
Makan siang Nana kembali ke rumah suaminya.
"Assalamualaikum bik, suami ku ada bik" tanya Nana pada bibi Sumi sambil tersenyum.
"Waalaikumussalam, ada di kamar nona" membalas senyuman istri tuannya.
"Makasih bik"
Nana melangkah naik ke lantai atas menuju kamar suaminya.
Tok tok tok
Tidak ada yang menyahutinya. Perlahan membuka pintu, ternyata Alham tidak berada di kamarnya.
"Kemana dia" gumam Nana.
"Kau mencari ku?" tanya Alham dari punggung Nana.
"Astaghfirullah" ucap Nana mengusap-usap dadanya karena kaget.
"Anda sudah makan?" tambah Nana.
"Belum" menatap istrinya tanpa berkedip.
"Anda ingin aku masak sesuatu?" tanya Nana lagi merasa tidak enak karena Alham menatap-nya.
"Bisa juga jika kau tidak keberatan"
"Baik lah"
Nana bergegas turun ke dapur, ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan tatapan Alham.
Mulai membuat makan siang untuk dia dan juga suaminya.
Beberapa minit berlalu Nana sudah siap masak dan menyajikannya di meja makan. Setelah itu ia memanggil suaminya untuk makan bersama.
"Kau dari butik?" tanya Alham mencoba untuk berbicara santai pada istrinya sambil menyuapi makanan ke mulutnya.
"Hm iya," singkat Nana.
"Kapan kau akan pindah ke sini"
Terdiam sebentar sambil berpikir. "Hmmm... Apa kau bisa mengajak teman ku untuk tinggal di sini?" tanya Nana melihat ke arah suaminya.
Menyerjit mengangkat pandangannya melihat Nana. Nana buru-buru kembali menunduk menghindari bertemu pandang dengan Alham.
"Pria?"
"Masa pria, ya wanita lah" terdengar suara tidak suka dari nada Nana karena Alham bertanya seperti itu.
Alham terdiam sebentar, sebenarnya ia tidak suka ada wanita lain tinggal di kediamannya, apa lagi ia jenis pria yang sangat cuek pada makhluk yang bernama 'Wanita' tapi mengingat lagi jika ia baru saja ingin memulai hubungan-nya dengan Nana, ia tidak ingin jika sampai menyinggung perasaan istrinya.
"Baik lah, kau bisa mengajak-nya tinggal di sini, tapi ada dua syarat yang harus kau patuhi, bagaimana?.'' Ujar Alham tersenyum penuh arti pada istrinya.
"Apa?" tanya Nana penuh selidik.
"Makan saja dulu, nanti kita bicarakan selesai makan siang,''
__ADS_1
Berpikir sebentar. "Baik lah"
Alham mengembangkan senyumannya karena Nana mau menerima persyaratan darinya.
Selesai makan siang Nana duduk menunggu suaminya di ruangan tengah karena Alham naik ke lantai atas.
Terlihat Alham menghampirnya dan duduk di dekatnya.
Nana hanya diam tidak mempermasalahkan jika Alham duduk di dekatnya.
Menyodorkan istrinya sebuah black card miliknya. ''Persyaratan pertama kau harus mengambil dan menggunakan kartu ini, dan persyaratan kedua, kau harus mau tidur sekamar denganku, bagaimana?'' tanya Alham tersenyum pada istrinya.
Berpikir sebentar ''Baik lah'' mengambil kartu suaminya dan langsung melangkah keluar dari mension Alham.
Alham tersenyum bahagia melihat punggung istrinya.
,,,
Sore hari Nana bersiap-siap untuk pulang ke rumah suaminya. Ia juga sudah mengambil beberapa pakaiannya dari rumah papinya dan sudah ijin.
Akhirnya Nana dan juga Gina tiba di mension Alham. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam.
Kebetulan Alham juga baru dari dapur. Ia melihat Nana bersama dengan seorang wanita.
"Kau sudah datang?" tanya Alham mendekati istrinya.
Nana bersama Gina sama-sama mengalihkan pandangannya pada sumber suara.
Gina tertegun saat melihat Alham dengan jarak dekat, karena selama ini ia sering melihat Alham hanya dari jarak jauh.
Alham hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Gina.
''Hai, Gina'' Gina menyodorkan tangan-nya pada Alham. Tapi Alham tidak menyambut tangannya.
''Alham,'' singkat Alham. Gina kembali menarik tangannya.
"Teman ku mau tidur di kamar mana'' Tanya Nana.
