
#29 Menyakinkan Kania 🥰
Setelah meluapkan tangisnya dipelukan dr Joddy, dr Melati langsung melepaskan dirinya dan mengusap air matanya sembari menatap kearah dr Joddy.
" Apa perasaan kamu sudah tenang sekarang?"
Dr Melati menganggukkan kepalanya.
" Apakah aku salah selama ini Jod?" tanyanya dengan muka sendunya.
" Hhmmm...aku tidak bisa jawab pertanyaanmu Mel, karena aku tidak tahu cerita kamu dan Keenan."
Terdengar helaan nafas dr Melati diapun langsung tersenyum getir.
" Apakah kamu sibuk hari ini?"
Dr Melati menggeleng.
" Lebih baik kita pergi keluar, biar hatimu sedikit tenang." ucap dr Joddy sembari menatap dr Melati yang sedang duduk disampingnya dan diapun berdiri sambil menjulurkan tangannya.
dr Melati menatap kearah dr Joddy dengan mendongakkan kepalanya dan Dia mengangguk sembari berdiri dan menyambut uluran tangan dr Joddy, mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju kearah mobil dr Joddy dan berlalu dari rumah sakit tersebut.
Diruangannya dr Keenan berbicara dengan Kania.
" Kania, mulai sekarang aku mohon kamu jangan pernah lagi melayani dr Melati bicara, karena aku tidak pernah akan percaya dengan kata-katanya, aku tidak mau kamu kenapa-napa karena ulahnya, kamu mengertikan sayang?" ucap dr Keenan sembari menggenggam tangan Kania tersebut.
Kania menggangguk sambil menghela nafasnya dengan pelan.
" Apakah aku salah dok?"
" Kania, tolong mulai sekarang kamu jangan panggil aku dokter bila kita sedang berdua." protesnya sembari tersenyum.
Kania pun ikut tersenyum.
" Kania kamu tidak salah, kalupun kamu salah, letak kesalahannya dimana?"
" Aku rasanya bersalah karena aku sudah memisahkan jarak antara sahabat satu dan yang lainnya."
" Kania, kamu tidak memisah atau memecah belah persahabat kami, tapi dr Melati sendiri yang sudah memecahnya dan membuat jarak antara kami, ini bukan salah kamu." ucapnya seraya menatap kearah Kania dengan tatapan lemah lembutnya.
__ADS_1
Kemudian sebuah chat pribadi masuk kedalam ponsel dr Keenan diapun langsung mengambil ponselnya yang berada disaku jasnya itu.
Dia melihat siapa pengirimnya ternyata pengirimnya adalah dr Joddy yang isinya...
" Berikanlah pengertian pada wanitamu, dan sekarang Melati aman bersamaku." ucap dr Joddy dalam isi chatnya.
" Darimana kamu tahu kalau aku dan Kania sudah jadian?"
" Hehehe...tenang broo, aku tadi ada kerumah sakitmu, dan aku juga menyaksikan keegoisan Melati terhadap wanitamu, jangan khawatir aku akan memberikan pengertian pada Melati, supaya tidak akan mengganggu hubungan kamu dan Kania."
" Baguslah kalo kaya gitu,Terimakasih." balasnya melalui chat pribadinya.
Dr Keenan menghela nafasnya dan tersenyum, Kania menatap wajah kekasihnya itu pun merasa heran karena tersenyum setelah membalas chat pribadi diponselnya.
" Kenapa kamu tersenyum?"
" Aku tersenyum karena aku membalas chat dari Joddy."
" Joddy?"
" Iya, Joddy adalah sepupu sekaligus sahabat aku, kami sama-sama memiliki profesi yang sama."
Kania menganggukkan kepalanya.
Kania hanya diam mendengarkan ucapan dr Keenan.
" Kania..." Panggilnya lagi.
Kania menoleh kearahnya.
" Aku ingin mengajakmu menemui keluargaku?"
Kania terkejut, dan diapun langsung menatap dr Keenan dengan lekat, terlihat wajahnya berubah sendu.
" Ada apa sayang? kenapa kamu berubah sendu? Apakah ajakanku membuatmu merasa sedih? Aku hanya ingin mengajakmu bertemu dengan keluargaku dan aku menginginkan kamu mengenal keluargaku dan keluargaku juga mengenalmu, maukah kamu ikut denganku nantinya bertemu dengan keluargaku?" ucap dokter Keenan sembari meraih tangan Kania dan menggenggamnya, Kania hanya bisa menatap wajah dokter Keenan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, antara sedih dan senang, Sedih yang datang tiba-tiba itu dikarenakan Kania takut terulang kembali saat dulu bertemu dengan keluarga Michael, dan senangnya karena ingin bertemu dengan keluarga dokter Keenan.
