Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#20 Mengungkapkan Isi Hati


__ADS_3

Setelah makan selesai, Agus pun kemudian berpamitan membawa mangkuk yang sudah kosong untuk mengembalikannya ke kantin rumah sakit itu, dokter Keenan pun kemudian berdiri menuju ke arah kursinya dan dia membuka layar laptopnya dia memperhatikan layar laptopnya itu kemudian dia melihat jam di tangannya sudah waktunya untuk pulang, karena dari kemarin dia tidak pulang ke rumah, setelah dia menanggalkan jas dokternya itu, dia pun kemudian mengambil kontak mobilnya dan jaket yang setiap hari menemani dia pulang pergi berangkat kerja itu, dia kemudian melangkah menuju ke arah mobilnya, Tapi sebelumnya dia sudah berpesan pada Agus untuk memberikan kabar bila terjadi apa-apa pada Kania, karena ulah dr Melati.


Tapi berbeda dengan dokter Melati, tidak pulang ke rumah dan dia masih berada di ruangannya, sebenarnya dokter Keenan tidak ingin pulang ke rumahnya, Tapi karena dia memikirkan nenek yang berada di rumahnya yang sangat sayang padanya, semenjak kecil dia memang tinggal bersama dengan neneknya, hanya neneknya lah tempat dia menceritakan segala masalahnya, sejak dia berusia 5 tahun dokter Keenan sudah kehilangan kedua orang tuanya, karena keuletan dan ketangguhan neneknya lah sehingga dia bisa menjadi dokter sekarang ini, dia pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya.


Sedangkan di ruangan pak Hamid, Caca tidak kembali lagi ke bank swasta tempat dia bekerja, karena hari itu cuma bekerja setengah hari saja, dikarenakan ada sesuatu dan lain hal menyebabkan Bank tempat dia bekerja harus beroperasi cuma sampai jam 12.00 siang saja,


Caca menemani Kania yang berada di ruangan sang Ayah, akhirnya Kania pun bercerita kepada Caca, kalau dia sudah diancam oleh dokter Melati, karena dia dikira memiliki hubungan dengan dokter Keenan, Caca mendengarkan cerita dari Kania dari awal sampai akhir, Kania menceritakan semuanya tidak ada satupun yang tertinggal sampai akhirnya selesai dia bercerita, mereka berdua berbicara tidak terlalu keras menghindari kalau Pak Hamid terganggu dengan suara mereka.


Mendengar cerita dari Kania Caca merasa marah.


" Aku akan menemui dokter Melati itu, biar aku jelaskan padanya sebenarnya, kamu dan dr Keenan itu tidak ada hubungan khusus."


" Nggak usah Ca, karena aku malas berurusan dengan dia, aku di sini hanya sekedar keluarga pasien, bukan bekerja di sini,Jadi mungkin beberapa hari Ayah sudah bisa keluar dari sini dan aku sudah terbebasnya dari rumah sakit ini." ucapnya sembari tersenyum dan memegang tangan Caca.


" Tapi ini tidak bisa dibiarkan Kania, kamu seakan-akan terinjak harga diri kamu ntar dia bilang ke orang lain kalau kamu itu sebagai pengganggu hubungan dia dengan dokter Keenan, belum tentu dokter Keenan memang menyukai dia, lagi pula dokter Kenan sepertinya menyukai kamu, bukan menyukai dia, buktinya dia aja mengatakan semua kejujurannya kepadamu, tentang berita yang beredar di rumah sakit ini, antara dia dan dokter Melati, kalau seorang lelaki yang sudah berkata jujur seperti itu berarti dia memang menyukai wanita itu, kamu adalah wanita yang disukai oleh dokter Keenan Kania."


Kania menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat masih seberat beban yang dia rasakan saat ini.


" Aku juga tidak tahu." Ucapnya pelan

__ADS_1


" sekarang aku bertanya denganmu, Apakah kamu memang menyukai dokter Keenan? atau kamu hanya sekedar suka biasa-biasa aja." ucap Caca sembari menatap ke arah Kania, dia menatap langsung ke manik bola mata Kania dia mencari kebenaran di mata Kania, kalau Kania sebenarnya juga menyukai dokter Keenan, Kania kemudian menundukkan wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan tersebut.


" Kania jujurlah padaku, kamu menyukai dokter Keenan kan? kamu yakin kan dengan apa yang dikatakan dokter Keenan, kalau dia dan dokter Melati itu tidak punya hubungan apa-apa dan dia bukanlah calon suami dari dokter Melati."


Tanpa sadar Kania mengangguk, Caca tersenyum, kemudian dia memeluk Kania sembari berbisik di telinga Kania.


