
" Kania!" panggil dr Melati, Kania menoleh kearah suara, dia terkejut karena dr Melati memanggilnya dan berjalan mendekatinya.
" Aku ingin bicara dengan mu Kania sebentar."
" Bisa dok, tapi saya pinta bicaranya jangan dilantai Atap tapi disini saja." ucap Kania sembari tersenyum.
" Tidak Kania, jangan disini,tidak juga diatap."
" Dimana?"
" Ditaman samping."ucap dr Melati kemudian dianggukkan Kania mereka pun langsung berjalan menuju arah taman samping dimana Kania dan dr Keenan pernah bicara.
Mereka langsung duduk disamping tembok yang terlihat teduh, mereka berdua terdiam sesaat, kemudian Kania langsung bersuara.
" Apa yang ingin dokter bicarakan?"
Dr Melati menghela nafasnya dengan pelan dan menatap jauh kedepan.
" Apa yang ingin dia bicarakan ya, tapi terlihat dari wajahnya dia tidak menampakan wajah marahnya, ada sandiwara dan peran apa lagi yang dia mainkan?" pikir Kania.
" Kania, Sebelumnya aku minta maaf padamu atas apa yang pernah aku lakukan padamu waktu itu dilantai Atap."
" Hah? apakah ini tidak salah? seorang dr Melati yang terkenal keinginannya tidak boleh dibantah dan harus dituruti itu mengeluarkan kata maafnya padaku?" gumam Kania terlihat terkejut sekali mendengar kata Maaf yang keluar dari mulut seorang dr Melati.
Dr Melati tersenyum sesaat menatap Kania, lalu dia kembali menatap arah depan.
" Kamu pasti terkejut kan Kania, aku memang bersalah padamu kala itu, maafkan aku Kania, maukan kamu memaafkan ku."
Kania tersenyum sembari menatap dr Melati yang mengucapkan kata maaf tapi tidak menatapnya sama sekali.
" Iya dok, saya sudah memaafkan Anda jauh sebelum Anda meminta maaf pada saya." ucapnya.
Dr Melati tersenyum tapi tidak sama sekali menatap kearah Kania.
__ADS_1
" Aneh orang ini, meminta maaf tapi tidak sama sekali menatap kearahku, apakah kata maafnya itu tulus atau ada maksud lain dari kata maafnya itu?" gumam Kania seraya tetap menatap kearah dr Melati yang duduk disampingnya itu.
" Terimakasih Kania, tapi boleh aku minta tolong padamu."
" Tentang apa dok?"
" Bisakah kamu bujuk dr Keenan agar dia tidak pindah dari rumah sakit ini? Aku yakin kalau kamu yang mencegahnya dia pasti akan menurut dengan kata-kata kamu, tolonglah Kania demi aku." ucapnya kemudian menoleh kearah Kania.
Kania terkejut dengan ucapan dr Melati yang mengatakan Demi dia.
" Apa maksudnya demi dia?" lagi-lagi Kania bergumam.
" Maukan Kania? kamu membujuk dr Keenan untuk membatalkan pengunduran dirinya."
" Ternyata dr Keenan sudah mengungkapkan keinginannya untuk mengundurkan diri dari rumah sakit ini " gumamnya.
" Kania, kenapa kamu diam Kania?kamu bisakan mencegah dr Keenan agar dia tidak berhenti dari sini,Kami selalu bersama Kania, kami bersahabat sejak dulu, dia selalu menjaga ku dimana pun kami berada selalu bersama, dan satu lagi Kania aku pinta darimu."
" Aku Mohon padamu jauhilah dr Keenan, karena aku tidak bisa hidup tanpa dia, kamu pasti mengertikan bagaimana kalau seorang wanita sudah mencintai seorang laki-laki ia pasti akan berkorban demi cintanya itu, aku mohon padamu Kania jauhilah dok Keenan, karena aku sudah sangat mencintainya."
Kania lagi-lagi terkejut dengan ucapan dr Melati, dia tidak menyangka akan mendapatkan kata-kata yang lebih menyakitkan hatinya lagi tentang lelaki yang sangat dia cintai itu.
" Kania!" ucap dr Melati sembari menatap Kania dan memegang tangan Kania.
" Tolonglah aku, cegahlah dr Keenan untuk pergi dari sini, dan jauhilah dia Kania, kita sama-sama wanita yang punya perasaan tolonglah Kania?" ucapnya.
