
"Iya... Aku tau, kau kan sudah kaya, jadi mana mungkin kekurangan uang sama sekali" jawab Alham menyindir Nana.
"Mas ngambek?" melototi suaminya.
"Dikit, sepertinya kau juga tidak membutuhkan suami di sisi mu lagi, toh kau sudah bisa mencari uang sendiri" membuat wajah sedih.
"Siapa bilang?"
"Tembok"
Terkikik mendengar jawapan Alham. Kembali memeluk suaminya "Aku sangat membutuhkan suami yang menyayangi dan mencintai ku, dan calon buah hati kita juga membutuhkan seorang ayah di sisinya" ujar Nana membuat hati Alham berbunga-bunga seperti berada di taman bunga yang sangat luas nan indah.
"Receh banget gombalannya Honey" membalas memeluk istrinya.
"Receh tapi suka kan..... Ayo ngaku" tunjuk Nana sambil meledek.
Terbahak karena apa yang Nana katakan memang benar.
"Kapan Mas Alham kembali ke jerman lagi? bukannya baru-baru ini Mas Alham gagal ke sana?" tanya Nana membaringkan dirinya bersiap untuk tidur.
__ADS_1
"Mungkin beberapa hari lagi Honey, kau mau ikut?" bertanya, ikut membaringkan tubuhnya.
"Emang bisa Mas?" antusias dengan bola mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja bisa sayang.... Apa sih yang tidak bisa untuk istri kecil ku ini, apa pun untuk mu, semua bisa" ujar Alham tanpa memudarkan senyumannya.
"Terima kasih Mas Alham, aku mau ikut..." Girang Nana.
"Baik lah, kalau begitu tiga hari lagi, kita akan berangkat ke sana''
"Hm" mengangguk senang.
"Ngomong-ngomong, apa mantan calon suami mu itu belum sadar dari komanya?" tanya Alham.
Alham hanya mengangguk dan memeluk istrinya bersiap untuk tidur.
Ya, Gilang tidak meninggal. Saat alat-alat medis yang melekat di tubuh Gilang akan di cabut, tiba-tiba saja alat monitor kembali berjalan dengan normal, ternyata Gilang masih hidup, tapi sayang ia di nyatakan koma, dan sampai saat ini Gilang belum sadarkan diri.
,,,
__ADS_1
Keesokan harinya Alham mengantar istrinya mencari sebuah rumah yang cocok untuk Gina tinggali. Bukan tanpa alasan Nana sanggup dan mau membelikan Gina rumah, itu karena Nana benar-benar menganggap Gina seperti saudaranya. Apa lagi mereka berdua sudah sangat lama berteman, dan Gina juga tidak memiliki siapa-siapa lagi selain darinya.
"Gimana kalo yang ini Mas" tanya Nana pada suaminya melihat sebuah rumah yang lumayan luas untuk Gina tinggali. Nana memilih perumahan kompleks agar Gina memiliki jiran-jiran dan tidak merasa kesepian.
"OK, tapi apa tidak sebaiknya kau belikan saja temanmu itu apartemen, ku rasa apartemen juga cocok untuk nya" saran Alham.
"Tidak deh Mas, soalnya kalo apartemen, kan sunyi banget tu, kalo kompleks kayak gini dia tidak terlalu sunyi juga karena ada jiran-jiran" jawab Nana.
Mengangkat bahu acuh. "Terserah kau Honey. Ini juga tidak terlalu buruk"
Menatap tajam "Dasar sombong!" ketus Nana karena rumah yang sudah sangat besar di hadapan mereka Alham masih mengatakan 'Tidak terlalu buruk'
"Hahahahaha kenapa ketus-ketus Honey" tanya Alham tertawa.
"Mas Alham sih ngeselin!"
"Kau saja yang terlalu sensitif sayang" mencubit gemes pipi sang istri.
"Kak Alham itu yang hidupnya terlalu mewah, rumah sebesar ini masih saja terlihat kecil" menatap tidak senang.
__ADS_1
"Kok kemana-mana sih sayang, aku tidak pernah mengatakan rumah ini kecil Honey.... Tadi tujuannya mau beli rumah, kok ini malah bertengkar ya" Alham gemes pada istrinya yang malah marah-marah tidak jelas menurutnya.
"Iya benar, tapi ucapan Mas Alham itu udah jelas banget" Jawab Nana tertambah kesal. Alham hanya menggeleng tersenyum melihat ibu hamil yang sangat sensian.