
2
"Baik lah aku tidak akan marah-marah lagi, ayo mulai ceritakan saja, ada apa sih sebenarnya, kenapa kak Alham bisa tidak mengikuti pesawat itu, kan kak Alham mau ke jerman" melepas tangan suaminya kemudian duduk semula di sebelah Alham.
Alham mulai menceritakan tentang yang ia alami sampai ia tertinggal pesawat. Di mana ia sudah masuk ke dalam pesawat, saat akan duduk di kursinya, ia melihat seorang anak kecil menangis mencari keberadaan ibunya.
Ia menghampiri anak kecil tersebut yang terlihat masih berusia lima tahun, ia menggendong anak laki-laki itu dan membawanya mencari ibunya, setelah beberapa minit mencari masih saja tidak menemukan keberadaan ibu dari anak tersebut, melihat pesawat sudah hampir lepas landas, Alham memutuskan untuk turun saja dari pesawat karena ia kasihan pasa anak yang ia gendong jika harus mengikuti pesawat tanpa adanya kedua orang tuanya.
Setelah pesawat pergi, Alham masih terus mencari keberadaan anak laki-laki itu. Satu jam berlalu akhirnya ia menemukan ibu anak tersebut yang juga sedang mencari keberadaan putranya.
Ibu anak itu mengatakan jika ia menyuruh anaknya menunggunya di pesawat sebentar, tapi saat naik semula anak itu sudah tidak berada di kursi. Ibu anak itu juga turun semula mencari anaknya.
Akhirnya mereka bertiga selamat dari kecelakaan pesawat karena tertinggal.
"Seperti itu ceritanya Honey" kata Alham tersenyum pada istrinya.
"Syukur lah, kak Alham selamat" ujar Nana tersenyum manis pada suaminya.
"Tersenyum seperti ini, kau jauh lebih manis dari pada kau marah-marah terus" menarik sayang hidung sang istri.
Cemberut. "Bagaimana nggak marah-marah coba, kak Alham nya ngeselin banget"
"Tu kan, nanti calon bayinya jelek kayak kamu jika kamu siring cemberut" canda Alham lagi.
Menatap tajam. "Jadi siapa yang kak Alham lihat cantik? sekretaris kurang bahan kak Alham itu!"
__ADS_1
Memegang dagunya seperti berpikir, "Kayaknya mungkin iya" Alham semangkin senang membuat istrinya marah.
Berdiri "Ya sudah, pergi saja sana! nggak usah pulang lagi ke sini'' melangkah meninggalkan suaminya dengan perasaan kesal.
Mengembang senyuman kemudian mengejar Nana yang melangkah laju, langsung merangkul istrinya.
"I love u" kata Alham.
"Basi"
"Aku mencintai mu Honey"
"Basi"
"Basi"
"Aku selalu ada untuk mu mulai saat ini Honey"
"Basi, basi, basi!"
"Hahahaha, kau sangat cantik Honey"
"Basi bangettttt"
Mencubit gemas pipi sang istri mengeluarkan camera digitalnya yang sering ia bawa. Memegang kepala sang istri dan merapatkan pada wajahnya.
__ADS_1
Cklek
Alham memfoto mereka berdua sambil terus berjalan. "Aaa kebiasaan deh kak Alham, suka banget foto-fotoan"
"Bagus dong Honey, itu bisa jadi kenangan sampai kita tua, aku bahkan masih memiliki foto bayimu, bahkan saat kau mandi polos saat usia tiga tahun aku masih memiliki fotonya" jujur Alham tersenyum manis.
Membolakan kedua bola matanya "Apa! mandi dalam keadaan polos! jangan becanda!"
"Tentu saja aku tidak becanda Honey" mengedipkan satu matanya pada istrinya.
"Aaaaa kak Alham bohong" Nana mencubit suaminya.
"Kau tidak percaya?"
"Tentu saja, kak Alham kan suka bohong!''
"Aku tidak pernah bohong jika itu tentang perasaan ku sayang"
"Lebay...."
"Hahahahahahahaha" Alham sangat suka melihat wajah kesal istrinya.
Mereka berdua terus bercanda hingga naik ke atas mobil Nana. Lina menggeleng melihat suami istri seperti anak kecil.
"Mungkin saja nona terlupa jika ia kesini bersama ku, miris sekali hidupku" gumam Lina menggeleng dan memesan taksi kembali ke butik Nana untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1