
#45 Memberikan Pelajaran🌹
" Masih ingat ya sama aku?" ucap dr Joddy.
Dengan reflek Imelda menggeleng...kemudian pesanan makanannya datang dan dengan sopan Imelda mengucapkan terimakasih, setelah pergi pemilik warung tersebut, Imelda menatap kearah dr Joddy.
" Maaf Mas saya makan dulu ya... Mas nggak makan?"
" Oh, silahkan...tadi saya sudah makan..." ucapnya tersenyum.
Imelda pun tak sungkan-sungkan, dengan gaya dia apa adanya dan gerakan makannya yang sangat sopan itupun dia melahap makanan yang sudah dipesannya, dr Joddy hanya menatapnya dengan penuh lekat terlihat dr Joddy mengagumi sang wanita yang ada dihadapannya itu yang sedang melahap makanannya tersebut.
Dalam makannya Imelda tidak ada suara sama sekali sampai suapan terakhir,dia tersenyum pada dr Joddy yang sudah menemaninya makan itu.
" Maaf Mas, saya makannya terlalu keasyikan, karena tadi siang lupa makan, habisnya keasyikan kerja." ucapnya sembari tersenyum.
" Nggak apa-apa saya suka dengan cara makan kamu yang tidak bicara sama sekali, ngomong-ngomong kamu kerja dimana?"
" Disebuah kantor swasta Mas yang ada dikota ini."
" Oh gitu ya.."
Imelda tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
" Oh...ya Mas, tadi Masnya Alumni SMA Harapan Kita?"
" Yap!...."
" Kelas mana ya Mas? maklum saya kurang terlalu hapal sih, karena saya tidak terlalu mengenal banyak mereka, hehehe." ucapnya terkekeh pelan.
" Nggak apa-apa kok, Aku dan temanku tadi yang barusan pergi itu dari kelas IPA."
Telihat Imelda tersenyum dan melihat jam diponselnya.
" Maaf Mas, saya harus segera pulang, karena sudah sangat sore bentar lagi magrib." ucapnya sembari berdiri dan hendak membayar makanannya tersebut.
" Imel...Nggak usah bayar biar aku yang bayar, kalau tidak keberatan boleh aku antar kamu pulang.?" pintanya.
Imelda terdiam sesaat...
" Yah, itu kalau kamu mengijinkan aku mengantarkan kamu pulang, sebantar aku bayar dulu ya." ucap dr Joddy sembari melangkah menuju meja pembayaran makanan yang dipesan Imelda dan dirinya.
" Bisa juga sih mengurangi gangguan lelaki yang ada diujung jalan, kan ini sudah waktunya mereka berada nongkrong didepan jalan itu, apa salahnya aku ikut dia." gumam Imelda sembari menatap kearah dr Joddy yang sedang membayar makanan yang dipesannya tersebut.
" Bagaimana, maukan aku antar kamu pulang?"
" Hemm...Baiklah Mas, maaf ya Mas kalau ngerepotin Masnya."
" Ya nggak lah Mel, karena kan aku yang menawarkan diriku untuk ngantar kamu,biar aku tau juga rumah kamulah Mel,biar lebih akrab gitu." ucapnya tersenyum.
" Terimakasih ya Mas..."
" Jangan berterimakasih dulu, kan belum berangkat hehehe..." ucapnya melancarkan aksinya dengan candaan terhadap Imelda.
Imelda hanya tersenyum, mereka berdua memasuki mobilnya dan beberapa saat mobil dr Joddy melaju dijalan beraspal menuju kearah rumah Imelda.
Setelah memberitahukan jalan dimana dia tinggal, tidak berapa lama jalan menuju rumah Imelda terlihat, namun dengan cepat Imelda menyuruh dr Joddy berhenti, dr Joddy pun heran dan langsung menghentikan mobilnya itu.
" Kenapa Mel?" tanyanya, terlihat wajah Imelda sedikit cemas.
" Ada apa? kenapa wajah kamu terlihat cemas?"
" Sampai sini aja Mas, karena kalau Mas masuk kedalam jalan itu Imel takut Masnya diganggu mereka itu." ucapnya sembari menunjuk mereka yang ada di ujung jalan menuju ke arah rumah Imelda.
