Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Pergi!!


__ADS_3

"Arkh" pekik Nana terjatuh saat berjalan tidak sengaja ia salah injak dan membuat kakinya keseleo.


Sebuah tangan kokoh menjulur padanya untuk menarik-nya. Mengangkat pandangan melihat siapa pemilik tangan. Ternyata Alham, Alham baru saja pulang dari jerman dan langsung mendatangi butik istrinya.


Tapi ia hanya melihat istrinya dari dalam mobil, saat melihat Nana yang entah dari mana tiba-tiba terjatuh di depan butik nya. Alham bergegas turun dari mobil dan mengulurkan tangan-nya pada istrinya yang sering menghindarinya.


Nana mengabaikan tangan Alham dan ingin berdiri tapi ia tidak bisa berdiri karena kakinya keseleo.


"Sini aku membantu mu" Alham ingin mengangkat tubuh Nana, tapi Nana tidak mau dan menolaknya.


"Tidak usah" Kata Nana berwajah datar sambil berusaha berdiri tapi ia sama sekali tidak bisa berdiri.


''Kaki mu keseleo, kau tidak akan bisa berdiri" ujar Alham dengan nada yang sangat lembut. Ini pertama kali Nana mendengar nada lembut keluar dari mulut seorang Alham yang sangat cuek. Biasanya dia hanya bernada datar, marah, tertawa, dan cuek tidak pernah bernada lembut seperti saat ini.


Akhirnya Nana diam dan mengalah karena ia memang tidak bisa berdiri.


Mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam butik. Nana hanya diam dengan wajah datar-nya. Luka di hatinya masih berdarah oleh kata-kata terakhir dari mantan suaminya yang saat ini sudah kembali menjadi suaminya.


Alham mendudukkan tubuh Nana di sebuah sofa yang berada di dalam butiknya kemudian berjongkok di bawah kaki istrinya dan mengurut pelan kaki Nana.


Nana tidak menolak dan membiarkan Alham mengurut kakinya.


Beberapa minit kemudian ia sudah mulai merasa baikan. "Bagaimana, apa masih sakit" lembut Alham bertanya pada istrinya.


Nana hanya mengangguk. "Kenapa kau belum pulang, ini sudah hampir maghrib" Tanya Alham berdiri dari hadapan Nana.


"Aku sudah mau pulang" Datar Nana.


Alham hanya diam menarik nafas pelan melihat respons Nana yang datar padanya padahal sudah hampir tiga bulan mereka menikah tapi Nana sama sekali tidak ada perubahan masih saja dingin dan datar.


"Kapan kau akan tinggal di apartemen" tanya Alham mencoba untuk mengajak Nana berbicara.


"Untuk apa aku tinggal di sana"


"Kita sudah menikah Nana,"


"Bukannya anda lebih suka berada di jerman" Sindir Nana pedas tanpa melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


Alham bungkam. Ia bingung ingin mengatakan apa. Ia ingin menjelaskan pada Nana jika ia sangat sibuk di jerman tapi ia juga berpikir mana mungkin Nana percaya pada ucapannya.


"Nana, kita bisa bicara kan ini baik-baik" Memegang tangan istrinya.


Nana menarik tangannya. "Aku mau pulang" ujar Nana tidak ingin bicara apa pun pada suaminya.


"Aku akan mengantar mu pulang" tawar Alham.


"Aku bawa mobil sendiri, tidak usah sok peduli!" Ketus Nana membalikkan tubuhnya ingin melangkah keluar dari butik tapi Alham menahan tangannya.


''Sampai kapan kau akan seperti ini Nana" tanya Alham menatap teduh istrinya.


Nana menepis tangan Alham dan melangkah keluar dari butik tanpa menjawab pertanyaannya.


Alham menarik nafas berat berjalan menuju mobilnya. Ia mengikuti mobil Nana dari arah belakang sampai di mension papinya. Saat melihat istrinya sudah masuk ke dalam mension papi Bima, ia juga pulang ke apartemennya.


,,,


Keesokan harinya Alham kembali datang ke butik istrinya membawa makan siang.


"Kau sudah makan" Tanya Alham melihat istrinya sedang duduk meluruskan tubuhnya karena terasa sangat pegal.


