Menikahi Jandaku (Penyesalan)

Menikahi Jandaku (Penyesalan)
Rencana.


__ADS_3

Nana sangat kaget dengan pernyataan Gilang, karena selama ini, ia tidak menyangka jika Gilang menaruh rasa padanya.


Gilang sadar akan kekagetan di wajah Nana, ia juga tidak ingin memaksanya, ia berani melamar Nana karena ia memang mencintai Nana dengan tulus.


Nana masih diam menatap cincin di hadapannya. "Kenapa kau melakukan ini" Tanya Nana.


Tersenyum hangat. "Karena aku menyukai mu dari awal kita bertemu, tapi saat tau kau sudah memiliki calon suami aku mengubur rasa ku untuk mu, tapi bukan kah sekarang kalian sudah berpisah. Aku bahkan sudah menunggu mu selama dua tahun ini Nana" Kata Gilang jujur mengungkapkan isi hatinya.


Terdiam, Nana masih sangat bingung ingin memulai kehidupan berumah tangga lagi, karena ia masih trauma akan kegagalan rumah tangganya dua tahun lalu.


Melihat Nana hanya diam. Gilang menarik nafas kecewa, tapi ia sadar jika Nana masih belum bisa membuang masa lalu nya bersama mantan suaminya.


"Kau bisa memikirkannya dulu jika kau belum bersedia. Aku akan selalu menunggu mu Nana" Ucap Gilang.


"Aku mau" Jawab Nana tersenyum pada Gilang. Gilang sangat kaget mendengar ucapan Nana yang tiba-tiba, ia tidak pernah menyangka jika Nana akan menerimanya.


"Kau serius" Tanya Gilang menatap kedua bola mata indah milik Nana.


Nana mengangguk tersenyum lebar. "Hm, tentu saja" Jawab Nana.


Gilang mengembang kan senyuman bahagia di wajahnya saat Nana mau menerima lamarannya. "Kalau kau benar-benar menerima ku, apa aku bisa mengajak kedua orang tua ku untuk melamar mu?" Tanya Gilang.


"Tentu saja," Jawab Nana tersenyum.


"Baik lah, malam nanti aku akan membawa kedua orang tua ku untuk melamar mu''


"Aku akan menunggu mu, kalau begitu aku pamit dulu" Kata Nana di angguki oleh Gilang.


Setelah itu Nana melangkah masuk ke dalam mension papinya membawa kopernya. Nana tidak melihat kedua orang tuanya yang biasa bersantai di ruang tengah, ia bertanya pada pelayan. Pelayan berkata jika kedua orang tuanya sedang bepergian.


Melangkah naik ke atas kamar menyimpan koper miliknya. Mendekati meja rias, menarik laci kemudian mengambil sebuah foto yang berada di dalam.


Nana menatap foto tersebut dengan perasaan campur aduk. Ternyata itu adalah foto Nana bersama dengan Alham. Foto Alham memeluk bahu Nana tersenyum lebar dengan satu tangan Nana menolak wajah Alham. Nana terlihat masih sangat muda dalam foto itu, karena ia masih berusia 13 tahun dan Alham sudah berusia 23 tahun.


"Mungkin sudah saatnya aku mengubur semua kenangan ku bersama kak Alham, aku tidak bisa terus berterusan hidup dalam perasaan yang membuat aku semangkin terluka seperti ini'' Gumam Nana menjatuhkan air matanya, ''meski aku sudah berjanji tidak ingin menangis lagi untuk nya, tapi tetap saja aku tidak pernah bisa, dan tidak kuat menahan air mata ini" Nana kembali menangis.

__ADS_1


,,,


Tiga bulan sudah berlalu.


Nana dan Gilang sudah menentukan pernikahan mereka berdua tiga bulan lalu. Tepatnya dua minggu lagi dari sekarang, Nana sengaja meminta waktu menunda pernikahan mereka sampai tiga bulan agar Nana bisa belajar membuka hatinya untuk Gilang.


Dan benar saja, perlahan ia sudah bisa menerima Gilang dalam hatinya, tapi tidak bisa di nafikan, perasaannya masih terlalu besar untuk Alham.


