
Mengalihkan pandangannya ke sumber suara "Anda berbicara pada saya nona?" tanya Nando dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tidak!! aku berbicara pada pohon di belakang mu!!" ketus Kayla. Ternyata ia adalah Kayla.
Menoleh ke belakang dan tidak melihat pohon di sana "Tidak ada pohon di sini Nona, apa anda tidak mabuk?" tanya asisten Nando lagi sedikit bingung. Ia tidak sadar jika gadis di depannya sedang marah.
Kayla bertambah geram karena pria di hadapannya tadi menginjak kakinya, sekarang malah mengatainya mabuk.
Tap Tap Tap
Melangkah laju mendekati asisten Nando dan.........
Tak!
Kayla memukul lengan Nando dengan keras. Nando menatap tajam pada Kayla yang memukul lengannya.
"Ada apa dengan mu, apa kau sudah tidak waras!" Sentak Nando.
Kayla ingin sekali memukul wajah tampan pria di hadapannya. "Eh, tadi kau melewati ku kemudian menginjak kaki ku dan pergi begitu saja, setelah itu kau menuduh ku sedang mabuk, sekarang kau mengatai ku tidak waras!! kau itu yang tidak waras, jalan nya tidak pake mata!" geram Kayla menatap horor pada asisten Nando.
__ADS_1
"Aku tidak tau jika aku menginjak kaki mu, tapi soal jalan, tentu saja jalan pakai kaki, bukan pakai mata, karena mata itu hanya di gunakan untuk melihat, bukan berjalan nona" jawab Nando tanpa rasa bersalah pada Kayla.
Mengangkat tangannya mengepalkan di hadapan Nando sambil meremas tangannya, ia sangat emosi mendengar jawapan pria bule yang berada di hadapannya itu.
"Aku ingin *******-***** wajah mu yang menjengkelkan itu!!" ketus Kayla membalikkan tubuhnya dan pergi meninggal kan asisten Nando.
"Wanita gila" gumam Nando tapi masih bisa di tangkap oleh pendengaran Kayla.
Kayla semangkin mengepalkan tangannya. Awas saja kau jika aku bertemu lagi dengan mu untuk yang kedua kalinya, aku pasti akan menghajar mu. Batin Kayla naik ke atas motornya pergi dari parkiran.
,,,
Nana baru saja membersihkan tubuhnya dan hanya memakai handuk melangkah masuk ke dalam ruang ganti berniat memakai pakaiannya. Tiba-tba ia kembali pusing dan bersandar di lemari kain.
"Kau tidak apa-apa Nana" tanya Alham memegang istrinya, ia juga ingin ke ruang ganti, tapi ia malah melihat sang istri yang seperti tidak sehat.
Mengangkat pandangannya melihat Alham kemudian menggeleng. "Aku akan mengambilkan mu pakaian, selepas itu kita ke rumah sakit" melangkah mencari kan istrinya pakaian dan menyuruh istrinya memakai pakaiannya setelah ia mengambilnya.
Nana menurut saja tanpa mengeluarkan kata-kata mau pun membantah suaminya.
__ADS_1
Alham mengantar Nana ke rumah sakit. Tiba di sana Nana langsung di periksa oleh dokter. Selesai Nana di periksa, dokter tersenyum dan memberitahukan pada mereka berdua jika Nana sedang hamil
Dan juga menjelaskan jika hal biasa bagi seorang yang hamil muda mengalami pusing mual di pagi hari.
Membeku, Alham tidak menyangka jika istrinya ternyata sedang hamil muda.
Selesai menemui dokter, mereka berdua kembali ke mension. Di mobil Nana hanya diam melihat keluar jendela mobil.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Alham membuka pembicaraan karena Nana tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun semenjak tadi.
Menggeleng. "Tidak," singkat jelas padat.
Menarik nafas menghadapi sikap Nana yang semangkin dingin padanya. "Nana, sampai kapan kau akan seperti ini" tanya Alham pada Nana kemudian memarkir mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti" Nana tidak menjawab Alham, tapi ia malah bertanya lagi tanpa melihat Alham.
"Ayolah Nana, mari kita mulai semua hubungan ini dari awal lagi, ku mohon, berhentilah bersikap seperti ini, apa lagi kau sedang hamil anak kita" lembut Alham dengan nada sedikit putus asa karena Nana sama sekali tidak ingin memaafkannya.
"Anak kita?" Sinis Nana. "Ini anakku, bukan anak mu, apa kau lupa? jika kau sangat beruntung karena aku tidak pernah mengandung benih mu?!!"
__ADS_1