
Dokter Melati melangkah menuju ke arah pintu sebelum dr Melati sampai ke pintu itu, Agus dan perawat Ani pun bergegas turun ke arah tangga yang tidak terlihat oleh dokter Melati, merasa tidak ada orang sama sekali dokter Melati pun kemudian berbalik arah menemui Kania seraya menunjuk dengan jarinya, Dia berkata dengan lantangnya serta emosi yang terlihat di wajahnya
" Aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan sekali-kali lagi kamu mendekati dokter Keenan, Karena sekarang sudah aku katakan padamu, kalau dokter Keenan itu adalah calon suamiku, mulai detik ini aku akan memegang ucapanmu kalau kamu dan dia tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas keluarga pasien dan dokter saja, ingat itu!" ucapnya sembari meninggalkan Kania yang berada di atas atap seorang diri, dokter Melati pun kemudian melangkah satu persatu menuruni anak tangga tersebut menuju ke lantai utama, Agus dan perawat Ani terengah-engah berada di meja penjagaan, karena mereka berlari dengan kuat menuju ke lantai utama, sebelum Hesty bertanya pada kedua teman kerjanya itu, karena merasa heran dengan mereka yang ngos-ngosan itu, Namun keburu kedatangan dokter Melati yang mendekati meja penjagaan, mereka berdua mengatur nafasnya seakan-akan mereka tidak berlari dengan kuat,dan tidak mengetahui pembicaraan dr Melati dan Kania.
" Mana buku keterangan pasien yang ada di bawah pengawasan saya?" tanyanya dengan perawat Hesty, dia pun kemudian menyerahkan buku tersebut, tanpa asistennya karena asistennya sudah tidak masuk beberapa hari karena ada keperluan mendadak yang mengharuskan asistennya itu pergi keluar kota, dokter Melati melangkah menuju ke arah ruangan di mana pasien yang harus diperiksa kondisi tentang kesehatan dan kemajuan pasien di bawah tanggung jawabnya, tidak sedikitpun dia menatap ke arah perawat Ani ataupun perawat Agus.
" Sebenarnya ada apa dengan kalian? kenapa kalian pada ngos-ngosan seperti itu, memang ada masalah apa? apa yang kalian lihat?" tanya perawat Hesty.
Agus dan perawat Ani saling berpandangan kemudian mereka mengurut dada mereka masing-masing.
" Syukurlah kita selamat, kalau seandainya saat itu kita ketahuan mengintip pembicaraan dokter Melati dan wanita itu, pasti kita tidak akan pernah berada di sini lagi." ucap perawat Ani, dianggukan oleh Agus, setelah rasa gugup yang Agus rasakan hilang, dia pun berbicara.
" Kamu tanyakan saja sama Ani." Ucapnya, dia pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan dokter Keenan, Dia mengetuk pintu tersebut terdengar suara dokter Keenan di dalam menyuruhnya masuk, saat pintu terbuka Agus masuk menengok kiri dan kanan kemudian menutup pintu kembali dan menguncinya dari dalam membuat dokter Keenan heran dengan kelakuan Agus, dia menatap lekat Agus.
Agus pun melangkah mendekati dokter Keenan dan duduk di depan dokter Keenan yang sedang duduk di kursi kerjanya itu.
__ADS_1
" Maaf dok, Ada yang ingin saya bicarakan sama dokter, ini penting sekali ini menyangkut wanita yang berada di ruangan Anggrek." ucap Agus
" Maksud Kamu Kania? memang ada apa? lagi pula kenapa kamu menutup pintu ruanganku dan dikunci, memang ada apa sebenarnya.?"
" Iya Mbak Kania dok, dr Melati menemui wanita itu dan membawanya ke lantai atap, jangan dipotong dulu dok saya mau menceritakan semuanya kepada dokter." Ucapnya, dan dokter Keenan pun sembari mengganggukan kepalanya.
" Dokter Melati berbicara dengan Mbak Kania yang kami dengar Dia mengancam Mbak Kania, agar tidak mendekati dokter Keenan lagi, dan dia mengatakan juga kalau dokter itu adalah calon suaminya, kalau seandainya Mbak Kania tetap mendekati dokter Keenan dia akan berbuat lebih dari itu." ucap Agus.
" Maksud kamu? dokter Melati mengajak Kania berbicara di lantai atap? Dan Dia mengancam juga, kamu bicara tadi 'kami' maksudnya kamu bersama siapa mendengarkan pembicaraan mereka berdua?" Tanya Dokter Keenan, merasa tidak menyangka kelakuan dokter Melati seperti itu, hanya karena ambisinya dia mampu mengalahkan semua sifat baiknya.
" Saya bersama dengan perawat Ani, sebenarnya saya tidak melihat awalnya dr Melati mengajak Mbak Kania, tapi atas keterangan perawat Ani lah, Jadi kami berdua menuju ke lantai atap."
