternyata Alham yang datang membawa nampan di tangan berisi sarapan untuk istri tercinta yang sedang kelelahan masih tertidur pulas.


Menyimpan nampan di meja kemudian mengalih pandangan pada istrinya. Tersenyum mendapati Nana sangat kelelahan akibat ulahnya semalam.


Ia duduk di ranjang dekat istrinya mencoba membangunkannya. Ia tidak ingin jika sampai Nana kelaparan, apa lagi ia sedang hamil.

__ADS_1


"Honey, bangun Honey" mengusap lembut pipi halus Nana.


"Hm, nanti saja ... Aku masih ngantuk mi ..." Nana memanggil suaminya mami, ia mengira jika ia sedang di rumah papi Bima.


"Apa itu tandanya dia sedang melupakan aku saat dia tidur?" ujar Alham pada dirinya sendiri.


Kembali membangunkan istrinya. "Bangun sayang ... Apa kau tidak lapar ... Ini sudah sangat siang Honey" lembutnya. Alham benar-benar membuang semua sikap buruknya saat ia berada di dekat istrinya.


"Aku masih ngantuk mi ..." suara serak dengan wajah bantalnya.


"Honey, ini aku sayang Alham suamimu, bukan mami" ujar Alham tersenyum gemes melihat istrinya yang tidak ingin membuka bola matanya.


Melihat Nana kembali tidur, tiba-tiba timbul idea dari benaknya untuk menjahili istrinya.


"Honey, kau tidur saja ya jika kau masih ingin tidur, aku mau keluar sebentar bersama sekertarisku" iseng Alham.


Nana masih tertidur tapi samar-samar mendengar ucapan suaminya. "Siapa sekretaris Mas Alham" bertanya tanpa membuka kedua bola mata yang terasa seperti di lem.


"Yang kemarin di airport Honey, aku pamit ya" menahan tawa, ia yakin sebentar lagi istrinya pasti bangun.


Mengerjit dan mencerna ucapan suaminya. Beberapa saat berlalu Nana bergegas mendudukkan dirinya.


"Apa kart6a Mas Alham!! Keluar sama wanita tarzan itu!!" marahnya melototi suaminya

__ADS_1


__ADS_2