Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#17 Ungkapan Hati


__ADS_3

Sebelum Agus menjawab pertanyaan dokternya itu, dokter Keenan pun sudah mengambil langkah seribu, Agus hanya menggelengkan kepalanya saja melihat bayangan dokter Keenan sudah tidak ada di hadapannya.


" Ini namanya cinta, orang yang sedang jatuh cinta tidak akan merasakan apapun selain rasa bahagia dan ingin melindungi pasangannya." Ucap Agus sembari melangkah menuju ke arah meja penjagaan di mana dia selalu nongkrong di tempat itu.


Sedangkan dokter Keenan yang sudah berada di lantai atap itu pun dengan kedua tangannya memegang pintu tersebut dia langsung berteriak memanggil nama Kania.


" Kania!!!" Teriaknya sembari menoleh kiri dan kanan tapi dia tidak menemukan Kania dia pun kemudian melangkah menuju ke arah pembatas lantai atas tersebut saat dia menengok ke bawah Dia tidak menemukan siapa-siapa, hanya beberapa orang yang hilir mudik masuk dan keluar rumah sakit, kemudian dia menoleh ke arah samping, ternyata Kania berdiri di samping dengan menatap jauh ke langit biru tersebut. Kania tidak menyadari kedatangan dokter Keenan yang sudah berada di lantai atap, sesekali dia menyeka air matanya yang terus keluar, dia tidak marah dengan dokter Melati, tapi yang dia marah kan karena perasaan dia yang sudah salah terhadap dokter Keenan yang ternyata sudah menjadi calon suami orang lain.


Dokter Keenan langsung mendekati Kania, dia langsung menyentuh tangan Kania dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dirinya.


" Kamu tidak apa-apa kan Kania?" ucapnya.


Kania terkejut karena dokter Keenan sudah berada di sampingnya itu, dia pun langsung menepiskan tangan dokter Keenan dan mundur beberapa langkah dari hadapan dokter keenan, dokter Keenan terperangah melihat sikap Kania yang begitu berubah dalam hitungan menit.


" Ada apa denganmu Kania? kenapa kamu bersikap seperti ini denganku? kenapa kamu menangis? ada apa? apakah Dokter melati sudah menyakiti kamu? katakan denganku." ucapnya sembari mendekati Kania.


" Kenapa Anda berada di sini Pak dokter, aku tidak disakiti oleh dokter Melati, dia hanya berbicara denganku, Aku mohon denganmu jangan terlalu memberi perhatian lebih padaku, perlakukanlah Aku dan Ayahmu sama seperti pasien yang lain, aku tidak ingin semua ini akan menjadi kesalahpahaman antara engkau dan dokter Melati."


" Kania, ini ada apa? Saya sudah bicara denganmu kan, saya sudah mengatakan semuanya padamu kan, kalau saya dan dokter Melati itu tidak ada hubungan apa-apa."


" Sudahlah! gak usah Anda berbicara seperti itu pada saya, karena yang dr Melati katakan berbeda jauh dengan ucapan Anda, dr Melati sudah mengatakan semuanya pada saya, saya tidak ingin hubungan kalian berdua retak dikarenakan saya, saya tidak ingin menjadi duri dalam daging di antara hubungan kalian." ucapnya tanpa terasa air matanya menetes dokter keenan menatap ke arah Kania.

__ADS_1


" Kania, matamu merah, hentikanlah tangismu! Saya tidak ingin melihat matamu semakin bengkak Kania."


" Tidak apa-apa, saya tidak menangis, tapi karena angin terlalu kencang menerpa mata saya dan lagi pula mata saya sedikit perih, jadi mengakibatkan air mata saya keluar."


" Kania, kamu jangan bohong dengan saya, saya tahu kamu sudah menangis karena dokter Melati, Saya tidak ingin kamu menangis gara-gara dia, saya ingin kamu percaya pada saya, kalau saya dan dia tidak ada hubungan apa-apa, percayalah Kania pada saya!" ucapnya sembari mendekat ke arah Kania dan meraih tangan Kania.


Kania terdiam Dia kemudian menundukkan kepalanya dia pun tidak menolak dokter Kenan menyentuh tangannya, dokter Keenan pun meraih tubuh Kania dan memeluknya, tanpa terasa air mata Kania terus menetes di dalam dekapan dokter Keenan, dokter Keenan tanpa ragu dia membelai rambut hitam Kania tanpa sadar Kania pun mengeratkan pelukannya itu.


" Kania, kalau kamu ingin menangis, menangislah dipelukan saya, jangan kau menangis seorang diri, jujur saya akui sejak pertama kali saya melihatmu saya sudah merasakan kalau saya benar-benar menyukai kamu." Kania terkejut dan dia pun langsung melepaskan pelukan dokter Keenan.