Dokter Joddy menatap ke arah beberapa orang lelaki yang sedang duduk bersantai di sebuah kursi di ujung jalan tersebut.
" Kalau aku tidak mengantar kamu sampai ke rumah, Terus kamu mau lewat dari mana? sedangkan mereka berada di ujung jalan itu, bagaimana kamu melewati mereka.?" tanyanya.
" Imel sering lewat jalan kecil yang ada di dekat lapangan voli itu Mas." ucapnya.
Dokter Joddy pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Imelda dia terkejut melihat jalan tersebut, kemudian dr Joddy menatap ke arah Imelda dengan tatapan herannya dan tatapan tidak percayanya.
" Jalan itu?Yang bener Mel, masa kamu lewat situ sih, ini kan sudah mau malam, apalagi kamu itu seorang wanita, lihat aja di samping lapangan voli itu banyak rerumputan yang tinggi bagaimana kamu melewatinya?"
Imelda tersenyum.
" Imel sudah biasa lewat dari situ kalau sudah waktu menjelang malam seperti ini."
__ADS_1
" Kenapa mesti lewat situ Mel, memang tidak ada jalan lain lagi selain jalan utama yang tidak diketahui oleh mereka."
Imelda hanya menggelengkan kepalanya.
" Memangnya kenapa kalau kita melewati mereka.?" Tanya Dokter Joddy sembari menatap ke arah Imelda dengan tatapan herannya.
Kemudian dia pun menatap ke arah jalan kembali, terlihat seorang gadis mengendarai sepeda motor santai-santai aja melewati beberapa anak muda yang sedang duduk santai di depan jalan dan kadang-kadang bermor-mandir ke kiri dan ke kanan tersebut.
Imelda menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Itu lihat, ada aja orang yang lewat, tapi tidak apa-apa, kenapa kamu mesti lewat jalan sempit itu?" tanya dokter Joddy kembali.
" Ceritanya panjang Mas yang mereka incar adalah aku.'
" Kamu? memang ada masalah apa?Terus orang tuamu mana, apakah ada saudara kamu yang lain yang bisa jemput kamu di ujung jalan nungguin kamu gitu, sampai kamu pulang kerja."
Imelda menggelengkan kepalanya dia menundukkan kepalanya sesaat, kemudian dia menatap ke arah lain, dokter Joddy pun kemudian merubah posisi duduknya menghadap ke arah Imelda, Walaupun dia baru saja bertemu dan mengenal Imelda, tapi dokter Joddy seakan sudah mengenal Imelda lama, meskipun Imelda teman sekolah seangkatan dengannya, tapi tidak ada saling kenal dan sapa.
" Ada apa Imelda? Kenapa kamu terlihat sedih seperti itu? Memang apa yang dilakukan kamu sehingga mereka menunggu kamu setiap hari seperti itu."
Imelda menghela nafasnya dengan pelan.
" Salah satu dari mereka menginginkan Imel menjadi istrinya, Dia adalah anak pak RT di jalan tempat tinggal Imel, Ayah Imel sudah tidak ada Mas, Ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sedangkan ibu Imel sedang sakit di rumah, Imel menolaknya dengan alasan Imel belum ada keinginan untuk menikah, karena Imel ingin mengurus ibu Imel yang sedang sakit, dia tidak terima dan dia marah dan akan terus mengganggu Imel sampai kapanpun, sampai Imel menerima dia." terangnya, begitu saja cerita itu keluar dari mulutnya, padahal Imelda baru saja mengenal dokter Joddy beberapa menit yang lalu.
" Yang mana anak pak Rt itu?"
" Itu dia yang mengenakan pakai kaos oblong warna hijau."
Dokter Joddy menganggukkan kepalanya.
" Aku akan tetap mengantarkan kamu pulang sampai kerumah, kamu jangan turun dari mobil ku."
" Tapi Mas..." ucapan Imelda ditahan dr Joddy dengan memberi isarat untuk diam, Imeldapun hanya diam saja, kemudian dr Joddy pun terlihat menghubungi seseorang melalui chat pribadi diponselnya.
