Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#10 Salahkah Menyukainya?


__ADS_3

Om dan keponakan itupun langsung saja menuju kerumah sakit menggunakan roda dua kesayangan sang Om.


Tanpa kemacetan dan hambatan yang lainnya mereka pun sampai di Rumah Sakit dan menuju kearah ruangan pak Hamid Ayah Kania.


Saat mereka berdua melewati ruangan dr Keenan, Kania tidak ingin melihat kearah ruangan tersebut, dimana didalam ruangan itu ada dr Keenan yang sedang duduk dimeja kerjanya


Kania melangkah dengan cepat, namun dr Keenan terlanjur melihat Kania yang melintas di depan ruangannya itu, dia langsung berdiri dan melangkah menuju kearah pintu tersebut, dia memandangi Kania dan Yoga sedang melangkah menuju kearah ruangan pak Hamid.


" Siapa lelaki itu? Kenapa terlihat sekali sangat akrab dengan Kania? tidak ada jarak di antara mereka berdua, kenapa dihati ini ada rasa yang tidak mengenakan setiap Kania berdampingan dengan lelaki yang baru aku lihat." Gumamnya, kemudian dia melangkah gontai menuju kearah sofa dan dia pun menghentakkan tubuhnya di sofa sembari menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit ruangannya itu.


Kemudian dr Melati memasuki ruangan dr Keenan.


" Ken..." Panggilnya sembari melangkah mendekati dr Kenan.


Dr Keenan tidak menghiraukan sama sekali suara dr Melati.


" Keenan!" Panggilnya yang membuat dr Keenan menoleh kearah dr Melati.


" Ya Mel...ada apa? Dr Fattah membuat kesalahan lagi dengan mu?" Ucap dr Keenan seraya membenarkan duduknya dan menatap kearah dr Melati.


Saat itu dr Melati dan dr Fattah berbeda pendapat saat rapat antar dokter yang diadakan di Rumah Sakit itu, saat rapat berlangsung dr Keenan tidak mengikutinya karena itu bukan program yang dia pegang, melainkan program dr Melati bersama dr yang lain termasuk dr Fattah rekan kerja dr Melati.


Saat argumen itupun berbeda, sedikit ada pertengkaran diantara mereka berdua, dr Melati mengadu pada dr Keenan sambil menangis disitulah Kania melihat dr Keenan sedang menyentuh pundak dr Melati terlihat jelas dimata Kania dr Keenan dengan cara menyabarkan dr Melati yang membuat Kania merasa ada yang mencubit hatinya dengan rasa yang perih sekali yang belum bisa dipahami Kania tentang perasaannya itu.


" Tidak, dia sudah minta maaf dengan ku, katanya itu adalah kesalahannya."


" Syukurlah..." Ucapnya sembari tersenyum.


" Keenan..."


Dr Keenan menatap kearah kearah dr Melati.


" Hmmm..."

__ADS_1


" Kenapa kamu selalu menghindar akhir-akhir ini?"


Dr Keenan hanya terdiam dan langsung mengalihkan pandangannya.


" Salah apa aku dengan mu?"


" Kamu tidak ada salah dengan ku..."


" Terus kenapa kamu menghindariku?"


" Maafkan aku Melati, karena aku sibuk banget."


Terdengar suara ponsel dr Melati berdering, dia langsung mengambil ponsel tersebut, dan dengan nomer yang tidak dikenal dia pun menjawab panggilan itu, sembari berjalan keluar dari ruangan dr Keenan.


Dr Keenan menatap kearah dr Melati sampai dia menghilang dari pandangannya, namun dia tidak menegur dr Melati sedikit pun, dia kembali menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit ruangannya tersebut, tanpa sadar matanya pun terpejam beberapa saat kemudian terdengar suara dr Melati sedikit keras memanggil namanya.


" Keenan...!"


Dr Keenan membuka matanya sebari membenarkan duduknya dan mengusap wajahnnya dengan pelan.


Dr Melati langsung duduk di depan Keenan, dia menatap ke arah dr Keenan dengan lekat.


" Ken, tadi barusan Joddy bilang ke aku kalau kamu sangat tidak nyaman denganku?"


Dr Keenan menghela nafas dengan pelan dia merasa tidak terkejut dengan ucapan dr Melati


" Berarti Joddy sudah menghubungi Melati." gumamnya


" Apakah benar apa yang dikatakan Joddy itu Ken?"


" Hmmm...Iya benar." ucapnya datar sembari menganggukkan kepalanya ia menatap ke arah dr Melati terlihat ada rasa kecewa di wajahnya terpancar.


" Tidak nyaman gimana maksudnya? apakah aku sudah sangat keterlaluan padamu? iya?"

__ADS_1


"Aku merasa risih, karena kamu sudah bicara di seluruh rumah sakit ini, itulah yang buat aku tidak nyaman, semua sudah kukatakan dengan Joddy, kamu tahu aku dan Joddy itu tidak ada pernah satupun aku tutupi,aku memang minta tolong dengan Joddy untuk mengatakannya kepadamu." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan.


" Ini hal besar Ken, kenapa kamu tidak bicara langsung padaku, kenapa mesti melalui Joddy? kita satu pekerjaan dan satu tempat, setidaknya kamu bicara baik langsung denganku."


" Karena kau sudah terbiasa denganku, aku mengira kita hanya teman biasa tapi perasaanmu mengatakan lain jika aku yang langsung bicara denganmu Kamu tahu pasti kelemahanku dalam berbicara denganmu." ucap dr Keenan terasa tidak ada beban dia mengatakan itu, dokter Melati hanya menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari menyentuhkan tangannya ke jidadny dengan pinggiran sofa sebagai penopangnya.