" Kamu harus percaya dengan dokter Keenan, kalau dia berkata jujur itu adalah kenyataan, jangan ragukan kata-kata dr Kenan, karena aku yakin kamu pasti akan bahagia dengan dokter Keenan." ucapnya sembari melepaskan pelukannya dan menyentuh pipi sahabatnya itu, sambil menangkupkan kedua tangannya di pipinya Kania.


" Kania senyum dong, jangan sedih, buktikan kepada dokter Melati kalau wajah kamu ini tidak menyimpan rasa kesedihan dan biasa-biasa saja di hadapan dia dan kamu juga tidak merasa kalau dia itu sudah mengancam kamu dengan kata-katanya." ucap Caca dianggukan Kania sembari tersenyum kemudian pintu ruangan itu terbuka mereka berdua menatap ke arah pintu ruangan itu, terlihatlah Om Yoga dan ibu Dewi datang, Kania terkejut karena melihat ibunya datang ke rumah sakit, padahal Om Yoga sudah mengirimkan chat pribadi pada Kania, kalau kesehatan ibunya Kania sedikit tidak baik, Kania berdiri dan menghampiri ibunya.


" Ibu kenapa ke rumah sakit, ibu kan tidak enak badan.?"


" Tadi pagi iya, Ibu memang tidak enak badan, Tapi sekarang sudah mendingan, Ibu mau melihat Ayah kamu, Ibu tidak bisa rasanya kalau tidak melihat Ayah kamu, karena setiap hari Ayah kamu selalu menemani Ibu, Di saat dia sakit ibu mau menemani Ayah kamu di sini." ucap ibu Dewi sembari tersenyum melangkah menuju ke arah sang suami yang tersenyum melihat sang istri datang, kemudian ibunya pun duduk di samping ranjang tidur suaminya itu sembari berbicara dengan pak Hamid.


" Kalian berdua kalau memang ada yang ingin dibicarakan silakan kalian bicara di luar ruangan ini, di samping rumah sakit ini ada taman bunga yang indah dan ada berbagai macam kursi di sana, silakan kalian duduk di sana dan menyelesaikan masalah hati kalian, karena aku sudah nggak sanggup melihat kalian yang selalu bertanya tentang kalian berdua jika aku berada sama Caca, Caca selalu bertanya tentang Om Yoga, bila aku berada dengan Om Yoga, Om Yoga selalu bertanya tentang Caca, lebih baik sekarang kalian selesaikan berdua mumpung ada waktu kalian bersama hari ini." ucapkannya panjang lebar dengan senyuman mengembang.


Kemudian Caca pun tersenyum tanpa pikir panjang lagi Yoga langsung berjalan mendekati Caca dan meraih tangannya Caca, mereka berdua keluar dari ruangan Pak Hamid menuju ke arah yang sudah diberitahu oleh Kania.


Saat Kania ingin mendekati sang ibu terlihat pintu terbuka kembali mereka menoleh ke arah pintu, Agus tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Maaf Mbak Kania, bisa bicara sebentar di luar." ucapnya.


Kania pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Agus keluar ruangan, kemudian Kania menutup pintu ruangan Ayahnya itu, mereka berdua berdiri di depan pintu, Kemudian Agus pun menyerahkan ponselnya pada Kania, Kania menatap ke arahnya.


" Ada apa ini Mas Agus?"


" Ini Mbak Kania, Ada telepon dari dokter Keenan, dia ingin bicara dengan Mbak Kania." ucapnya sembari menatap ke arah Kania Kania pun kemudian mengambil ponsel yang ada di tangannya Agus dan menjawab panggilan dokter Keenan itu.


Agus kemudian meninggalkan Kania yang sedang berbicara dengan dokter Keenan melalui ponsel pribadinya.


" Iya dok ada apa?"


" Kania, Maafkan saya, berbicara melalui ponsel pribadinya Agus, karena saat ini saya berada di rumah bisakah kita bicara empat mata malam ini.?"


Kania tidak menjawab Dia hanya diam


" Kania, Ada yang ingin saya bicarakan denganmu."


" Baiklah dok, di mana kita bertemunya.?"

__ADS_1


" Nanti saya akan menjemput kamu di rumah sakit." ucapnya Kania mengangguk Kemudian mereka pun menyudahi pembicaraan tersebut, Kania menoleh ke arah Agus yang berada di meja penjagaan, dia pun kemudian mendekati Agus dan memberikan kembali ponsel pribadinya itu sembari mengucapkan terima kasih pada Agus


Agus menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Kania melangkah meninggalkan Agus menuju ke arah ruangan Ayahnya lagi


__ADS_2