
Nana dan Gilang mengalih kan pandangannya ke arah langkah sepatu yang semangkin dekat menghampiri mereka berdua.
Melihat Alham yang mengantongi satu tangannya memakai setelan jas yang sangat rapi dengan rambut juga di tata rapi, ini pertama kali Nana melihat suaminya berpakaian formal.
Ternyata Alham baru saja dari kantornya, mendapat kabar jika istrinya wisuda, ia langsung terbang menggunakan jet pribadi ke indonesia, tapi tiba di sana, ia lagi-lagi di suguh kan dengan pemandangan yang membuat nya sakit hati.
Alham mengambil jam tangan di tangan istrinya, kemudian menaruh jam itu kembali di tangan Gilang. "Aku masih mampu membeli kan jam untuk istri ku" Kata Alham menatap Gilang.
Gilang tersenyum penuh arti pada Alham "Bagus lah kalau begitu, tapi jika di pikir-pikir, uang tidak bisa membuat wanita itu bahagia, wanita juga membutuh kan tempat untuk bersandar" Sindir Gilang tepat mengenai hati Alham, membuat Alham terpancing emosi.
"Apa maksud ucapan mu itu" Tanya Alham semangkin menatap Gilang dengan rahang mengeras.
Nana mulai merasa was-was melihat dua pria di hadapannya saling adu pandang, seolah tidak ada yang ingin mengalah.
"Siapa makan cili, dia yang terasa pedas," Ujar Gilang benar-benar menantang Alham.
"Bedebah!"
Buk!
Alham meninju wajah Gilang.
Buk!
Gilang kembali meninju wajah Alham.
Akhirnya Gilang dan Alham berkelahi. Nana menarik suaminya, tapi Alham kembali menarik dirinya dan kembali menyerang Gilang, Gilang juga menyerang Alham.
"Cukup!!!" Nana memasang dirinya di tengah-tengah Alham dan Gilang. Mereka berdua langsung berhenti berkelahi.
"Kalian berdua itu seperti anak kecil tau nggak!!!" Teriak Nana marah pada mereka berdua.
"Lagian kak Alham, ngapain datang-datang langsung cari ribut sih" Ketus Nana pada suaminya.
__ADS_1
Alham semangkin di selimuti amarah, karena merasa Nana seolah-olah membela Gilang.
"Pulang!" Bentak Alham menarik kasar istrinya untuk pulang ke apartemennya.
Gilang hanya diam memandang punggung Alham yang menarik kasar istrinya sambil mengelap darah dari sudut bibirnya.
,,,
Villa Aara.
"Mas," Panggil Aara berlari menghampiri suaminya.
"Ada apa, kau lari-lari sayang, nanti kau bisa jatuh" Kata Aggam saat melihat istrinya berlari.
"Mas Aggam, ada yang melihat Alham berkelahi di kampus istrinya Mas" Kata Aara dengan wajah cemas.
"Anak itu sudah pulang dari jerman, ku kira dia lupa jika punya istri di sini" Geram Aggam pada putranya.
"Iya mas, bagaimana jika kita ke kampus Nana saja mas." Aara sangat cemas memikir kan putranya.
Tiba di kampus, ternyata Alham sudah kembali ke apartemen bersama istri, Aggam kembali mengemudi ke apartemen putranya.
,,,
Apartemen Alham.
"Apa sih" Marah Nana menarik kasar tangannya, karena Alham menarik paksa ia untuk naik ke apartemen nya.
"Kata kan, ada hubungan apa kau dengan pria itu hah!!!" Alham benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya.
"Hubungan apa yang kau bicara kan, aku bahkan tidak memiliki hubungan apa pun pada pria itu, dia itu hanya teman, lagi pula kak Alham itu memang sama sekali tidak pernah memikir kan aku, terus apa peduli mu, aku juga bahkan mengira jika kak Alham sudah tidak ingat jalan pulang ke indonesia lagi!!" Teriak Nana tidak terima suaminya sering menduhnya sesuka hati yang membuat nya sering emosi, sambil melepas kan rasa amarah nya karena selama 7 bulan suami nya tidak pernah kembali.