,,,


Tampak pria tampan menuruni pesawat dengan langkah lebar. Akhirnya setelah dua tahun lebih, Alham pulang ke tanah airnya. Ia langsung pulang ke mension daddy-nya karena sudah sangat merindui mommy-nya.


"Assalamualaikum" Salam Alham saat tiba di dalam mension daddy-nya.


"Waalaikumsalam" Jawab Aara dengan bola mata yang berkaca-kaca. Ia sangat merindui putranya, meski dua tahun lalu Alham pergi dan ia masih dalam keadaan kecewa berat pada putranya, tapi ia juga sangat merindui anak bungsu nya yang keras kepala sama seperti daddynya.


Daddy Aggam menatap tajam putranya. Mommy Aara langsung memeluk Alham. "Mommy sangat merindui mu. Kenapa kau baru kembali ke sini sayang.... " Kata Aara dengan air mata yang membasahi dada bidang putranya.


"Maafkan Alham my" Hanya tiga kalimat yang mampu Alham keluarkan dari mulutnya. Ia juga menyesal telah meninggalkan mommy-nya dalam kurun waktu yang sangat lama.


Alham mengangguk "Alham janji tidak akan pergi lagi selama ini my"


"Kau sudah makan sayang" Tanya Aara melonggarkan pelukan-nya pada putra-nya.


Alham menggeleng "Ya sudah, mari kita makan bareng" Ajak Aara tersenyum di balik cadar-nya.


Mengangguk Kemudian menghampiri daddy-nya dan menyalami daddy-nya yang masih menatap nya tajam.


"Kau masih ingat pulang" Dingin Aggam pada putranya.


"Mas" Tegur Aara menatap suaminya.


Daddy Aggam hanya bisa menarik nafas saat mendapat teguran dari sang istri tercinta.


Mereka melangkah ke meja makan.

__ADS_1


Saat makan beberapa suap. Tiba-tiba Aara bersuara "Mas, selepas makan aku pamit ke rumah Ayuna ya mas"


"Mau buat apa di sana sayang" Tanya daddy Aggam.


"Tadi Ayuna telpon, kata-nya dia mengajak ku untuk memilih beberapa baju nikah yang cocok untuk putrinya, karena Nana juga bingung ingin memakai baju nikah warna apa" Jawab Aara tanpa sadar jika ada putranya di meja makan.


Alham menghentikan suapannya melihat pada mommy-nya saat mendengar mantan istrinya akan menikah. Aara baru tersadar dengan apa yang ia ucap kan barusan saat melihat tatapan putranya.


Alham berdiri dari duduk-nya. "Aku sudah selesai mom, dad" Kata Alham.


"Tapi kau baru makan sedikit sayang"


Alham tersenyum tipis pada mommy-nya. "Aku sudah kenyang mom" Jawab Alham lagi.


"Baik lah, pergi lah istirahat"


"Ya mom" Jawab Alham beredar dari meja makan.


"Sepertinya aku salah bicara ya mas" Tanya Aara pada suaminya.


"Biarkan saja dia, biar dia rasa seperti apa sebuah penyesalan karena mengambil keputusan tanpa berfikir" Santai daddy Aggam menjawab istrinya. Aggam sebenarnya tau jika Alham sangat mencintai Nana, karena sikap mereka berdua memang sangat mirip.


"Mas kok gitu, Alham kan seperti itu juga karena mengikuti sikap keras kepala mas dulu" Kesal Aara pada suaminya yang tidak sadar jika Alham ada lah titisan nya.


"Ya, ya, iya... Mas yang salah" Kata daddy Aggam mengalah. Ia juga sadar jika sikap Alham itu sama seperti dirinya saat masih muda dulu.


,,,


"Kenapa barusan telat mas Gilang" Tanya Nana naik ke mobil Gilang calon suaminya.


Tersenyum hangat seperti biasanya. "Mas ada sedikit pekerjaan tadi. Maaf"


"Tidak masalah, kita langsung pulang ke rumah saja ya mas, soalnya aku juga capek banget"


"Siap tuan putri"

__ADS_1


Nana tertawa melihat sikap Gilang. Gilang memang sangat menyayanginya. Dan Nana sudah merasa nyaman dengan sikap lembut dan baik dari Gilang, iya walaupun sebenarnya belum bisa menggantikan tempat Alham di hatinya.


__ADS_2