Kemudian dr Joddy menghidupkan kembali mesin mobilnya tersebut dan menuju kearah jalan rumah Imelda
Beberapa orang yang berada di ujung jalan rumah Imelda itu pun menatap ke arah mobil dokter Joddy yang perlahan memasuki jalan tersebut, sebelum mobil dokter Joddy masuk ke dalam jalan itu laki-laki yang menggunakan kaos oblong berwarna hijau pun kemudian memberhentikan mobil dokter Joddy dia melangkah menuju ke arah pintu mobil kemudian Dia mengetuk beberapa kali kaca mobil dokter Joddy.
" Jangan dibuka Mas!" ucap Imelda membuat dokter Joddy langsung menoleh ke arah Imelda.
" Kenapa nggak boleh dibuka? biarkan aja dia melihat kalau kamu ada di dalam mobilku ini, dia bisa mengancammu, aku pun juga bisa mengancam dia." ucap dokter Joddy menatap ke arah Imelda yang terlihat wajahnya seperti orang ketakutan itu.
" Aku rasa bukan karena laki-laki itu menginginkan Imelda sebagai istrinya tapi ada perbuatan laki-laki itu yang membuat Imelda merasa takut sekali.
Tanpa sengaja dengan gerakan refleks Imelda memegang tangan dokter Joddy yang berada di antara pegangan gigi mobil tersebut, dokter Joddy langsung menatap ke arah tangan Imelda dan kemudian menatap kembali ke arah muka Imelda yang terlihat menampakan sekali wajah ketakutannya itu.
" Kamu tidak usah takut Imel, kamu ada bersamaku, percaya padaku."
" Maafkan Imel Mas, Awalnya Imel mengiyakan kamu mengantarkan pulang agar Imel terlepas dari mereka, tapi nyatanya kamu nantinya yang akan diganggu oleh mereka, karena kamu sudah mengantarkan Imel pulang ke rumah."
Lagi-lagi laki-laki yang berpakaian baju kaos oblong berwarna hijau itu pun terus mengetuk pintu kaca mobil dokter Joddy, terlihat mulutnya seperti orang mengomel karena pintu mobil itu tidak dibuka oleh dokter Joddy sedikitpun, karena dia masih memberikan kekuatan kepada Imelda yang terus melarangnya untuk membukanya.
" Hei..! buka kaca mobilmu! Kalau kamu tidak membukanya aku akan memecahkan kaca mobilmu ini!karena kamu menantang aku dengan tidak membuka kaca mobil kamu ini!" ucap laki-laki tersebut karena dokter Joddy tidak mendengar hanya melihat gerakan bibir si pemuda tersebut, disebabkan mobil pribadi dokter Joddy itu kedap suara.
Saat tangan dokter Joddy memegang tombol untuk menurunkan kaca mobil tersebut, Imelda langsung mencegahnya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada agar dokter Joddy tidak membuka kaca tersebut, semakin melihat reaksi Imelda seperti itu, membuat dokter Joddy ingin tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, kemudian dokter Joddy menyentuh tangan Imelda yang seakan-akan memohon padanya itu, dan dokter Joddy pun menatap ke arah bening bola mata Imelda yang sudah mengeluarkan air mata tersebut.
" Kamu jangan menangis dan kamu jangan merasa takut, karena aku ada di sini, aku tidak apa-apa aku akan menolong kamu supaya kamu tidak diganggu oleh mereka lagi percayalah padaku, tidak akan terjadi apa-apa denganku, yakinlah, tidak usah seperti itu Imelda." ucapnya menatap iba pada Imelda
Kemudian Imelda merasa sedikit tenang dengan ucapan dokter Joddy,dokter Joddy pun membuka pintu mobilnya tersebut dan dia langsung keluar dari mobilnya, Dia memang sengaja tidak menutup langsung pintu mobil tersebut, agar laki-laki yang ada di depannya itu melihat kalau Imelda ada di dalam mobilnya, laki-laki itu pun kemudian menengok ke dalam, dia terkejut melihat Imelda ada di dalam mobil itu, Imelda menatap ke arahnya, Begitu juga dengan laki-laki tersebut, terlihat wajahnya menampakkan wajah kemarahannya, Dia kemudian mendorong dokter Joddy dengan sedikit kuat, Untung saja dokter Joddy bisa menahan agar tubuhnya tidak jatuh ke aspal, dia bersandar di mobilnya tersebut, melihat dokter Jaddy didorong oleh laki-laki tersebut Imelda sedikit berteriak.
