
Di rumah dr Melari, saat dia mau berangkat ke Rumah Sakit tanpa berbasa-basi dengan kedua orang tuanya yang berada diruang makan, dia memang jarang sarapan pagi bersama keluarganya, dia terus saja melangkah menuju kearah luar dan diapun ditegurkan Bu Eni sang Mamah.
" Melati! ini Mamah buatkan makanan kesukaan kamu untuk sarapan pagi kamu di rumah sakit dan ada rendeng daging kesukaan Keenan, kalian bisa sarapan pagi bersama di Rumah Sakit." Ucapnya memberikan sebuah tempat makan yang unik pada Anaknya, dengan menatap ke arah mamahnya itu kemudian beralih ke tempat makan yang disodorkan Bu Eni padanya.
" Eh sayang .. kenapa kamu bengong, udah bawa aja ini, kamu tadi kan nggak mau sarapan di rumah, jadi Mamah buatkan bekal, biar kamu ada temannya makan sama Keenan." ujarnya lagi-lagi sembari tersenyum.
" Mamah nggak tahu kalau anaknya ini tidak pernah dilirik oleh Keenan." gumamnya sembari menatap tempat makan yang ada di tangan mamanya itu.
" Udah jangan terlalu banyak bengong, bawa aja segera, Kenan pasti suka, karena dia sangat senang bila Mamah masakan rendang daging ini, karena ini adalah makanan kesukaannya." ucap Bu Eni lagi-lagi tersenyum bahagia, karena Bu Eni tidak mengetahui kalau Keenan dan Melati sedikit punya masalah.
" Apa mesti mah, aku membawa tempat makan ini? dan Apa mesti juga aku harus makan pagi bersama dengan Keenan? kami ini sama-sama sibuk Mah? nggak memikirkan masalah makan lagi, lagi pula aku tidak mau sarapan, karena perutku sedikit tidak enak." ucapnya sembari menatap ke arah sang Mamah, Bu Eni tersenyum dia tidak merasa kecewa atas penolakan anaknya itu, dia terus mengatakan kepada anaknya harus membawa bekal makanan yang dia buatkan untuk anaknya itu.
" Udah kamu nggak usah terlalu banyak membantah, bawa aja, kalau kamu tidak mau makan, kasihkan aja sama Keenan, dia pasti mau makannya, dia tidak akan pernah menolak kalau Mamah sudah memasakan masakan kesukaannya." Ucap Bu Eni sembari meraih tangan anaknya dan menyerahkan tempat makan itu ke tangan dr Melati.
Dokter Melati merasa sedikit kesal atas paksaan dari sang Mamah untuk membawa tempat makan yang berisikan makanan kesukaan Keenan dan juga makanan kesukaannya.
" Baiklah Mah, Melati akan membawanya, Melati berangkat dulu." ucapnya langsung melangkah meninggalkan sang Mamah, tanpa ada penolakan lagi untuk membawa tempat makan yang sudah disiapkan oleh Bu Eni.
__ADS_1
Dokter Melati memasuki mobilnya, tapi dia tidak langsung menjalankan mobilnya itu, dia menghela nafasnya pelan sembari menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya.
" Buat apa sih Mamah membuatkan dia makanan kesukaannya, ujung-ujungnya nanti pasti akan ditolak juga, jangankan untuk menengok makanan yang aku bawa ini, menengok aku aja dia tidak akan pernah lagi, karena sekarang waktunya akan disibukkan dengan wanita itu." gumamnya lagi-lagi dia mendengus dengan kesal lalu menghidupkan mesin mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah pribadinya menuju ke arah rumah sakit.
Di taman samping rumah sakit dokter Keenan dan Kania masih berada di kursi tempat mereka duduk sejak awal, tanpa merubah posisi duduk mereka, setelah dokter Keenan memberitahukan tentang gosip yang menyebar di area Rumah Sakit itu pada Kania, Kania tidak ada memberikan komentar sama sekali, Dia hanya terdiam! Begitu juga dengan dokter Keenan, mereka merasakan sinar matahari pagi yang menyinari tubuh mereka dengan kehangatannya, setelah mereka merasakan dinginnya suasana itu, kemudian dokter Keenan menoleh ke arah Kania, terlihat Kania menatap jauh lepas ke arah depan di mana terlihat kupu-kupu cantik menghisap madu bunga-bunga yang sedang mekar, Kania menghela nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya, dia tidak sedikitpun menoleh ke arah dokter Keenan, karena dia merasa bingung dengan perasaannya itu yang tidak ada hubungan apa-apa dengan dokter Keenan, tapi dokter Keenan berkata jujur dan menyangkalnya tentang gosip yang menyebar di rumah sakit yang sekarang tempat sang Ayah berobat.
