Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#38 Lamaran


__ADS_3

#38 Lamaran.😍🥰


Sebelum mengungkapkan keinginannya pada kedua orang tua Kania, dr Keenan terlebih dahulu memeriksa keadaan pak Hamid, dan Nenek dipersilahkan Kania duduk.


Selesai memeriksa dr Keenan pun juga ikut duduk bergabung dengan mereka.


" Ibu, Ayah, ini adalah Nenek pak dokter, Nenek ini Ayah ibu Kania." ucapnya memperkenalkan mereka satu sama lainnya.


Nenek Maria tersenyum tapi dia menatap kearah Yoga dan Caca yang duduk berdampingan.


Kania mengetahui kalau Nenek Maria menatap Omnya dan sahabatnya itu, Kania tahu Nenek Maria pasti bertanya-tanya tentang mereka berdua.


" Nenek, itu Adalah Om Yoga dan calon istrinya, Om Yoga adalah saudaranya Ibu..." ucapnya tersenyum.


" Oh, Om kamu, Nenek kira tadi orang yang naksir kamu hehehe..." ucap Nenek Maria membuat mereka tertawa pelan.


" Ibu, Bapak, saya kesini ada yang ingin saya bicarakan pada kalian berdua selaku orang tuanya Kania."


" Apa yang Nenek ingin bicarakan?" tanya Bu Dewi.


" Saya selaku keluarganya Keenan satu-satunya ingin meminta Anak ibu untuk dijadikan menantu saya istrinya Keenan, jika ibu mengijinkan dan menerima pinangan saya yah, tepatnya lamaran pada Kania." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Ibu Dewi dan Pak Hamid terkejut dengan ucapan Nenek Maria, mereka tidak menyangka akan mendapatkan lamaran secepat itu.


Nenek Maria menunggu jawaban dari kedua orang tua Kania, di dalam hati Nenek Maria berdoa semoga lamaran dia ini diterima, Karena dia sudah merasa cocok dengan Kania dan dia juga merasa kalau cucunya itu sangat bahagia berdampingan dengan Kania, Kania wanita yang berbeda dari kekasih cucunya terdahulu, tidak ada suara di dalam ruangan tersebut, mereka terdiam semua, kedua orang tua Kania terdiam, mereka merasa tidak percaya akan mendapatkan surprise yang sangat membahagiakan mereka, saking bahagianya kedua orang tua Kania belum menjawab perkataan nenek Maria.


" Maaf Ibu dan bapak, kalau lamaran ini terlalu berkesan dengan cepat, karena saya tidak ingin Kania keburu diambil orang, saya sangat senang kalau Kania menikah dengan dokter Keenan mereka berdua sama sama saling mencintai, sama-sama saling menghargai, dan sama-sama saling mendukung, memang saya baru mengenal Kania satu hari, itu pun bukan seharian saya bersama dengan Kania, Tapi beberapa jam saja saya bersama dengan Kania, Saya sudah yakin kalau Kania dan dokter Keenan ini cucu saya akan bahagia, Maafkan saya kalau seandainya saya terlalu cepat untuk melamar Kania, apapun jawaban bapak dan ibu saya selaku keluarga satu-satunya cucu saya ini sangat menghargai keputusan dari bapak dan ibu." ucapnya lagi-lagi mereka terdiam, Yoga tersenyum, Begitu juga dengan Caca mereka berdua merasa bahagia akhirnya Kania bisa dipersunting oleh seorang dokter yang memang terlihat bersungguh-sungguh menyayangi Kania dan bukan hanya sesaat saja, tapi terlihat ingin selama-lamanya bersama dengan Kania.


" Bagaimana Kak? Apakah kakak menerima lamaran dari neneknya dokter Keenan? kalau aku pribadi menerima dan sangat setuju kalau Kania menikah dengan dokter Keenan, bukan karena profesi dia sebagai seorang dokter, tapi karena dia memang benar-benar menyayangi keponakanku itu." ucap Yoga membuat dokter Keenan tersenyum dan Kania pun terlihat malu-malu, Bu Dewi dan Pak Hamid tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


" Bukan saya tidak mau menerima, Tapi saya merasa terkejut rasanya ini bagaikan kejutan di pagi hari, karena pagi ini saya mendapatkan kabar yang sangat baik sekali untuk anak saya." ucap pak Hamid sembari tersenyum.


" Benar apa yang dikatakan suami saya Nek, karena saya juga setuju kalau Kania menikah dengan dokter Keenan." sambung Bu Dewi.


" Benarkah apa kata kalian berdua? Ya Tuhan saya bahagia sekali mendengarnya, ternyata keluarga Kania mau menerima kehadiran cucu saya Kenan ini, Ya Tuhan akhirnya cucu saya melenggang ke pernikahan juga, jadi sekarang ini kapan kita mengadakan acara pernikahannya?" lagi-lagi mereka terkejut dan membuat mereka tertawa pelan.