"Jaga bicara mu Nana" Alham semangkin serselut emosi.
__ADS_1
"Kau itu manusia yang tidak punya hati!!" Nana benar-benar tidak bisa lagi untuk menahan diri.
"Kau!!" Alham mengangkat tangan nya ingin menampar Nana.
"Alham!!!!" Sentak Aggam pada putranya, ia baru tiba di apartemen Alham bersalam dengan istrinya.
Alham menarik tangan nya. "Apa yang coba kau lakukan barusan Alham, kau ingin memukul istri mu, setelah kau tidak pulangn dalam waktu yang cukup lama, sekarang kau pulang hanya untuk mencari gara-gara pada istri mu, apa ini yang mommy ajar kan pada mu selama ini Alham, mommy benar-benar kecewa sama kamu nak, selama kau bekerja di jerman kau sudah terlalu banyak berubah Ham, mommy tidak mengenal putra mommy lagi." Kata mommy Aara menjatuh kan air matanya, dia tidak menyangka, jika Alham sudah sangat-sangat berubah selama hidup bebas di jerman.
Alham terdiam sambil menunduk, ia tidak menjawab mommynya.
"Apa yang sudah terjadi dengan mu Alham!! kau bahkan membuat istri ku menangis" Kata Aggam bertambah marah pada Alham karena membuat mommy nya menangis.
"Apa kau sadar jika kau itu seorang suami hah!! apa pantas kau membiar kan istri mu selama 7 bulan di sini, apa hati mu itu benar-benar sudah mati, sampai kau sama sekali tidak peduli pada istri mu!!" Aggam memarahi putranya.
Nana hanya berdiri diam, begitu pun dengan Alham yang tidak mengeluarkan suaranya lagi saat melihat kemarahan daddy nya.
''Jika kau tidak menyukai istri mu, maka cerai kan saja dia, buat apa kau menahan nya jika hanya untuk menyiksa perasaan nya'' Tambah Aggam.
Alham mengangkat pandangan nya melihat daddy nya. ''Baik lah, aku akan menceraikan Nana'' Kata Alham mengalihkan kan pandangan nya pada Nana.
Nana juga melihat dan menatap bola mata suaminya.
''Nana Dinata'' Ucap Alham'
"Alham!! jangan gila kamu!!'' Teriak Aggam tapi Alham menuli kan telinga nya.
''Aku Alham Dalvan, hari ini juga aku mencerai kan kau dengan talak dua, dan mulai hari ini juga, kau bukan lagi istri ku'' Ucap Alham bersamaan air mata Nana tumpah di kedua pipinya.
Nana masih menatap bola mata suaminya yang juga menatap nya, cemburu buru buta dalam diri Alham sudah menguasai dirinya. Sehingga tidak bisa lagi berpikir jernih dan juga mengambil keputusan yang merugi kan dirinya sendiri, keputusan yang akan ia sesali dalam hidupnya.
"Tega kau sama mommy Alham, ayo kita pulang mas" Lirih Aara bersedih masih mengusap air matanya, menarik tangan suaminya keluar dari apartemen Alham. Aara benar-benar kecewa pada putranya, ia juga merasa menyesal mengirim putra nya untuk tinggal dan mengurus perusahaan di jerman, karena Alham berubah nanti setelah ia tinggal di jerman.
Nana memutus kontak mata pada suaminya, masuk ke dalam kamar kemudian mengemasi barang-barangnya, ia masih menjatuhkan air matanya. Tidak di nafi kan, jika Alham sudah mengambil tempat dalam hatinya, yang membuat Nana bertambah sesak, karena Alham malah mencerai kannya.
__ADS_1
Setelah mengemasi barang-barangnya, Nana melangkah melewati Alham yang masih mematung tanpa bergerak sedikit pun dari posisinya.
Nana langsung pulang ke rumah orang tuanya.