" Hmmm... Aku pasti mengira kamu sudah mempercayai itu semua." ucap dokter Keenan membuat Kania terkejut dan menoleh ke arah dokter Keenan yang sedang menatap dia, dan tidak bisa dipungkiri lagi kedua mata mereka saling beradu, beberapa lamanya saat mereka berdua tidak ada satu kata pun tapi masih saling menatap di belakang, seolah-olah hanya pandangan mata mereka yang berbicara satu sama lain,tanpa disadari mereka berdua, dokter Melati melihat mereka berdua yang sedang duduk di taman rumah sakit tersebut, dokter Melati pun menggenggam erat tempat makan yang ada di tangannya itu dengan wajah yang sangat marah, dia pun kemudian melempar tempat makannya itu ke dalam tong sampah yang ada di tidak jauh dari dirinya berdiri dan bergegas melangkah menuju ke arah ruangannya.
Saat dokter Melati melempar makanan itu Agus melihatnya karena posisi Agus berada pas di belakang dokter Melati, dia menatap langkah dokter Melati dan kemudian dia menatap ke arah taman di mana dokter Keenan dan Kania sedang duduk saling bertatap mata.
" Waduh!! sepertinya ada perang dunia ke tiga ini." ucap Agus sembari menggelengkan kepalanya.
" Sampai segitunya dokter Melati marah, sampai membuang makanan ke tong sampah, daripada dibuang mending disedekahkan aja, daripada capek-capek membuatnya tapi akhirnya dibuang juga ke dalam sampah." ucapnya sembari melangkah meninggalkan tong sampah itu menuju ke arah tempat meja penjagaan di mana beberapa temannya sudah berada dengan aktivitas mereka masing-masing.
Kania tersadar kemudian dia pun mengalihkan pandangannya dari wajah dokter Keenan sembari berucap.
" Saya tidak mendengar tentang gosip itu Pak dokter, karena saya tidak terlalu menghiraukan gosip yang ada di sekitar rumah sakit ini, yang saya pikirkan hanyalah kesembuhan dari Ayah saya, agar cepat saya pergi dari rumah sakit ini." ucapnya sembari tersenyum secara dipaksakan.
__ADS_1
Terdengar tarikan nafas dari dokter Keenan, dia pun kemudian memindah posisi duduknya dengan menopangkan kedua tangannya di pahanya dan menangkupkan telapak tangannya, lagi-lagi dia menghela nafasnya dengan pelan.
" Hmmm...maafkan saya karena saya sudah berbicara denganmu seperti ini, karena saya tidak ingin kamu mendengar gosip yang tidak mengenakkan di telinga mu tentang saya." ucap dokter Keenan namun dia tidak menatap ke arah Kania.
" Astaga! kenapa aku seperti memberikan keterangan pada Kekasihku, agar kekasihku bisa mempercayaiku, padahal aku dan Kania tidak saling kenal secara pribadi, tapi kalau tidak aku katakan semuanya ini rasanya aku sangat bersalah dengan Kania, tapi bersalah karena apa? itu yang aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri saat ini." gumamnya sembari menatap ke arah rerumputan yang memang sudah tertata rapi yang sedang bergoyang ditiup angin semilir pagi.
" Maaf dokter, kenapa dokter bisa mengatakan itu semua pada saya, padahal masih banyak keluarga pasien yang ada di dalam, kenapa dokter memilih saya untuk menjelaskan penyangkalan tentang gosip Anda?" ucap Kania secara spontan, dia pun baru menyadari kata-kata itu dan menutup mulutnya dengan tangannya, sebelum dokter Keenan menjawab perkataannya itu dia pun langsung berdiri.
" Maaf Pak Dokter, saya permisi, saya mau melihat Ayah saya, nanti beliau akan khawatir karena saya tidak berada di ruangannya." ucapnya sembari mengambil kantong kresek yang ada di sampingnya duduk, sebelum dokter Keenan mengiyakan dia pun sudah melangkah meninggalkan dokter Keenan menuju ke arah ruangan sang Ayah, dokter Keenan kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman dan menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia pun dikejutkan dengan suara Agus yang memanggilnya.
" Pak dokter...! panggil Agus sambil berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
" Ternyata kamu sudah bangun Gus!"
Agus tersenyum...
" Ada perihal penting dok yang ingin saya katakan dengan Pak dokter."
__ADS_1
" Masalah penting apa?"
" Tentang dokter Melati."