" Benar katamu Nak,Nenek memang sudah nggak sabar,di samping saya merasa senang karena lamaran ini sudah diterima oleh keluarganya Kania, saya juga ingin cepat-cepat menimang cicit." ucapnya menimbulkan semua yang di ruangan itu pun tertawa lagi tapi tidak keras karena mereka sadar ada di ruangan rumah sakit tersebut.


" Nagaimana kalau nanti setelah pak Hamid keluar dari rumah sakit, kita akan membicarakan kembali pernikahan mereka berdua, Saya yakin kalian juga mau cepat-cepat menimang cucu kan hehehe." ucap Nenek Maria sembari terkekeh membuat pak Hamid dan Bu Dewi terkekeh juga mendengar celotehan Nenek Maria yang terlihat sangat bahagia, dokter Keenan dan Kania pun merasa tersipu malu mereka hanya bisa saling tatap dan kemudian menundukkan kepalanya.


" Bagaimana dokter Keenan, Kania, Apakah kalian nanti setelah menikah memberikan Nenek cicit dan memberikan Om cucu secepat mungkin, sejujurnya Kak Dewi dan mas Hamid pasti juga tidak sabar ingin menimang cucu kan." goda Yoga sembari tertawa pelan.


" Kalau masalah cucu itu sebenarnya memang benar ingin cepat menimang cucu, tapi kembali lagi pada mereka berdua, Apakah mereka siap dengan secepatnya memberikan kita seorang cucu dan cicit." sambung pak Hamid sembari tertawa pelan.

__ADS_1


" Ayah apa-apaan sih, emangnya memberikan cucu itu kayak ngadon kue beli di pasar bahannya hari ini bikin malam nanti udah jadi." ucap Kania sembari tersenyum malu membuat dokter Keenan hanya tersenyum saja mendengar calon istrinya itu berbicara.


" Tenang Kania, calon suamimu itu seorang dokter, dia pasti akan mudah memberikan seorang cucu dan cicit dengan cepat bukan begitu Pak dokter?" ucap Yoga lagi sembari menggoda Kania dan dokter Keenan.


" Itu bisa diatur, tunggu tanggal mainnya aja hehehe." ucap dr Keenan sembari tertawa pelan membuat mereka yang ada di ruangan tersebut pun tertawa.


Kania hanya mendelik ke arah dokter Keenan, dokter Keenan lagi-lagi hanya bisa memberikan senyuman termanisnya untuk calon istrinya tersebut.


" Baiklah, kalau keputusannya seperti itu nanti setelah saya keluar dari rumah sakit, kita akan membicarakan kembali rencana kita untuk acara pernikahan kedua anak kita tersebut." Ucap pak Hamid tersenyum.


" Baiklah saya akan menunggu kabar bapak dan ibu keluar dari rumah sakit." sambung Nenek Maria.


" Sebenarnya saya ini ingin segera keluar dari rumah sakit, karena rasanya terlalu berat saya terus berada di ranjang rumah sakit ini,rasanya badan saya itu semakin sakit kalau saya tetap berdiam diri di sini, lagi menunggu kepastian dari Pak Dokter, kapan saya bisa keluar dari rumah sakit." ucapnya sembari menatap ke arah dokter Keenan yang sedang duduk tidak jauh dari pak Hamid tersebut.


" Hmmm...keadaan Bapak sebenarnya sudah berangsur-angsur sangat baik, kita lihat besok kalau seandainya besok sangat baik lagi,mungkin dua hari ke depan sudah keluar dari rumah sakit." ucap dokter Keenan.


" Wah! dua hari ke depan lagi sudah menuju pelaminan nih, hehehe." ucap Caca sembari terkekeh dianggukan mereka semua dan tersenyum, lalu Mereka kemudian melanjutkan bicara mereka dengan berbagai macam cerita.


Mereka yang sedang berbicara di dalam ruangan tersebut tidak menyadari kalau ada seorang wanita yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan muka marahnya dia pun mendengus dengan kesal dan meninggalkan ruangan tersebut, siapa lagi kalau bukan Dokter Melati.


" Aku tidak akan membiarkan Keenan menikah dengan Kania!" ucapnya sembari melangkah menuju ke ruangannya dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruangannya tersebut, sembari menyandarkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruangannya itu, ada rasa sedih, ada rasa tidak suka, dan ada rasa kecewa di hatinya serta rasa marah yang membludak menjadi satu di dalam kepalanya.

__ADS_1


Kemudian ponselnya berbunyi Dia pun melihat layar ponselnya siapa pemanggil dirinya itu ternyata Pak Fadil kepala Rumah Sakit tersebut.


" Ada apa orang tua ini memanggilku, apalagi yang akan dikatakannya padaku!" ucapnya sembari terus menatap layar ponselnya itu namun tidak menjawab panggilan dari Pak Fadil.


__ADS_2