Menghembus nafas kasar "Kenapa kau terus mengganggu ku!! kenapa kau tidak pergi saja ke jerman sih!!" ketus Nana meninggi-kan Nada bicara pada Alham.


Alham menatap Nana dan memilih bungkam dari pada menjawabnya, ia tidak ingin jika sampai mereka bertengkar lagi jika ia mengikuti egonya.


"Maaf kan aku Nana" Ujar Alham terdengar sendu.


"Pergi lah! pergi! aku tidak ingin melihat mu!" kata Nana mengusir suaminya.


"Na---


"Pergi!!" usir Nana. Ia belum bisa menerima semua yang pernah Alham lakukan padanya apa lagi sampai membuat ia kehilangan bayinya.


Menatap sendu istrinya kemudian melangkah lemah keluar dari butiknya.


Setelah kepergian Alham, Nana duduk kembali di sofa dan menjatuh kan air matanya.

__ADS_1


Hiks hiks hiks Nana terisak kemudian menjulur tangannya mengambil kotak makanan yang di bawah oleh suaminya tadi. Membuka kemudian memakannya.


Karyawan yang melihatnya terbengong, mereka mengira jika Nana tidak ingin memakan makanan itu tapi mereka salah, Nana bahkan menghabiskan makanan-nya.


,,,


Karena Nana sangat sibuk di butik akhir-nya ia terlambat pulang. Saat ini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Nana keluar dari butik berjalan menuju mobilnya di parkiran.


Tiba-tiba Nana merasa seperti ada yang mengikuti nya. Memelankan langkah kakinya, melihat ke belakang ternyata tidak ada orang.


Saat ia membalikkan tubuhnya ia sangat kaget karena Rio sudah berdiri di hadapannya.


"Astagfirullah" Pekik Nana kaget melihat Rio.


"Hai" Sapa Rio tersenyum pada Nana.


"H-hai" Jawab Nana sedikit takut pada Rio.


"Kau mau pulang" tanya Rio dengan bola mata yang mengarah ke dada Nana.


Nana menarik tasnya dan menghalangi dadanya yang tertutup jilbab panjangnya "I-iya, permisi saya buru-buru" kata Nana melangkah cepat meninggalkan Rio yang tersenyum penuh arti menatap punggungnya.


,,,


"Dad, aku ingin berhenti dari pekerjaan ku di jerman daddy" Ujar Alham pada Daddy nya. Saat ini Alham berada di villa mommy-nya.


"Kenapa kau tiba-tiba mau berhenti?'' menyerjit melihat ke arah putranya.


"Daddy kan tau jika aku sudah menikah dengan Nana, aku tidak bisa membagi waktu ku di jerman dan juga di sini dad" Jelas Alham.


"Dulu kemana saja sampai berbulan-bulan tinggal di jerman tidak ada niat mau pulang lihat istri, kenapa sekarang mengeluh sampai mau berhenti segala, kau sudah bucin akut pada istrimu, atau kau sudah bosan melihat paha dan dada jumbo sekretaris mu" Sindir daddy Aggam pada putranya.


Alham berdecak mendengar sindiran daddy-nya. "Daddy bicara apa, jangan bicara sembarangan daddy" Ujar Alham pada daddy nya bernada ketus. Karena ia sama sekali tidak pernah melirik ke dada mau pun paha Jane yang daddy nya bicarakan barusan.


"Daddy bicara sesuai fakta Alham. Lagi pula kenapa kau mempekerjakan wanita seperti sekretaris mu itu, bagaimana jika istri mu salah faham dan itu bisa membuat hubungan kalian berdua akan bertambah rumit'' ujar daddy Aggam.


"Dia itu anak dari salah satu rekan bisnis ku di jerman dad, lagi pula aku sudah sangat lama menjalin hubungan kerja sama dengan ayahnya. Aku hanya tidak ingin ada masalah" Jawab Alham.

__ADS_1


Daddy Aggam manggut-manggut. "Kau tidak perlu berhenti dari pekerjaan mu di jerman Alham, kau bisa bekerja di sini tanpa harus ke jerman, kau hanya perlu mencari seorang asisten laki-laki yang bisa kau handal kan. Dan kau hanya akan ke jerman jika ada yang tidak bisa di wakili oleh asisten mu" Saran daddy Aggam.


__ADS_2