" Robi!!angan sakiti dia!!" ucapnya, namun dia tidak diperbolehkan oleh dokter Joddy untuk keluar dari mobilnya itu.
" Ngapain kamu membawa istriku hah! Kamu tidak tahu ya kalau dia adalah istriku! istri Robi Pratama!! ingat tuh!! namaku Robi Pratama!! dia adalah nyonya Robi!!"
" Oh! istri kamu? Apa aku tidak salah dengar? kalau dia itu istri kamu beneran buat apa kamu menunggu di depan jalan seperti ini mondar-mandir, Apa kamu tidak ada kerjaan? kalau kamu merasa sebagai seorang suami kamu harus bekerja jangan biarkan istrimu bekerja, kalau kamu memang suaminya silakan ambil dia tarik dia dari mobilku suruh dia keluar dari mobilk! Buruan!!" ucap dokter Joddy membuat laki-laki yang bernama Roby tersebut terkejut dengan ucapan dokter Joddy.
" Apa urusan kamu? mau dia istriku ataupun bukan, itu bukan urusan kamu, kalau aku pantang untuk diriku mengeluarkan seorang wanita dari mobil orang lain!" ucap nya sembari menatap sinis ke arah dokter Joddy.
" Hahaha... itu menandakan kalau kamu itu bukan suami sahnya, kamu terlalu terobsesi dengan dirinya, sadarlah!! sebagai seorang laki-laki harga diri dan martabat laki-laki itu sangat tinggi, jangan kotori harkat dan martabat diri kamu itu dengan mengakui wanita lain sebagai istri kamu yang sebenarnya wanita itu bukanlah istri kamu, jangan mengaku-ngaku Mas Bro..." ucapnya.
" Imelda! cepat keluar dari mobil ini, aku sudah memperingatkan kamu kan, kalau kamu tidak bisa untuk bersama dengan laki-laki lain selain denganku!! cepat keluar dari mobil ini!! kalau kamu tidak keluar kamu akan merasakan akibatnya sendiri!!" ucapnya bersuara membuat Imelda bingung mau berbuat apa, karena dia kenal dengan sikap Robi.
Imelda pun hendak keluar dari mobil, langsung saja dokter Joddy pun melarang Imelda,dan tetap diam di dalam mobil tersebut.
Kemudian dokter Joddy pun mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya, Dia kemudian menghubungi seseorang dengan menggunakan loudspeaker ponselnya itu, agar suara orang yang dihubunginya itu pun terdengar oleh Robi.
" Iya Pak Joddy, sekarang posisi Bapak di mana? kami berada di jalan mau menuju ke arah tujuan di mana Pak Jody berada." ucap suara seseorang tersebut di dalam ponsel pribadi dokter Joddy, mendengar suara tersebut Robi pun terkejut, beberapa orang yang ada tidak jauh berdiri dari posisi Robi itu pun langsung mendekati Robi sembari berbisik pelan pada Robi.
__ADS_1
" Robi,lebih baik kita pergi dari sini daripada nanti kita berurusan dengan pihak yang berwajib, aku rasa dia itu menghubungi pihak yang berwajib, kamu mau celaka kalau kamu menunggu di sini?" ucap salah satu dari mereka yang mendekati Robi, terlihat wajah Robi mulai panik saat temannya itu berbicara.
Saat Robi hendak berbalik arah mengikuti langkah para temannya itu, menuju ke arah motor yang terparkir tidak jauh dari mereka, tangan dokter Joddy pun mencengkram kuat tangan Robi.
Robi tersentak, dia menatap ke arah dokter Joddy.
" Lepaskan tanganku!! Aku ingin pergi dari sini!!"
pendengar Robi berbicara seperti itu, seseorang yang terhubung dengan ponselnya dokter Joddy itu pun bersuara.
" Pak Joddy, itukah orangnya yang Pak Joddy katakan pada saya tadi? sebelum Pak Joddy menghubungi saya untuk yang kedua kalinya, tolong Pak Joddy ditahan dulu orangnya, biar kami sampai ke tempat tujuan."