" Apakah dr Melati sudah turun dari lantai Atap?"
" Sudah Dok.."
__ADS_1
" Baiklah, Sekarang waktunya kita melihat kondisi pasien yang di bawah tanggung jawab saya, lupakan sejenak urusan mereka." ucapnya sembari mengajak Agus melangkah meninggalkan ruangannya, Agus mengikuti dari belakang setelah melewati meja penjagaan, Agus pun mengambil catatan keterangan seluruh pasien yang ada di bawah tanggung jawab dokter Keenan, mereka berdua melangkah menuju ruangan pasien untuk melihat perkembangan kesehatan mereka, saat melewati ruangan dokter Melati dokter Keenan pun membuka pintu ruangan tersebut, ternyata dokter Melati tidak ada di ruangannya, handphone yang selalu dibawanya kemana-mana dan tidak pernah tertinggal sama sekalipun sekarang berada di atas mejanya tersebut.
" Dr Melati baru aja memeriksa pasien yang ada di bawah tanggung jawabnya dok." terang Agus, dia pun menganggukkan kepalanya kemudian dia melanjutkan langkahnya sampailah di ruangan Pak Hamid, dr Keenan membuka pelan pintu ruangan tersebut, dia melihat pak Hamid tersenyum dengannya dan dr Keenan pun mendekati Pak Hamid sembari membalas senyumnya Pak Hamid.
" Selamat pagi Pak, bagaimana keadaannya sekarang?Agak enakan?" tanyanya sembari memeriksa kaki pak Hamid pasca operasi itu dan beberapa luka-luka yang berada di tubuhnya karena kecelakaan yang dialami pak Hamid, setelah selesai dan mengatakan kepada Agus agar segera mencatat kondisi pak Hamid yang sudah berangsur-angsur membaik itu, mata dokter Keenan menyapu seluruh ruangan itu, dia hanya melihat nasi bungkus yang belum habis dimakan oleh Kania, masih berada di tempatnya itu, dan dia pun tidak melihat sosok Kania di dalam ruangan Ayahnya itu.
Dokter Keenan pun memberanikan diri bertanya dengan pak Hamid tentang keberadaan Kania.
" Maaf Pak, dimana Putri bapak, kenapa tidak terlihat di ruangan ini?"
" Tadi anak saya diajak sama seorang dokter wanita berbicara di luar, mungkin pembicaraan tentang kesehatan saya, jadi mereka berdua berbicaranya di luar tidak di dalam ruangan ini, tapi sampai sekarang anak saya belum juga kembali, mungkin saja dokter itu menjelaskan terlalu panjang sama anak saya." ucap polos pak Hamid karena dia tidak mengetahui kalau sebenarnya Kania diajak dokter Melati berbicara bukan masalah kesehatannya tapi melainkan masalah percintaannya yang ditolak oleh dokter Keenan dan membuat dokter Melati marah karena melihat Kania dekat dengan dokter Keenan.
Dokter Keenan menganggukkan kepalanya, padahal pikirannya berkecamuk dia mengingat ucapan dari Agus kalau dokter Melati sudah jalan-jalan ke seluruh ruangan melihat kondisi pasiennya yang berada di bawah tanggung jawabnya itu.
" Seharusnya Kania sudah berada di ruangan ini, Tapi saat ini dia tidak ada kemana Kania? apakah dia berada masih di atas lantai atap ?" gumam batinnya sembari menatap ke arah Agus, Agus yang ditatap pun tidak memahami tatapan dokternya itu.
__ADS_1
" Baiklah Pak, saya permisi dulu jaga kesehatan Bapak, biar cepat sehat dan jangan lupa minum obatnya, jangan terlambat ya." ucapnya sembari memberi semangat pada Pak Hamid, pak Hamid hanya tersenyum dia menganggukkan kepalanya, lalu dokter Keenan dan Agus meninggalkan ruangan pak Hamid dan menutup rapat pintu ruangan tersebut, di depan ruangan itu dia tidak langsung melangkah tapi langsung menanyakan pada Agus.
" Benarkah apa katamu Gus? kalau dokter Melati sudah berada di ruangan-ruangan pasiennya? kalau dokter Melati sudah berada di ruangan pasiennya, kenapa saat ini Kania tidak berada di ruangan Ayahnya atau jangan-jangan...." pikiran dokter Keenan pun mulai tidak menentu, dia pun langsung melangkah dengan cepat setengah berlari menuju ke arah pintu tangga belakang yang menghubungkan lantai atap dan lantai utama, dia Terus berlari menaiki tangga tersebut dia tidak sama sekali merasa kelelahan dengan menaiki satu persatu anak tangga yang menghubungkan ke lantai atap itu, padahal bangunan rumah sakit itu mempunyai lantai 5 namun dia tidak menghiraukan kelelahan kakinya dia terus berlari sampai menemukan pintu utama lantai atap.