Hening! di ruangan itu tidak ada suara sama sekali, mereka sama-sama terdiam kemudian dokter Melati kembali berbicara pada dokter Keenan.


" Aku memang tidak ingin jauh darimu Ken, seharusnya kamu sadar kalau aku menyukaimu, jauh sebelum kamu dan kekasihmu bersatu, tapi kamu tidak pernah menghiraukanku, dan tidak pernah memberikan aku kesempatan satu kali pun, aku memang bicara dengan semua orang yang ada di rumah sakit ini terutama dengan asisten kamu, karena aku bicara itu melihat kamu sudah sendiri, Aku berharap kamu bisa bersama denganku Ken, saat lulus S2 kita sama-sama akan terus bersama tapi nyatanya kamu jauh meninggalkanku."


" Maksud kamu? Aku jauh meninggalkanmu? Mel aku pulang kampung, aku kembali ke tanah air, Tanah kelahiranku, Aku tidak ingin menetap di sana, di sana hanya tempat Aku menuntut ilmu, Aku ingin menumpahkan segala tenaga aku di Tanah airku, kamu juga sudah salah paham, aku ingin bersama-sama dengan kamu waktu itu bukan karena aku menyukai kamu, tapi kita adalah sepasang sahabat kita selalu bertiga kemana-mana bertiga sudah berjanji kita tidak boleh ada yang terpisah satu sama lain, tapi apa yang terjadi? kamu yang tidak bisa mengendalikan perasaan kamu sendiri." ucap dokter Keenan sembari menatap dr Melati, entah kekuatan dari mana yang membuat dia bisa berbicara langsung dengan dr Melatih tentang ketidaknyamanannya selama ini.


Dr Melati hanya terdiam.


" Melati, kamu yang salah mengartikan semua itu, kita bersama-sama hanya sebagai teman tidak lebih, aku tidak bisa menyakiti teman aku sendiri yang sangat menyukaimu."


Dokter Melati terkejut dia menatap ke arah dokter Keenan


" Apa maksudmu dengan mengatakan kalau tidak mau menyakiti teman kamu sendiri? maksud kamu apa? apakah kamu tidak menyakiti aku? kamu sama aja menyakiti aku dengan menolak aku langsung seperti ini."


" Mel...apakah kamu tidak sadar kalau Joddy sudah menyukai kamu sejak dulu, aku menolak kamu karena aku hanya menganggap kamu teman biasa saja, Maafkan Aku aku sudah menyukai orang lain tapi bukan kamu Mel."


" Apa? kamu menyukai orang lain? siapa wanita itu? kamu baru aja putus Ken, semudah itu kamu menyukai orang lain?"


Dr Keenan terdiam,dia hanya memejamkan matanya sesaat, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan pelan, kemudian dia menghela nafasnya dan melepaskannya dengan tanpa beban seperti yang telah dia katakan semua pada dokter Melati.


" Kamu tidak usah tahu siapa yang aku sukai, dan jangan tanya siapa dia." Ucapnya menegaskan.


Terimalah Joddy karena Joddy sangat menyukaimu sejak awal, tapi kamu juga tidak memberikan kesempatan untuknya." ucapnya sembari berdiri dan meninggalkan dokter Melati yang berada duduk di ruangannya, dokter Melati menghela napasnya dengan pelan seraya menatap kepergian dokter Keenan dari hadapannya.


Dokter Keenan sengaja meninggalkan dokter Melati di ruangannya seorang diri, karena dia tidak ingin melihat dokter Melati menangis di hadapannya, dia berusaha untuk mengatakan itu semua pada dokter Melati tapi dia tidak ingin dr Melati meneteskan air matanya di depannya.


Dr Melati pun menutup wajahnya dan kedua tangannya tidak terasa air matanya pun mengalir.

__ADS_1


" Hari ini aku gagal, gagal lagi... dan gagal lagi... tidak ada kesempatan untuk aku menjadi ratu dihatinya."


Dokter Keenan melihat jam yang melingkar di tangannya, jam itu sudah menunjukkan pukul 21.00 Dia kemudian melangkah di lorong Rumah Sakit tersebut, saat dia melewati ruangan Pak Hamid yang tidak tertutup dengan rapat dia berniat menutup rapat pintu tersebut, namun dia melihat ke arah dalam terlihat Kania sedang tertidur dengan posisi duduk di bibir ranjang Ayahnya itu, dokter Keenan pun masuk ke dalam ruangan tersebut dia melepaskan jas dokternya yang dipakainya dan meletakkan di belakang punggung Kania yang sedang tertidur seolah-olah jas itu menutupi rasa dingin yang menerpa Kania, Dokter Keenan tersenyum dia menyibakkan anak rambut Kania yang menutupi mata Kania itu, dia tersenyum sembari memperhatikan wajah cantik Kania, cukup lama dia menatap wajah Kania,dr Keenan tidak menyadari di depan pintu mata dokter Melati memperhatikan gerak-gerik dokter Keenan yang sedang menatap wajah Kania dan dokter Melati pun melihat jas dokter yang dipakai oleh dokter Keenan sudah berada di punggung Kania bertambah rasa kecewanya itu setelah melihat kejadian itu, dia pun kemudian meninggalkan ruangan tersebut menuju ke arah ruangannya dan bersiap untuk pulang ke rumahnya, sedangkan dokter Keenan memutuskan untuk tidur di rumah sakit malam ini.


__ADS_2