Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Mengatakan itu


__ADS_3

Sebulan berlalu.


Nana berniat untuk mencari ketenangan, mendatangi sebuah taman kanak-kanak.


Duduk di sebuah kursi kayu sambil tersenyum melihat anak kecil, selama Alham pergi ke jerman, ia belum pernah menghubungi istrinya sama sekali, meski hanya berbasa-basi untuk bertanya kabar.


Seorang pria tiba-tiba duduk di kursi yang sama dengan Nana, "Hai" Sapa pria tersebut.


Nana mengalih kan pandangannya melihat pria tampan di sebelahnya. "Hai, mas Gilang" Jawab Nana tersenyum pada Gilang. Ternyata yang menyapa nya adalah Gilang.


"Kau sendiri?" Tanya Gilang tersenyum lembut.


Nana mengangguk "Iya," Jawab Nana.


"Mana calon suami mu tempoh hari" Tanya Gilang pada Nana.


"Dia sudah menjadi suami ku, saat ini dia berada di jerman" Jawab Nana tersenyum kecut.


"Benar kah? wah, kapan kalian menikah" Tanya Gilang sekedar untuk berbicara kosong tanpa niat lain.


"Aku juga tidak ingat kapan" Jawab Nana.


''Aneh'' Ujar Gilang menggeleng pada Nana.


Tiba-tiba lewat penjual ice cream. Gilang berdiri dari duduk nya menghampiri penjual tersebut, kemudian memanggil anak-anak yang sedang bermain, dan membeli kan mereka semua ice cream satu persatu.


Tanpa sadar Nana tersenyum melihat Gilang, ternyata dia pria yang sangat baik. Fikir Nana.


Pria berwajah lembut itu mulai menarik perhatian nya, ia sangat senang dengan sikap lembut dan pemurah yang berada dalam diri Gilang.


Selesai membeli kan anak-anak ice cream, Gilang juga membawa ice cream untuk Nana.


"Ini untuk mu, aku tidak tau kau suka perisa apa, jadi aku campur saja perisa nya" Kata Gilang tersenyum memberi kan Nana ice cream.


"Ini beneran buat aku" Tanya Nana.


"Hm, kau tidak menyukai nya" Tanya Gilang.


"Tentu saja aku menyukainya" Kata Nana mengambil ice cream dari tangan Gilang.


Gilang kembali mendudukkan dirinya.


"Apa yang kau lakukan di sini" Tanya Nana pada Gilang.


"Aku hanya suka mengunjungi tempat-tempat seperti ini jika aku sedang tidak memiliki pekerjaan" Jawab Gilang.


"Benar kah? anak-anak itu terlihat mengenal mu" Tanya Nana.


"Hm, iya, mungkin karena mereka sudah sering melihat ku" Jawab Gilang tanpa memudar kan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


''Sepertinya kau sangat menyukai anak kecil.''


''Iya''


Akhirnya Nana dan Gilang menghabis waktu dengan berbicara di taman sambil sesekali tertawa. Sedikit mengurangi rasa sakit hati Nana karena kelakuan suaminya yang sangat tidak menganggap nya, dan tidak pernah menghubunginya selama satu bulan ini.


Tanpa Nana sadari, sepasang mata melihat nya bersama dengan Gilang.


Melihat waktu sudah sore, Nana pamit pulang pada Gilang.


,,,


Nana mendatangi apartemen suaminya, selama satu bulan ini, ia memang tinggal di rumah mami, papinya. Tapi hari ini ia kembali ke apartemen suaminya karena ingin mengambil sesuatu.


Tiba di lantai atas, Nana langsung masuk ke dalam apartemen menuju ke kamar, ia melihat suaminya yang sedang duduk di sofa sambil menatap nya.


"Assalamualaikum, kapan kak Alham datang" Tanya Nana pada Alham yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh arti.


Ada apa dengannya. Batin Nana menghampiri kasur kemudian duduk di sana.


"Kenapa, kau tidak suka aku datang" Jawab Alham tanpa menyahuti salam istrinya.


"Tidak juga, biasanya kak Alham ke jerman kan, pastinya lama di sana" Jawab Nana.


