
Sudah lima bulan berlalu.
Nana sudah memulai karirnya sebagai seorang designer. Ia memilih membuka butik sendiri lima bulan yang lalu. Banyak yang kagum dengan busana dari butik Nana, karena memiliki penampilan-penampilan yang unik, meski Nana masih sangat baru dalam dunia designer, tapi butik, dan busana yang ia rancang sudah mulai terkenal bahkan sudah menarik perhatian dari orang-orang luar negeri.
Alham juga sudah kembali ke jerman setelah mereka resmi bercerai. Ia belum pernah menginjakkan kakinya di rumah daddy nya sama sekali, karena masih takut pada mommynya.
Drrrtttt Drrrttt Drrrtttt
Ponselnya berdering.
Gilang.
Nana tersenyum tipis saat menerima panggilan dari Gilang.
"Assalamulaikum" Jawab Nana.
Gilang mengembangkan senyumannya mendengar suara Nana. "Waalaikumsalam, kau di mana Nana" Tanya Gilang pada Nana.
"Aku di butik, mau di mana lagi" Jawab Nana. Meski selama beberapa bulan ini Nana sudah bisa bangkit dari lukanya, tapi Nana seperti kehilangan jiwa usilnya, ia juga tidak seceria dulu lagi.
Tapi kedua orang tuanya bersyukur karena Nana ingin bangkit semula dari rasa sakitnya.
"Bagaimana jika kita keluar makan siang" Ajak Gilang.
"Boleh, sekarang" Tanya Nana.
"Tahun depan, bagaimana?" Canda Gilang, karena Nana bertanya, padahal kan sekarang sudah waktunya makan siang. Pikir Gilang.
Nana terkikik mendengar candaan Gilang. "Baik lah, kita makan di tempat biasa saja bagaima?" Tanya Nana.
"Boleh"
"Sip, sebentar lagi aku tiba. Aku matiin ya"
"Ok, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nana mengambil tasnya dan bersiap-siap untuk ke lokasi tempat mereka sering makan bersama. Selama lima bulan ini Nana dan Gilang semangkin dekat. Tapi sayang, Gilang tidak bisa mengembalikan keceriaan Nana seperti saat ia bersama dengan Alham.
,,,
Jerman.
Tampak seorang pria sedang menatap serius layar komputernya. Selama penceraiannya dengan Nana, Alham sering menghabiskan waktunya di kantor, tidak jarang ia tertidur di kantornya karena kelelahan lembur. Ia berusaha menyibukkan dirinya dengan tumpukan kerja yang tidak ada habisnya di meja kerjanya.
__ADS_1
Karyawannya juga tidak ada yang berani mengganggunya, karena Alham suka marah jika hanya sedikit saja kesalahan yang di lakukan oleh karyawan. Hanya Jane yang tidak takut dengan kemarahan Alham.
Tok tok tok.
ketukan dari pintu ruangan Alham. "Masuk"
Jane melangkah masuk ke dalam ruangannya. Duduk di kursi dengan pakaian yang sangat minim dan hampir mengekspor seluruh dadanya. Berpakaian minim di jerman bukan lah hal yang tabu lagi.
"Ada apa" Tanya Alham tanpa mengangkat pandangannya ke arah Jane.
Jane menjalankan jari-jari tangannya ingin menyentuh tangan Alham. Tapi Aham menarik tangannya. "Jaga sopan santun mu" Terdengar sangat dingin.
"Aku ingin mengajak mu untuk keluar makan, apa kau tidak mau" Seperti biasa Jane akan bernada seperti m*nd*sah.
"Tidak" Singkat tepat dan padat. Alham menolak mentah-mentah ajakan Jane.
"Kau ingin aku membuatkan mu kopi" Tawar Jane menatap penuh arti pada Alham yang masih sibuk.
Alham tidak menjawab Jane, ia hanya diam serius dengan pekerjaannya.
Berdiri dari duduknya keluar dari ruangan Alham menuju dapur untuk membuatkan Alham kopi.
Jane mulai membuat kopi untuk Alham, kemudian menurunkan sesuatu ke dalam kopi tersebut. Setelah itu ia tersenyum penuh arti, membawa kopi untuk Alham.
"Ini aku membuatkan kopi untuk mu" Kata Jane menyimpan kopi di hadapan Alham.