" Ada apa Kania? mengapa kamu terlihat sangat sedih seperti itu?"
" Aku tidak apa-apa, Tapi aku teringat akan masa laluku yang pernah berkenalan dengan keluarga mantan kekasihku, Aku takut itu terjadi kembali denganku."
__ADS_1
" Maksud kamu? saat kamu bertemu dengan keluarga mantan kekasihmu itu keluarganya bagaimana terhadapmu? apakah mereka menyakitimu ataukah mereka menghinamu?"
Kania hanya menganggukkan kepalanya, melihat sang kekasih yang akan larut dalam kesedihannya mengingat masa lalunya yang telah membekas di hatinya itu, dokter Keenan pun langsung merangkul Kania dan memeluknya dengan penuh kasih dan sayang.
" Kania jangan samakan keluargaku dengan keluarga mantan kekasihmu itu, karena di sini aku hanya tinggal dengan seorang Nenek yang sudah membesarkanku dari ku masih kecil, kedua orang tuaku sudah tiada." ucapnya.
Kania pun langsung melepaskan pelukannya dari dokter Keenan dan menatap ke arah dokter Keenan dan dokter Keenan hanya menganggukkan kepalanya menyakinkan Kania.
" Percayalah padaku, Nenek tidak akan pernah membencimu Nenek juga tidak akan pernah memberikan rasa sakit hati kepadamu, karena Nenek memahami aku sebagai cucunya, maukah kamu ikut denganku? Aku akan pertemukan kamu dengan Nenek."
Akhirnya Kania pun mengangguk, melihat anggukan sang kekasih, dokter Keenan kembali memeluknya, Dia mencium pucuk kepala Kania.
" Terima kasih Kania, karena kamu mau ikut denganku berkenalan dengan Nenek."
Kania hanya menganggukkan kepalanya lagi, mereka berdua pun larut dalam pelukan mereka yang penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ketukan di pintu ruangan tersebut, Kania pun langsung melepaskan pelukannya dari dokter Keenan, begitu juga dengan dokter keenan langsung merubah posisi duduknya, mereka berdua langsung menatap ke arah pintu ruangan itu, pintu terbuka, karena dokter Keenan dari dalam bersuara untuk si pengetuk agar segera masuk.
" Maaf Dok, saya mengganggu?" tanya Agus tersenyum.
" Tidak apa-apa Gus." ucapnya pada Agus.
Agus pun melangkah menuju ke arah mereka berdua.
" Ada apa Agus?"
" Ada yang ingin saya tanyakan dengan Pak Dokter." ucapnya kemudian dia menatap kearah Kania.
Kania pun kemudian paham, karena ada yang ingin dibicarakan Agus pada dr Keenan, kemudian dia berdiri.
" Maaf, saya mau permisi, silakan kalian berdua berbicara, karena saya juga tadi mau ke kantin membelikan makanan untuk ibu, mungkin sekarang ibu sudah menunggu saya." ucapnya sembari tersenyum.
" Baiklah..." ucap dr Keenan.
Kemudian Kania melangkah meninggalkan mereka berdua dari ruangan itu dia menuju ke arah kantin karena niat awalnya dia ingin membelikan sang Ibu sarapan pagi, sedangkan di ruangan dokter Keenan Agus terlihat sedih.
" Agus ada apa? kenapa wajahmu terlihat sedih?"
" Pak Dokter benarkah Anda mau pindah dari rumah sakit ini?"
Dokter Keenan menghela nafasnya dengan pelan.
__ADS_1
" Maafkan saya Gus, ini saya lakukan agar saya tidak bertemu lagi dengan dr Melati, saya harus menghindarinya,tapi Dari mana kamu tahu kabar ini?"
" Tadi saat saya berada di ruangan pimpinan, karena saya disuruh pak Fadil mengambil sesuatu di dalam laci ruangannya, saya menemukan surat pengunduran diri dan surat pindah kerumah sakit pusat, setelah saya baca ternyata nama Anda yang ada dilembar surat itu." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan, dr Keenan menatap kearah Agus..