"Kau dari mana" Tanya Alham tanpa mengedip kan bola matanya menatap Nana.


"Aku dari taman" Jujur Nana.


"Sendiri" Kata Nana, karena bagi Nana dia memang sendiri ke taman, Gilang kan nanti bertemu di sana, itu juga kebetulan.


"Kau yakin"


Nana menyerjit ia bingung mendengar pertanyaan suaminya. Nana tidak berniat lagi untuk menjawab pertanyaan Alham. Hanya diam melihat layar ponselnya.


Melihat Nana hanya diam, Alham mendekatinya, dan kembali menjamah Nana untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini Nana dapat merasakan jika Alham sedikit kasar, seperti sedang memendam amarah.


Tapi Nana memilih diam tanpa berniat mengajak suaminya berdebat. Toh, tidak ada guna nya berdebat dengan suaminya yang memang tidak peduli padanya. Fikir Nana.


,,,


Diam duduk di ruang tengah. Nana tidak berniat untuk beranjak dari duduk nya, padahal tidak ada apa-apa di dapur untuk di makan.


Alham yang baru bangun dan sudah membersih kan tubuhnya melangkah keluar dari kamar menghampiri istrinya.


"Apa kau sudah masak" Tanya Alham.


"Tidak'' Singkat Nana tanpa melihat ke arah Alham.


Mendekati istrinya, menduduk kan dirinya dekat Nana, mengulur tangannya mengangkat dagu Nana. "Aku merasa jika kau semangkin kurang ajar Nana" Kata Alham penuh arti.

__ADS_1


"Bukannya seharus nya aku yang mengatakan itu" Datar Nana pada Alham.


"Kau sudah berani berwajah datar pada ku, apa karena kau sudah memiliki kekasih di luar sana" Kata Alham masih memegang dagu Nana, menatap dalam bola matanya.


Tak!


Nana menepis tangan suaminya. "Jangan sembarangan menuduh ku!" Kata Nana dengan Nada tinggi. Sebenar nya ia marah pada Alham karena menyetubuhi nya dengan kasar.


"Kau ingin mencari ribut"


"Kak Alham yang tidak dewasa," Marah Nana berdiri dari duduk nya meninggal kan Alham.


Alham mengepal kan tangannya melihat sikap Nana yang sering membantah nya dan meninggi kan nada bicara padanya.


Setelah itu Alham pergi lagi seperti biasa dalam keadaan marah.


Brakkk


Alham juga membanting pintu kamar dengan keras.


Nana menjatuhkan air matanya melihat suaminya yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan nya.


"Mi, pi" Lirih Nana menutup mulut nya, menenggelamkan wajahnya di bantal. Tanpa sadar Nana tertidur setelah puas menangis.


,,,


Di bar.


"Kau kenapa brow," Tanya Glen teman Alham yang punya bar tersebut.


"Aku tidak apa-apa" Jawab Alham.


"Kau ingin memesan wanita, aku akan menyiap kan untuk mu jika kau mau" Canda Glen menahan tawanya.


Alham melihat kesal pada Glen yang menawarkan nya wanita.


"Hahahahahahaha... Kau terlalu sensitif brow, kau tau, di ranjang itu bersama wanita hot, rasanya itu bisa menghilangkan semua masalah dalam kehidupan kita" Kata Glen ingin membuat Alham penasaran.


"Gila," Singkat Alham sama sekali tidak tertarik dengan wanita malam.


Mark juga menghampiri Alham, kemudian menyodorkan Alham alkohol. "Ini lebih asik untuk menghilangkan stres" Kata Mark.


Alham hanya diam tidak menanggapi mereka berdua. Masih memegang kaleng soda non alkohol di tangan nya sambil memijat pelipis nya.


"Kau seperti nya sedang ada masalah," Tanya Glen lagi.


"Tidak," Singkat Alham.


"Tumben kau kembali awal dari jerman, biasanya kau akan tinggal di sana hingga beberapa bulan baru kembali ke Indonesia lagi." Ujar Glen.

__ADS_1


Alham hanya mengangkat bahu acuh, ia benar-benar tidak bersemangat untuk berbicara apa pun saat ini.


__ADS_2