Kania merasakan kebingungan yang sangat dia tidak mengerti dia dihadapkan antara dua pilihan, antara mengatakan iya dan tidak.
Saat Kania hendak berbicara mereka berdua dikejutkan suara dr Keenan yang ada dibelakang mereka itu.
" Kania! jangan turuti kehendak dr Melati, karena ini sudah garis dari yang kuasa aku dan kamu bersatu." ucap dr Keenan sembari melangkah mendekati mereka, Kania dan dr Melati menatap kearah dr Keenan.
" Keenan..." ucap Dr Melati
__ADS_1
" Dr Keenan..." ucap Kania.
Mereka berdua langsung berdiri dari duduknya.
" Melati, sudah aku katakan padamu, aku menganggap kamu hanyalah teman biasa tidak lebih dari itu."
" Keenan, sejak kapan kamu berada disini."
" Sejak kamu dan Kania berjalan kesini, karena aku tidak percaya akan sikap kamu itu, kata maaf yang kamu lontarkan pada Kania itu hanyalah palsu belaka, tapi dibalik kata maaf itu kamu meminta lebih pada Kania, asal kamu tahu aku dan kania sudah resmi menjadi sepasang kekasih, aku harap kamu mengerti!" ucap dr Keenan sembari meraih tangan kania dan menggenggamnya erat.
" Ken...?" ucapnya rasa tidak percaya dia mendengar dari mulut dr Keenan sendiri,orang yang terlihat diam dan lugu itu ternyata sangat luar biasa.
" Mulai sekarang kamu tidak akan aku biarkan kamu menyakiti Kania, karena aku cape dengan tingkah kamu itu, dulu aku bersama Dira kamu juga yang selalu meneror Dira, aku cape Melati dengan sikap kamu seperti itu!!" ucap dr Keenan penuh dengan penekanan dalam ucapannya itu.
Dari kejauhan terlihat sepasang mata memperhatikan mereka, siapa lagi kalau bukan dr Joddy yang datang kerumah sakit Intan Bersinar hanya ingin bertemu dengan dr Keenan dan dr Melati.
" Apakah wanita itu yang diinginkan Keenan?" ucapnya seraya menatap kearah mereka bertiga, dr Joddy terus memperhatikan mereka.
" Ken, kenaoa kamu begitu berubah padaku? aku akui aku memang salah padamu Ken, tapi tidak seperti ini kamu membuatku sakit hati Ken, hanya karena wanita ini kamu tega membuat aku menderita, kamu memang keterlaluan Ken!!" ucapnya sembari langsung menghentakkan tubuhnya dikursi tersebut.
" Terserah! apa tanggapanmu, yang jelas aku sangat, sangat dan sangat lelah menghadapi sikap kamu itu!!" ucap dr Keenan.
Kemudian dr Keenan meninggalkan dr Melati yang duduk seorang diri ditaman itu, dia hanya bisa mengiringi langkah dr Keenan dan Kania yang meninggalkannya itu.
Dr Melati menutup matanya dengan kedua tangannya, tak terasa buliran bening menerobos kedua bola matanya itu.
" Menangislah jika dengan menangis itu kamu bisa merasa lega dan beban yang sekarang kamu hadapi itu bisa berkurang." ucap dr Joddy yang sudah berada disampingnya itu, dr Melati langsung merebahkan kepalanya dipundak dr Joddy, dan dr Joddy langsung memeluk dr Melati.
Dia meluapkan tangisnya didada sang dokter yang sudah lama naksir berat padanya, dr Joddy langsung membelai rambut dr Melati dengan penuh kasih sayang.
" Kenapa ini terjadi padaku Jod? apa salahku sehingga Keenan menjauhiku." ucapnya sembari memukul pelan dada dr Joddy, kemudian dr Joddy meraih tangan dr Melati dan menggenggamnya dia pun mencium pucuk kepala dr Melati dengan begitu mesranya, diapun tak ada suara sama sekali saat dr Melati protes tentang sikap dr Keenan padanya.
" Keenan tidak salah Mel, yang salah adalah kamu, kamu yang tidak bisa mengendalikan perasaan kamu." gumamnya sembari tetap membelai rambut dr Melati yang larut dalam tangisnya didadanya itu.
__ADS_1