" Kenapa Kania? Saya memang benar menyukai kamu, sejak pertama kali kita bertemu, saya berkata jujur padamu, kalau saya dan Melati itu tidak ada hubungan sama sekali, kami hanya sebatas teman saja tidak lebih dari itu, saya memang pernah mempunyai kekasih, tapi karena orang tuanya tidak menyukai dengan pekerjaan saya sekarang dan kami pun berpisah, apa salah saya menyukai kamu?" ucap dokter Keenan sembari menatap ke arah Kania, Kania terdiam sesaat.


" Maap dokter, saya harus menemui Ayah, karena saya sudah terlalu lama meninggalkannya." ucapnya langsung meninggalkan dokter Keenan dan turun ke lantai bawah dia tergesa-gesa melangkah menuju ke arah ruangan sang Ayah, sebelum dia memasuki ruangan itu dia memastikan wajahnya tidak terlihat habis menangis dia membuka pintu ruangan kamar sang Ayah ternyata pak Hamid sedang tertidur.


" Apakah aku tidak salah dengar dokter Keenan mengatakan itu padaku ?bukannya dia calon suami dokter Melati? Aku tidak ingin hubungan mereka hancur gara-gara kehadiranku, Ya Tuhan kenapa kau beri garis jalanku seperti ini, kau hadirkan dia di dalam hatiku di saat dia sudah bersama dengan orang lain." gumamnya dia pun kemudian menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat seberat perasaan dia yang tidak menentu saat ini.


Dia kemudian berdiri dan melangkah menuju ke arah jendela di ruangan Ayahnya itu dia melihat keluar karena ruangan sang ayah berada di lantai satu, dia menikmati semilirnya angin yang menerpa wajahnya melalui teralis besi yang ada di ruangan tersebut, Kania larut dalam lamunannya,


Dokter Keenan yang terlanjur mengatakan sukanya kepada Kania pun menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas lantai atap dan alam lepas,dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar kemudian dia berbalik dan menikmati angin yang tidak terlalu kencang menerpa wajahnya itu.


" Aku tidak ingin Kania membenciku karena Melati,Aku ingin menyelesaikan semuanya, aku ingin mengatakan pada Melati kalau aku menyukai Kania, Aku juga ingin berniat menghindari Melati, kalau masih seperti itu Melati tidak akan pernah berubah." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya dan bersandarkan di pagar pembatas tersebut, lama.. dia berada di atas tiba-tiba Agus pun datang.

__ADS_1


" Pak dokter." panggilnya.


Dokter Keenan langsung menoleh ke arah suara, Agus mendekatinya setengah berlari.


" Pak Dokter dicari pimpinan rumah sakit, karena ada rapat mendadak." ucapnya.


Dokter Keenan pun mengangguk, Dia kemudian melangkah diikuti Agus, mereka berdua turun ke lantai utama, beberapa saat mereka melangkah sampai di lantai utama, kemudian dr Keenan menuju ke arah lift yang mengarah ke ruang rapat di mana para dokter sudah menunggu di dalam ruangan rapat karena ada yang ingin dirapatkan oleh pimpinan rumah sakit, sedangkan Agus kembali kemeja penjagaan.


Di ruangan Pak Hamid saat jam makan siang, Caca mengunjungi Kania dan dia pun membawakan bekal makan untuk Kania, karena sang Ibu tidak bisa datang ke rumah sakit sebab tidak enak badan, terpaksa Kania yang menjaga sang Ayah.


Caca pun masuk ke dalam ruangan itu dan menemui Kania yang sedang berdiri di depan jendela.


" Hey ..Kania, kamu kenapa?"


Kania terkejut karena Caca berada di ruangan Ayahnya itu, dia tidak menyadari kedatangan Caca.


Kania tersenyum, dia menggelengkan kepalanya.


" Hey...Tidak ada apa-apa Ca, aku cuma ingin menikmati suasana luar aja melalui jendela ini."


Tapi Caca merasa curiga dan dia menatap ke arah wajah Kania.

__ADS_1


" Kania, kamu tidak bisa bohong denganku, Aku bisa melihat wajah kamu itu, di saat kamu sedih aku tahu, di saat kamu senang juga aku tahu, Jadi kamu tidak bisa bohong denganku." Ucap Caca sembari berbisik pelan takut Pak Hamid mendengar pembicaraan mereka.


Kania hanya tersenyum saja dan melangkah menuju ke kasur lantai yang sudah tersedia itu, dia membawa Caca untuk duduk dan Caca pun duduk berhadapan dengan Kania sembari meletakkan makan siang yang dibawanya untuk mereka berdua.


__ADS_2