
"Anak kita?" Sinis Nana. "Ini anakku, bukan anak mu, apa kau lupa? jika kau sangat beruntung karena aku tidak pernah mengandung benih mu?!!" Marah Nana menatap kedua bola mata teduh suaminya.
Deg!
Kata-kata Nana seperti sebuah anak panah yang menancap tepat di jantungnya. Terdiam, teringat semula kata-katanya yang terakhir ia lontarkan pada sang istri di taman.
"Kenapa kau diam? Kau tau sudah berapa banyak luka yang kau berikan pada ku? kau tau sudah berapa kali kau menggores perasaan ku? aku bahkan lupa menghitungnya karena begitu banyak luka dari mu!! kau adalah pria yang sangat aku benci!! aku ingin sekali membunuh mu!!" teriak Nana memukul-mukul dada bidang suaminya.
__ADS_1
Alham memeluk istrinya yang menangis sambil memukulnya. "Maafkan aku, ku mohon maafkan aku," kata Alham memeluk istrinya yang memberontak.
Mendorong keras tubuh suaminya yang memeluknya. "Aku tidak akan bisa memaafkan mu, tidak akan, kau itu pembunuh, kau bahkan sudah membunuh janin pertama yang aku kandung kan. Kau pikir semudah itu aku bisa memaafkan mu dan melupakan semua yang pernah kau lakukan pada?, tidak semudah membalikkan telapak tangan tuan muda Alham yang terhormat!."
"Apa kau tau, dulu aku selalu berharap, dan sangat mengharapkan, kau mau peduli pada ku walau hanya sedikit saja, tapi apa yang aku dapatkan dari mu? apa kau pernah peduli padaku? memberiku sedikit saja perhatian mu? apa kau pernah tau betapa aku sangat takut tidur seorang diri di apartemen mu? apa kau tau setiap saat, setiap minit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, aku sering menunggu mu kembali dari jerman hanya untuk bisa melihat mu karena aku sangat merindui mu!! tapi apa yang aku dapat saat kau kembali?"
"Tapi ternyata tidak sampai di situ, setelah dua tahun kau malah kembali menghancur semua usahaku, dan kembali membuka luka lama yang sangat mendalam, coba saja kau yang berada di posisi ku? apa kau yakin jika kau bisa memaafkan aku? apa kau yakin akan semudah itu kau akan melupakan segalanya? tidak wahai tuan muda yang terhormat, tidak semudah itu. Jadi pergi lah! aku tidak ingin melihat mu!!" Teriak Nana mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama dua tahun sambil menangis.
__ADS_1
Tes Tes Tes
Titik demi titik air mata jatuh dan mulai membasahi wajah tampannya saat mendengar semua penderitaan dan kesakitan yang pernah ia berikan pada istrinya. Sebuah penyesalan mendalam menyerbu dan menghantam saat membayangkan semua yang di lalu sang istri selama hidup dengannya.
''Maafkan aku.....'' terdengar suara lirih penuh penyesalan ''Maafkan aku yang tidak sadar telah melukai mu, dan membuat mu menderita, aku tau kata maaf tidak akan bisa mengobati luka mu, tapi ku mohon, maafkan aku...''
''Aku mau pulang, jangan paksa aku,'' Nana tidak bersedia untuk memaafkan suaminya.
__ADS_1
Sadar jika kesalahan dan dosa-dosa yang pernah ia perbuat tidak akan mudah untuk istrinya.