Mendengar ucapan itu, kepanikan di wajah Robi pun semakin meningkat, dia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman dokter Joddy namun tidak bisa, karena cengkraman dokter Joddy sangat kuat, tubuh dokter Joddy sangat berisi dengan mudah dokter Joddy mencengkram tangan Robi karena tubuh Robi yang kurus tidak terlalu berisi itu membuat pergelangan tangan Robi dengan mudah dicengkram dan tidak bisa untuk dilepaskan, karena kekuatan Robi tidak bisa menyaingi kekuatan dokter Joddy yang terlihat tegap berisi itu.
Robi menatap ke arah dokter Joddy, dokter Joddy yang tersenyum membuat Robi menampakan wajah paniknya.
" Tolong lepaskan tanganku! Aku akan segera pergi dari sini, aku tidak akan mengganggu Imelda lagi." ucapnya begitu saja keluar dari mulutnya karena kepanikannya yang sudah dirasakannya.
" Apakah omonganmu itu dapat dipercaya? aku rasa dari omongan kamu itu tampaknya tidak meyakinkan.!"
" Aku bersumpah,! tidak akan pernah mengganggu Imelda lagi dia bukan istriku, hanya akulah yang terlalu terobsesi dengannya." ucapnya sembari melirik kanan dan kiri karena para teman-temannya yang awalnya berada di belakangnya sudah tidak ada lagi, Sekarang dia hanya sendiri karena dicengkram tangannya oleh dokter Jodi.
" Aku tidak akan melepaskan cengkrangan tanganku ini padamu, sebelum pihak yang berwajib datang ke sini, karena mereka sudah ada di perjalanan aku ingin melihat kamu masuk ke hotel prodeo gratis, karena perlakuan kamu ini sangat tidak menyenangkan bagi Imelda." ucap dokter Joddy sembari tersenyum membuat wajah Robi semakin panik dan keringat dingin mulai mengucur membasahi leher dan wajahnya.
" Tolong lepaskan tanganku, demi Tuhan aku tidak akan pernah lagi mengganggu Imelda." ucapnya seraya dia menatap ke arah dalam mobil di mana Imelda masih duduk sembari menatap ke arah mereka berdua.
" Imelda tolong bilang pada lelakimu, lepaskan tanganku! Aku janji tidak akan pernah lagi mengganggu kamu, kamu bebas keluar masuk jalan ini, seperti semula saat aku dan kamu belum saling mengenal, tolong Imelda, Maafkan Aku." ucapnya sembari menatap ke arah Imelda.
" Apa jaminannya kalau seandainya tanganmu aku lepaskan, kata-kata bisa saja dipungkirin hari ini berkata benar besok diulangi lagi." ucap dokter Joddy sembari masih tersenyum, dan ponselnya yang masih menyala, kemudian ponsel itu berbunyi kembali.
" Pak Joddy sekarang posisinya di mana? Kami sudah mulai mendekat dengan jalan yang sudah anda beritahukan."
Mendengar suara dari ponsel tersebut membuat Robi semakin panik dia terus memohon pada dr Joddy agar dibebaskan dari cengkraman tangan dr Joddy yang kuat.
" Mas Joddy lepaskan aja dia, kalau seandainya dia mengganggu Imel lagi, Imel tidak akan tinggal diam, seperti hari-hari yang lalu, Imel akan melaporkannya ke pihak yang berwajib." ucap Imelda yang berada masih duduk di dalam mobil karena Dia dilarang dr Joddy untuk keluar dari mobil tersebut.
" Baiklah!kamu aku lepaskan, Silahkan kamu pergi dari sini, jangan sekali-kali lagi kamu mengganggu Imelda, kalau sampai aku mendengar kamu mengganggunya, aku tidak akan memberi keringanan lagi padamu! ingat itu!!" ucapnya sembari melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Robi.
Robi kemudian mengusap-usap tangannya yang terasa sakit karena cengkraman tangan dokter Joddy sembari berlari menuju ke arah kendaraannya dan beberapa saat ia pun melaju kencang dan kendaraannya tersebut, dokter Joddy hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun berbicara dengan seseorang yang ada di dalam ponsel tersebut yang ternyata adalah dokter Keenan yang sudah dihubungi dokter Joddy untuk menjadi seorang polisi dadakan.