Alham masih tetap diam sibuk dengan tab nya tanpa memperdulikan Jane. "Minum lah" Mendorong kopi lebih dekat lagi pada Alham.
Alham mengambil kopi tersebut bersiap untuk meminumnya. Jane tertawa jahat saat Alham ingin meminum kopi buatannya.
,,,
"Kau terlihat sangat lapar" Tanya Gilang melihat Nana yang makan seperti sedang kelaparan.
"Hm, aku memang sangat lapar" Jawab Nana tersenyum dengan mulut yang penuh.
Gilang tersenyum menggeleng mengambil tisu kemudian mengelap sudut bibir Nana yang sangat belepotan.
Nana tertegun oleh perlakuan Gilang. Otaknya tiba-tiba memutar kenangan masa lalunya bersama Alham.
"Apa kau tidak bisa lebih anggun lagi, jika kau makan dengan belepotan seperti ini, kau pasti akan jadi perawan tua, karena tidak ada yang suka pada wanita jorok seperti mu" Kata Alham mengelap sudut bibir Nana dengan lembut.
Nana mengembangkan senyumannya. "Kan ada kak Alham yang ingin nikah Ama aku" Jawab Nana memainkan alisnya seperti biasa.
"Mimpi"
__ADS_1
"Kak Alham, liat deh, cantik banget tu cewek" Panggil Nana menunjuk ke belakang Alham.
Alham melihat ke belakangnya, menyerjit karena tidak ada apa pun di sana. Kembali melihat pada Nana.
"A--------
Ucapan Alham terhenti karena Nana ternyata menyuapinya makanan memakai sendoknya yang ia gunakan, setelah itu Nana tertawa terbahak-bahak. Alham sangat kesal pada Nana, tapi ia tetap memakan makanan yang Nana suap ke dalam mulutnya dengan wajah kesal.
"Gitu tu, kalo kegatelan, baru aja dengar nama wanita cantik, udah kegatelan tu mata hahahaha" Nana kembali tertawa terbahak-bahak.
"Nana, Nana" Panggil Gilang pada Nana yang sudah mulai berkaca-kaca dengan mulut yang penuh.
"Nana" Panggil Gilang untuk yang tiga kalinya.
Lamunan Nana buyar. "I-iya... Ada apa, maaf" Kata Nana buru-buru mengusap air matanya yang sudah hampir terjatuh.
"Kau tidak apa-apa" Tanya Gilang pada Nana.
Nana menggeleng "Aku tidak apa, sepertinya aku sudah kenyang" Nana menghentikan memakan makanannya. Tiba-tiba saja ia merasa makanan itu hambar di lidahnya, padahal ia masih sangat lapar.
Sudah lima bulan berlalu, tapi aku masih terus terikat oleh masa lalu... Seandainya tidak ada kesalahpahaman di antara aku dan kak Alham, yang membuat kami terpaksa menikah, mungkin sampai saat ini aku masih bisa bercanda bersamanya, aku masih bisa melihat wajah kesalnya. Aku sangat merinduinya. Batin Nana tidak bisa menahan air matanya.
"Aku ke toilet dulu" Suara Nana terdengar sedikit bergetar. tanpa menunggu jawapan Gilang, Nana beranjak dan berjalan cepat ke toilet.
Menarik nafas, ternyata dia masih terus mengingat mantan suaminya. Batin Gilang.
Kapan kau akan sadar Nana, jika ada hati yang menunggu mu. Tambah Gilang masih membatin.
Setelah dari makan siang, Nana kembali ke butiknya. Tiba di butik, ternyata ada mommy Aara di sana sedang menunggunya.
"Assalamualaikum mom" Salam Nana mencium punggung tangan mommy Aara.
"Waalaikumsalam, Nana dari mana" Tanya Aara tersenyum di balik cadarnya.
"Nana dari makan siang mom" Jawab Nana.
"Sendirian?" Tanya Aara.
"Dengan teman mom" Nana masih tetap memanggil mommy Aara dengan panggilan mom, meski ia sudah berpisah dengan Alham.
"Teman? ehem, pacar iya.." Canda mommy Aara.
"Nggak mom, hanya teman kok. Ngomong-ngomong tumben mom datang ke sini" Tanya Nana.
"Mommy rindu dengan mu Nana, selama kau berpisah dengan anak nakal itu, kau tidak pernah lagi berkunjung ke villa mommy" Jawab mommy Aara terdengar sedih.
__ADS_1