Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
,


__ADS_3

Menubruk dada bidang suaminya, memeluk dengan tangisan yang pecah. "Kak Alham jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin hidup sendiri lagi, jangan tinggalkan aku..." tangis Nana memeluk erat sang suami.


Membalas pelukan sang istri dengan lembut. ''Sssstttt ada apa dengan mu," tanya Alham lembut.


Tidak menjawab tapi masih terus menangis hingga beberapa minit berlalu. Setelah merasa lebih baik, Nana melonggarkan pelukannya kemudian memukul dada bidang suaminya.


"Kak Alham dari mana sih! bikin aku takut saja!" ketus Nana menghapus kasar air matanya.


"Kenapa? kau malu


ketahuan sedang mencemaskan ku?" tanya Alham sedikit nada meledek Nana.


"Siapa bilang," jawab Nana melihat kesana kemari menutupi malunya.


Tersenyum senang melihat sang istri yang tidak ingin mengakui perasaannya.


"Kak Alham dari mana sih, kok bisa ada di sini? bukannya kak Alham ada di pesawat ya? kan pesawatnya kecelakaan tu" tanya Nana bernada jutek.


Cup!

__ADS_1


Membolakan kedua matanya saat Alham iseng mencium bibirnya dengan secepat kilat. "Kebiasaan main sosor saja" kesal Nana mengusap bibirnya.


"Loh, kenapa di usap" tanya Alham menahan tawanya.


"Harus, nanti sudah di pake cium cewek lain, kan bekas" Jawab Nana.


"Kau sedang cemburu?" tanya Alham semangkin menahan tawanya.


Tak!


"Apaan sih! untuk apa aku cemburu coba, emang kenyataannya kan, situ kalo di jerman yang dampingi wanita kurang bahan, puas-puas dong tu mata lihat body wow" oceh Nana terdengar kesal pada suaminya. Ia teringat tempoh hari semasa ia ke jerman, ia melihat Jane sekretaris Alham yang sangat seksi dengan dada yang wow.


Merangkul sang istri dan membawanya duduk semula di kursi kemudian memegang tangannya. "Dia itu sekretaris ku, aku tidak tertarik pada tubuhnya, aku lebih suka pada yang tertutup dari pada yang terbuka, udah sejuk dan tidak hangat lagi jika di makan" canda Alham pada istrinya tanpa memudarkan senyuman di wajah tampannya karena terlalu bahagia akhirnya hati sang istri sudah melunak.


Alham hanya tersenyum menanggapi istrinya. "Tapi ngomong-ngomong, kok kak Alham bisa berada di sini? bukannya pesawatnya kecelakaan ya?" tambah Nana penasaran.


"Mau tau aja, apa mau tau banget.." jahil Alham.


Mendengus kesal "Apaan sih, iya mau tau banget lah, kak Alham udah kayak cenayang saja"

__ADS_1


"Kau semangkin suka marah-marah Honey, apa karena bayinya" menyentuh lembut perut sang istri.


Tak!


Menepis tangan suaminya "Lebay.... Cerita dong kak, apa sih yang terjadi"


"Baik lah, tapi cium dulu" menunjuk wajahnya dengan alis yang di naik turunkan.


Nana benar-benar kesal pada Alham karena menurutnya terlalu berbelit-belit. Mengangkat tangannya kemudian mengacak rambut suaminya sehingga berantakan.


"Nana, jangan dong, tampan aku bisa hilang karena mu" kesal Alham pada istrinya.


"Udah ah" ketus Nana berdiri dari duduknya ingin melangkah meninggalkan Alham yang tidak mau serius menjawab pertanyaannya.


Menarik tangan istrinya dan mendudukkan-nya di pahanya. "Apa sih kak, malu-maluin aja tauk, lihat orang - orang pada lihat ke sinikan." memberontak pelan tapi Alham malah memeluk pinggang kecilnya.


"Emang siapa yang mau peduli," santai Alham.


"Udah ah kak, ini bukan jerman, ini indonesia, jadi prilakunya di jaga dong!"

__ADS_1


"Biarkan saja, siapa suruh kau terus marah - marah"


"Baik lah aku tidak akan marah-marah lagi, ayo mulai ceritakan saja, ada apa sih sebenarnya, kenapa kak Alham bisa tidak mengikuti pesawat itu, kan kak Alham mau ke jerman" melepas tangan suaminya kemudian duduk semula di sebelah Alham.


__ADS_2