Tersenyum lembut pada istrinya "Pilih saja di mana yang kau rasa cocok untuknya"
"Baik lah, terima kasih"
Alham mengangguk dan melangkah naik ke ruang kerjanya.
Gina masih terus melihat punggung Alham yang sangat sempurna dan membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Ayo" Nana membawa temannya ke salah satu kamar tamu yang akan Gina tempati selama tinggal di sana.
''Nan, apa suami mu tidak marah kau mengajak ku untuk tinggal di sini, suami mu terlihat tidak menyukai keberadaan ku di sini'' tanya Gina, saat ini mereka berada di dalam kamar.
''Dia memang seperti itu jika dengan lawan jenis,'' jawab Nana.
''Owh, benar kah''
''Hm, kau tidak perlu terlalu ambil hati''
Gina mengangguk menanggapi Nana.
__ADS_1
Setelah itu Nana juga masuk ke dalam kamar suaminya dan menyusun beberapa pakaian-nya yang ia bawa dari mension papinya.
Selepas menyusun pakaiannya Nana naik ke ranjang suaminya dan langsung tertidur. Padahal ia hanya berniat untuk berbaring sebentar tapi ia malah tertidur.
Di kamar Gina melihat-lihat kamar mewah dan sangat luas yang ia tempati.
''Tenyata suami Nana tampan dan sangat menggiurkan banget,'' gumam Gina tersenyum sendiri membayangkan suami sahabat-nya.
Ia tidak tau jika pria berwajah malaikat itu memiliki mulut yang pedas nya cabe rawit banget jika pada lawan jenisnya.
Gina keluar dari kamar dan tidak sengaja berpapasan dengan Alham yang baru saja dari ruang kerjanya berniat ke kamarnya.
Alham hanya melewatinya tanpa melihat ke arah Gina berwajah cuek seperti biasa saat ia bertemu lawan jenisnya.
Sombong sekali, ternyata pria itu sangat sombong. Batin Gina.
Cklekkk
Masuk ke dalam kamar. Ia melihat Nana yang tidur sangat pulas. Tersenyum mendekati istrinya menyentuh wajah Nana dengan lembut.
''Kenapa kau tidur di sore hari'' gumam Alham mengecup lembut dahi sang istri tercinta.
Setelah itu iya masuk ke dalam kamar mandi.
,,,
Malam hari di meja makan.
Mereka bertiga sedang makan malam bersama. Gina sering curi-curi pandang pada wajah tampan Alham. Ia seperti tidak bisa tidak melihat ke wajah tampan suami sahabat nya itu yang sangat menggoda.
Alham sadar dengan tingkah Gina tapi ia memilih untuk mengabaikannya, karena Gina adalah sahabat istrinya, ia takut jika nanti akan membuat Nana semangkin menjauhinya jika ia menyinggung sahabatnya.
Selesai makan malam Alham langsung menuju ruang kerjanya.
,,,
Sudah satu minggu Nana tinggal di mension suaminya. Tidak ada yang berubah masih sama seperti sebelumnya, hanya saja Nana mengurus semua kebutuhan suaminya seperti istri pada umumnya. Tapi dia masih tetap dingin pada Alham.
Gina juga semangkin hari, semangkin bertingkah aneh karena sering memakai pakaian yang memperlihatkan tubuh mulusnya di hadapan Alham.
Tapi tetap saja, Alham bukan pria yang mudah tergoda dengan lawan jenisnya. Mengingat dulu Jane lebih parah lagi karena hampir saja ia telanjang di depan Alham. Tapi respon Alham tetap biasa-biasa saja.
Nana bersiap-siap untuk tidur, Alham masih berada di ruang kerjanya.
Saat ia sudah hampir terlelap tiba-tiba sebuah tangan kokoh memeluknya dari belakang. Nana sangat kaget karena selama satu minggu ia tinggal di mension ini pertama kali Alham berani memeluknya.
''Ada apa'' tanya Nana ingin mendorong tangan Alham yang melingkar di perut langsingnya.
Tidak menjawab Nana. Tapi ia membalikkan tubuh istrinya dan m****m b***r Nana.
Nana ingin menolak tapi tubuhnya seperti meminta lebih, mereka berdua sama-sama manusia dewasa yang pernah melakukan penyatuan, tentu saja tidak heran jika tubuh mereka meminta lebih.
Melepas c*********n nya. "Apa bisa? aku sudah lama menahan ini" bisik Alham dengan suara berat.
Deg! deg! deg!
Ini pertama kali seorang Alham meminta haknya dengan baik-baik biasanya dia hanya akan memaksa Nana dan mengancamnya.
__ADS_1