" Terima kasih ya Ken karena kamu sudah menjadi polisi dadakan... hehehe.."
Terdengar tawa di seberang sana, dokter Joddy pun kemudian memitus sambungan bicaranya tersebut, dia kembali masuk ke dalam mobil kembali, beberapa saat kemudian mobil itu pun melaju menuju ke arah rumah Imelda, namun sebelum sampai ke rumah tujuan itu dokter Joddy mengendarai mobilnya dengan perlahan.
" Di mana rumah kamu?"
" Berada di ujung jalan sana Mas." ucapnya.
" Kalau rumah Pak RT?"
" Itu..." ucap Imelda sembari menunjuk sebuah rumah Di mana tempat itu adalah tempat Pak RT, dr Joddy pun kemudian menghentikan mobilnya di depan rumah Pak RT, mereka berdua langsung turun membuat Imelda merasa heran, namun dia hanya mengikuti dokter Joddy melangkah menuju ke arah rumah tersebut, kebetulan Pak RT sedang santai duduk di teras bersama istrinya, Pak RT merasa heran karena ada orang baru yang datang menemuinya, tapi dia tidak merasa heran dengan Imelda karena Imelda adalah warganya.
Kedatangan dokter Joddy dan Imelda disambut oleh Pak RT dengan senyumannya sembari menyalami kedua tamunya tersebut, dokter Joddy dan Imelda menyambut uluran tangan Pak RT dan Pak RT kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.
" Maaf Neng Imelda ada apa.?"
Sebelum Imelda menjawab pertanyaan pak Rt tersebut, dr Joddy terlebih dahulu bersuara.
" Maaf pak, mungkin Bapak Bertanya kedatangan saya ke sini, saya Joddy, temannya Imelda, Ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak." ucap dokter Joddy sembari tersenyum.
" Apa yang ingin dibicarakan Pak?"
" Ini masalah anak bapak si Robi."
" Si Robi? memang kenapa dengan dia?"
" Begini pak, selama ini Mas Robi selalu mengganggu Saya bahkan saat itu.... " Imelda pun Kemudian menceritakan kepada Pak RT tentang kelakuan anaknya tersebut pada dirinya sampai selesai,mendengar cerita Imelda itu, pak RT terlihat marah dengan kelakuan anaknya dan dia juga merasa tidak enak dengan Imelda.
" Maafkan anak saya ya neng, Anak saya itu memang keterlaluan, saya akan menegurnya."
" Maaf Pak, kalau sampai masih memperlakukan Imelda seperti itu, saya selaku temannya Imelda akan terpaksa melaporkannya ke pihak yang berwajib."
Pak RT langsung terkejut mendengar ucapan dari dokter Joddy, Dia kemudian hanya bisa mengangguk pasrah, Karena dia sudah terlanjur malu, karena perbuatan dari Robi anak sulungnya itu.
" Iya Pak! saya akan mendukung Bapak, kalau memang dia masih mengganggu Nak Imelda, lagi pula Kenapa saat itu Neng Imelda tidak langsung bicara sama Bapak, biar Bapak memberikan hukuman pada dia."
" Maafkan saya pak, karena saat itu saya diancam oleh Mas Robi agar tidak memberitahu kepada siapapun, karena dia mengatakan pada saya kalau sampai saya mengatakan semuanya kepada bapak, ibu saya yang akan celaka, Saya takut Pak karena Ibu saya itu sedang sakit dan saya tinggal sendiri saat bekerja, ibu hanya seorang diri di rumah, makanya saya selalu mengalah Pak." terang Imelda.
__ADS_1
" Sekali lagi saya selaku orang tua dari Robi mohon maaf pada Neng ya, nanti kalau ada apa-apa lagi bilang aja sama saya, kalau seandainya Robi mengganggu neng lagi."
Imelda menganggukkan kepalanya, setelah melaporkan semuanya kepada Pak RT selaku Ayahnya Robi, mereka berdua pun berpamitan dan langsung menuju ke arah rumah kediamannya Imelda.